fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 22 November 2019  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Forum informasi berita :

pengumuman berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    Olimpiade Sains Junior I di Indonesia
    Oleh : Aneka Media
    Minggu, 25 Juli 2004 (17:54 WIB) dari IP 61.94.120.48

    Jawa Pos (17 Juli 2004)
    http://www.jawapos.com

    Tuan Rumah Olimpiade Sains Junior

    SUDIRMAN - Untuk kali pertama Indonesia mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan Olimpiade Sains Internasional tingkat SMP (IJSO - International Junior Science Olympic). Menurut rencana, acara tersebut akan diselenggarakan di Hotel Horison, Jakarta, 5 - 14 Desember mendatRepublika (17 Juli 2004)
    http://www.republika.co.id

    Indonesia Tuan Rumah Olimpiade Sains Junior

    bur

    JAKARTA-- Sebanyak 17 negara menyatakan akan ikut. Indonesia berinsiatif menyelenggarakan olimpiade sains intenasional tingkat SMP atau /International Junior Science Olympiad (IJSO). Kegiatan internasional ini diadakan atas kerja sama Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Himpunan Fisika Indonesia (HFI).

    Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Indra Djati Sidi menjelaskan, ide ini muncul dalam rangka pembinaan berkelanjutan terhadap para siswa. ''Sekalian untuk mempersiapkan olimpiade sejenis di tingkat SMA," katanya di Jakarta, Jumat (16/7).

    ''Selain pembinaan berkelanjutan, penyelenggaraan IJSO juga untuk meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran sains, seperti matematika, kimia, biologi.'' IJSO, kata dia, direncanakan berlangsung 5-14 Desember 2004. Sebanyak 17 negara sudah menyatakan kesediaan untuk ikut. Di antaranya Bolivia, Jepang, Korea, China, dan negara-negara ASEAN. Setiap negara peserta diwakili enam siswa. Khusus untuk Indonesia sebagai penyelenggara, dibolehkan mengirim 12 orang. Masing-masing tim didampingi dua orang team leader.

    Menurut Direktur Pendidikan Lanjutan Pertama, Depdiknas, Hamid Muhammad, kini sudah ada 12 siswa yang dipersiapkan mengikuti olimpiade tersebut. Mereka merupakan hasil seleksi yang dilakukan sejak Februari 2004. Seleksi awal dilakukan di 30 provinsi atau 150 kabupaten/kota. Setiap kabupaten menyertakan 100 siswa terbaik mereka sehingga semuanya sebanyak 15 ribu orang.

    Seleksi dilakukan di masing-masing kabupaten/kota, tapi pemeriksaan haasil dilakukan dengan sistem komputer di Pusat Pembinaan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), Karawaci, Provinsi Banten. Dari 15 ribu siswa tersebut, terpilih 30 besar. Mereka dipanggil ke Jakarta untuk mendapat pembinaan sejak 18 Maret hingga 14 April 2004. Dari 30 siswa itulah kemudian tersaring 12 orang untuk mewakil Indonesia dalam IJSO.

    Ke-12 siswa tersebut kini masih mendapat pembinaan hingga bulan November 2004. Mereka adalah Achmad Furqon (SMP Bina Insan, Bogor, Jawa Barat), Andika Afriansyah (SMP Nusantara, Makassar, Sulsel) Aziz Adi Suyono (SMP 9 Cilacap, Jawa Tengah), Caroline Jessica (SMP Xaverius, Palembang), Dewi Kusumawati (SMP I Seputih Surabaya, Lampung), Diptarama (SMP 252 DKI Jakarta), Fransiska Putri Wira H (YPJ Kuala Kencana, Mimika, Papua), Petrus Yesaya Samori (SMP II Jayapura, Papua), Ria Ayu Dyah Pramudita (MTsN Malang I, Malang), Stephanie Senna (SMP IPEKA Tomang, DKI Jakarta), Wayan Wicak Ananduta (SMP I Bekasi, Jabar), dan Wilian (SMP Sutomo I Medan).

    Menurut Ketua IJSO I, Masno Ginting, lomba ini akan dibagi menjadi tiga bagian: test competition, theoretical competition, dan experimental competition. Setiap peserta wajib mengikuti ketiga tes tersebut. Test competition dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan dasar fisika, kimia, dan biologi. Theoretical untuk mengetahui kemampuan pemecahan soal teori gabungan dari fisika, kimia dan biologi. Experimental competition untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal eksperimen gabungan antara dua atau tiga mata pelajaran tersebut.

