fisik@net (ISSN 2086-5325) http://www.fisikanet.lipi.go.id

Fisikawan yang Rendah Hati
Tjandra Dewi

Sosok Makoto Kobayashi sangatlah berarti bagi LT Handoko, peneliti pada Pusat Penelitian Fisika di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Serpong. "Dia sangat bersahabat dan low profile," kata Handoko tentang host professor-nya itu kemarin.

Handoko memang pernah menimba ilmu tentang simetri yang rusak secara langsung dari Kobayashi, salah satu pemenang Hadiah Nobel Fisika 2008. Handoko, yang sejak 1995 sampai 2003 mendalami teori penting dalam fisika partikel itu, mendapat kesempatan belajar di bawah bimbingan Makoto di KEK selama dua tahun.

Handoko bercerita, Makoto dan rekannya--Toshihide Maskawa--memprediksi bahwa setidaknya ada tiga famili quark baru selain tiga quark yang telah diketahui. "Mereka juga memprediksi apa yang akan terjadi bila ada enam quark, yaitu rusaknya simetri," kata Handoko. "Prediksi kerusakan simetri itu akhirnya terbukti dalam eksperimen yang dilakukan pada 1998-2002."

Handoko mengakui rusaknya simetri memang agak sulit dipahami oleh orang awam, meskipun teori itu menjelaskan aneka interaksi di alam semesta. "Manusia memang tidak merasakan apakah dunia yang kita tempati ini simetri atau tidak, tapi ketidakseimbangan akibat rusaknya simetri itulah yang membuat segala sesuatu bergerak," kata Handoko. "Ketidakseimbangan itulah yang membuat alam selalu berubah dan mengalir."

Rusaknya simetri juga menjelaskan bagaimana alam semesta terbentuk ketika Big Bang terjadi hampir 14 miliar tahun lalu, di mana antimateri tercipta hampir sebanyak materi.

"Ini seperti ada elektron yang bermuatan negatif, maka ada positron yang sifatnya sama dengan elektron tapi muatannya positif," ujarnya. "Di alam semesta semestinya juga sama, ada keseimbangan antara materi dan antimateri. Tapi ternyata materi lebih banyak, sehingga hal itu menjelaskan bahwa segala sesuatu tidak perlu seimbang."

Sumber : Koran Tempo (9 Oktober 2008)


revisi terakhir : 9 Oktober 2008