fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 22 November 2019  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Forum informasi berita :

pengumuman berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    Mimpi Nobel di Empat Universitas Negeri
    Oleh : P Bambang Wisudo
    Minggu, 26 September 2004 (08:13 WIB) dari IP 202.153.239.117

    Kompas (25/09/2004)

    TANYAKAN kepada para mahasiswa di perguruan tinggi paling top di Indonesia, adakah di antara mereka yang mempunyai mimpi menjadi seorang pemenang Nobel? Ketika pertanyaan tersebut ditanyakan kepada sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung, tidak ada jawaban mantap dan meyakinkan.

    PERTANYAAN itu mungkin tidak relevan ditanyakan di tengah hegemoni budaya konsumeristis dalam masyarakat urban di Tanah Air dan di tengah pragmatisme pendidikan tinggi di Indonesia. Pertanyaan itu tidak relevan ketika kultur akademik menjadi suatu barang langka, bahkan di universitas- universitas yang paling bergengsi di Tanah Air.



    Dwi Sawung, mahasiswa Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), merisaukan menghilangnya kultur akademik yang terjadi di kampusnya. Gairah belajar makin luntur. Andai kata belajar, sebagian besar di antaranya belajar sekadar untuk memperoleh nilai "A" dan agar bisa menyelesaikan kuliah pada waktunya. Eksplorasi untuk mendalami ilmu dan sains, apalagi ilmu-ilmu humaniora, jarang dilakukan di kalangan mahasiswa ITB sekarang. Bangunan student center, tempat mahasiswa ITB berinteraksi antarilmu, telah rata dengan tanah. Buku-buku humaniora rusak dan menghilang dari Perpustakaan Pusat ITB.

    "Kami sangat kehilangan dengan digusurnya student center. Ruang publik, tempat dialog antarilmu, yang menjadi sebuah ciri universitas telah hilang," kata Sawung, Presiden Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB.

    Kegelisahan Sawung merupakan kegelisahan sejumlah kecil mahasiswa dan dosen di empat perguruan tinggi negeri papan atas di Indonesia, yaitu ITB, Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Pertanyaan "mimpi menjadi seorang pemenang Nobel" akan makin tidak relevan ketika ditanyakan kepada mahasiswa yang belajar di universitas-universitas negeri di pelosok atau perguruan-perguruan tinggi swasta yang megap-megap untuk memenuhi syarat minimal akreditasi sekalipun.

    Masih untung bila perguruan tinggi bisa mengantarkan mahasiswanya untuk mengisi kebutuhan lapisan profesional andal dalam pasar kerja. Padahal, perguruan tinggi tidak cukup menjalankan fungsi memproduksi kaum profesional semata. Menurut peneliti pengamat pendidikan Dr Mochtar Buchori, perguruan tinggi mesti bisa menghasilkan ilmuwan alpha dan alpha-pus, profesional yang andal, dan perguruan tinggi yang mampu mendukung masyarakat melek huruf dalam arti luas. Pendapat itu mengacu kepada ilmuwan Universitas Cambridge, Charles Percy Snow, yang mengatakan bahwa suatu masyarakat akan mengalami kemajuan apabila para tenaga ahlinya di lapisan puncak tidak bekerja sendirian tetapi didukung oleh kelompok ahli pada taraf di bawahnya serta masyarakat yang "melek huruf".

    Universitas yang menjadi pusat keunggulan tidak hanya dituntut menghasilkan para profesional, tetapi juga ilmuwan sekaliber Habibie dan para calon pemenang Nobel. Itu yang terjadi di universitas- universitas di Jepang, Korea Selatan, maupun negara miskin, seperti India, yang mengalami kemajuan pesat dalam sains dan teknologi. Tidak heran pula bila lembaga-lembaga pendidikan di Singapura dengan antusias mengundang anak-anak terbaik dari negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk belajar di Singapura dengan dukungan beasiswa.

    Snow dalam bukunya yang terkenal, The Two Cultures, juga menyatakan kerisauannya terhadap para ahli fisika, yang tidak membaca karya Shakespeare, dan para ahli ilmu sosial, yang tidak mengerti sains yang paling dasar sekalipun. Universitas Cambridge merupakan perwujudan sebuah universitas yang ideal. Para mahasiswa belajar bidang ilmunya di universitas, tetapi mereka tinggal di kolese-kolese yang didampingi sejumlah dosen. Di kolese-kolese itu mereka secara intensif berinteraksi antardisiplin ilmu, mendiskusikan sastra, ilmu-ilmu humaniora, dan masalah kemasyarakatan lainnya.

    "Mahasiswa sains dan teknologi tidak terasing dari persoalan-persoalan kemasyarakatan dan ilmu-ilmu lainnya. Dialog informal intensif terjadi di kolese-kolese. Saya pernah mendiskusikan film Shadow Play, film dokumenter tentang peristiwa Gerakan 30 September di kolese tempat saya tinggal," kata Budiman Sudjatmiko, aktivis Partai Rakyat Demokratik, yang baru saja menyelesaikan studi master di bidang Hubungan Internasional dari Universitas Cambridge.

    SEJUMLAH persoalan dasar masih dihadapi empat perguruan tinggi negeri papan atas di Indonesia yang menyandang status sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN) dan menyatakan diri akan menjadi universitas riset pada tahun 2010. Dalam status BHMN, perguruan tinggi negeri dituntut bisa menopang kebutuhan finansialnya sendiri dengan tidak semata-mata menggantungkan dana dari pemerintah. Dalam cetak birunya, sepertiga anggaran perguruan tinggi negeri itu akan berasal dari jasa yang dihasilkan, sepertiga dari pemerintah berupa block grant, dan sepertiga lainnya dibebankan kepada mahasiswa.

    ITB, seperti dikemukakan oleh Wakil Rektor Bidang Keuangan Ali Basyah Siregar, dalam tiga tahun terakhir berhasil meningkatkan pendapatan dari komunitas riset lebih dua kali lipat menjadi sekitar Rp 100 miliar. Pendapatan itu memberikan kontribusi sepertiga dari budget ITB 2004, yang totalnya sebesar Rp 309 miliar. Akan tetapi, menurut Ali Basyah, dana dari jasa itu harus hati-hati untuk didorong lebih lanjut karena bisa mengakibatkan pelayanan pendidikan menurun.

    Lonjakan jumlah biaya yang dipungut perguruan tinggi negeri dari mahasiswa menjadi problematik dalam pengembangan perguruan tinggi negeri sebagai pusat keunggulan. Di UI, sumbangan uang masuk untuk mahasiswa baru dipatok antara Rp 5 juta sampai Rp 25 juta. Perguruan tinggi negeri yang berstatus BHMN juga menyelenggarakan perekrutan mahasiswa baru lewat jalur khusus dengan embel-embel biaya tambahan yang mencapai puluhan juta rupiah. Di ITB, mahasiswa jalur Ujian Saringan Masuk (USM) Terpadu dan program kerja sama dengan pemerintah daerah dikenai tarif masuk Rp 45 juta.

    Perekrutan jalur khusus yang diberlakukan sejumlah perguruan tinggi negeri, dengan segala alasan pembenarnya, sulit diterima karena motivasi awalnya adalah mendongkrak penerimaan uang universitas. Sebuah universitas dapat menjadi pusat keunggulan tak hanya proses pendidikannya yang berjalan baik, tetapi juga mahasiswa yang masuk merupakan lapisan masyarakat yang memiliki kemampuan intelektual terbaik.

    Persoalan perekrutan mahasiswa jalur khusus dengan embel-embel uang itu hanya puncak gunung es problem keempat perguruan tinggi negeri paling top di Tanah Air itu. Tingkat kesejahteraan staf pengajar yang tak kompetitif, ketersediaan laboratorium, buku-buku, dan jurnal ilmiah secara memadai, serta akses internet berkecepatan tinggi yang disediakan cuma-cuma merupakan keharusan untuk saat ini. Apalagi bagi sebuah universitas riset. Sebuah universitas riset hanya akan menjadi angan-angan apabila para dosennya disibukkan dengan urusan-urusan di luar kampus, sekadar untuk menambah penghasilan.

    Satu-satunya perguruan tinggi negeri yang sudah memadai dalam menyediakan akses internet kepada dosen dan mahasiswanya baru ITB. Ketersediaan komputer dengan akses internet berkecepatan tinggi di ITB untuk mahasiswa telah mencapai satu berbanding sepuluh. Dalam penyediaan akses internet, ITB akan melangkah lebih jauh dengan menyediakan akses internet nirkabel di seluruh areal kampus. Namun, ketersediaan akses internet saja belum memadai. Karena, agar bisa berkompetisi dalam pasar kerja global, lulusannya harus menguasai kemampuan komunikasi berbahasa Inggris. Bukan hanya pasif, tetapi juga aktif, bukan hanya bisa menyampaikannya dalam simbol-simbol sains dan matematis, tetapi juga dalam bentuk esai dan lisan.

    Akan tetapi, di ITB ketersediaan jurnal dan buku-buku di perpustakaan masih menjadi masalah. Sekalipun telah menyediakan katalog elektronik, Perpustakaan Pusat ITB masih bermasalah. Fadjroel Rachman, alumnus Departemen Kimia ITB, menyatakan keterkejutannya ketika mengunjungi Perpustakaan ITB baru-baru ini dan menemukan buku yang teronggok bertumpuk- tumpuk di lantai empat. Proses pembenahan memang sedang dilakukan, seperti rencana menghubungkan perpustakaan pusat dengan perpustakaan di departemen-departemen dengan intranet. Pembantu Rektor Bidang Akademik ITB Adang Surahman mengatakan, tahun ini ITB meningkatkan budget untuk perpustakaan dari Rp 300 juta menjadi Rp 2 miliar.

    MAU tak mau, ketika sebuah universitas menginginkan dirinya menjadi universitas riset dan mampu menghasilkan ilmuwan alpha dan alpha-plus atau para calon pemenang Nobel, kultur akademik di kalangan staf pengajarnya mesti tumbuh subur. Aktivitas riset dan kontribusi staf akademik dalam jurnal- jurnal internasional menjadi penting. Di Indonesia budaya menulis di jurnal ilmiah masih langka. Menurut data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, baru sekitar 0,012 persen dosen yang berhasil meloloskan karyanya dalam jurnal internasional. Baik di ITB, IPB, UI, maupun UGM kegiatan staf mengajar menulis di jurnal-jurnal ilmiah masih langka.

    Jangankan menulis di jurnal ilmiah. Di UGM, seperti jujur dikemukakan oleh staf pengajar ekonomi Revrisond Baswir, bicara soal mutu pun tidak relevan. Wajar bila mimpi menjadi pemenang Nobel sulit ditemukan di Indonesia.

    Realitas yang buram dalam dunia perguruan tinggi di Indonesia sepatutnya menyadarkan pemerintah agar bukannya menitikberatkan pemotongan subsidi ke perguruan-perguruan tinggi negeri, tetapi justru menambah anggarannya untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat keunggulan dalam dunia pendidikan di Tanah Air.


    Re: Mimpi Nobel di Empat Universitas Negeri
    Oleh : Suharyo Sumowidagdo
    Rabu, 27 April 2005 (00:55 WIB) dari IP 131.225.39.116

    Ivan, yang ketinggalan zaman itu pertama2 bukan alatnya, tetapi mentalnya.

    Orang kita kurang sekali mental berpikir kritis yang merupakan tulang punggung penelitian. Kerja keras sudah ada, tetapi kerja kerasnya tidak diarahkan ke penelitian.
    Entah mengajar, bisnis, proyek, dll.

    Dan saya tidak setuju kalau dibilang uang menjadi masalah. Di Indonesia juga ada grup2 riset yang bisa memberikan hasil, berarti kan uangnya ada.

    Jadi masalahnya adalah manajemen, kultur, dan SDM. Masalah SDM ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyekolahkan sebanyak mungkin orang Indonesia menjadi doktor. Yang vital itu bukan gelar doktornya, melainkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menciptakan ide2 penelitian baru. Gelar doktor hanya merupakan syarat kecil dari keseluruhan proses membentuk kemampuan2 tsb.

    Saya memikirkan sebuah proses jangka panjang yang meliputi
    1) Pendidikan warga Indonesia untuk meraih gelar doktor.
    2) Pembinaan pasca doktoral bagi mereka yang telah lulus doktor.
    3) Koordinasi antara kegiatan riset peneliti Indonesia di Indonesia dan peneliti Indonesia di luar negeri untuk memacu kegiatan penelitian di dalam negeri.
    4) Pengadaan peluang bagi mereka2 yang masih di LN namun berniat pulang dalam waktu dekat, untuk mempersiapkan hal2 yang dibutuhkan di Indonesia untuk melakukan penelitian.


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2019 LIPI