    Sistem penilaian yang disepakati oleh dewan juri berdasarkan nilai standar atau rata-rata nilai tertinggi dari tiga peserta. Bagi siswa yang mendapat akumulasi nilai antara 90-100 persen dari nilai standar akan meneirma medali emas, 78-89 persen medali perak, dan 65-77 persen mendapat medali perunggu. Siswa yang hanya berhasil meraih nilai antara 50-64 persen akan diberi predikat honorable mention. Di bawah 50 persen akan mendapat sertifikat sudah turut berpartisipasi.

    Depdiknas, kata Hamid Muhammad, sedang mengupayakan pemberian hadiah yang layak bagi para siswa Indonesia yang berhasil meraih prestasi di ajang IJSO. ''Sedang dipikirkan untuk memberikan berupa beasiswa atau asuransi pendidikan,'' tuturnya.

    Ini merupakan buah hasil dari keikutsertaan dan kemenangan tim pelajar Indonesia terhadap lomba-lomba sains pelajar internasional di tahun ini.

    Misalnya, ketika tercatat pada International Young Physicist Tournament (IYPT) di Brisbane, Australia, yang menempatkan Indonesia meraih emas dengan urutan ke-5. Selain itu, olimpiade fisika antarpelajar Asia 2003 Indonesia juga meraih medali emas, dengan menempati ranking pertama.

    Menurut Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Indra Jati Sidi, untuk mempromosikan dan mensosialisasikan kegiatan IJSO I di luar negeri, Indonesia pada bulan ini kembali mengirim delegasinya di berbagai event ilmiah internasional.

    Misalnya, International Physics Olympic (IPho) di Pohang, Korea, International Biology Olympic (IBO) di Brisbane, Australia, International Chemistry Olympic (IChO) di Kiel, Jerman, International Mathematic Olympic (IMO) di Athena, Yunani.

    Dijelaskan Indra, dari 50 negara yang diundang, 17 negara sudah memastikan hadir sebagai peserta. Turut ambil bagian negara yang sering sebagai pemenang, antara lain, Bolivia, Jepang, Korea, Amerika dan China.

    Di tempat yang sama Direktur IJSO Hamid Muhammad menjelaskan, selain pembinaan berkelanjutan, penyelenggaraan IJSO juga bertujuan meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran sains, seperti matematika, fisika, kimia dan biologi.

    Dalam IJSO I, setiap negara akan diwakili oleh enam orang siswa dan didampingi oleh dua orang team leader. Namun, khusus negara penyelenggara, diperbolehkan mempunyai dua tim.

    Setiap perserta akan mengikuti tiga jenis kompetisi. Pertama, kemampuan dasar fisika, kimia dan biologi. Kedua, kemampuan pemecahan soal teori gabungan, dan ketiga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal experimen gabungan antara dua atau ketiga mata pelajaran tersebut.

    Lebih lanjut, proses seleksi terhadap pelajar yang akan mewakili Indonesia di IJSO I ini, sangat ketat dan panjang prosesnya. Tahapan seleksi sudah dilakukan sejak Februari dan dilakukan di 30 provinsi atau 150 kabupaten/kota.

    Total peserta 15.000 siswa SMP. Seleksi dilakukan secara sistem komputerisasi di Pusat Pembinaan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) Karawaci.

    Dari 15.000 siswa, terpilih 30 besar tiap daerah. Sebagai tuan rumah, dan jumlah itu terseleksi lagi menjadi 12 siswa, sebagai wakil Indonesia di IJSO nanti.

    Ke-12 siswa itu, terbagi dua tim. Tim pertama terdiri dari Achmad Furcon (SMP Bina Insan, Bogor), Andika Afriansyah (SMP Nusantara, Makassar, Sulsel), Aziz Adi Suyono (SMP 9, Cilacap, Jateng), Carolline Jessica (SMP Xaferius I, Palembang), Dewi Kusumawati (SMP I Seputih Surabaya, Lampung), dan Diptarama (SMP 252 DKI Jakarta).

    Dan, tim kedua, antara lain Fransiska Putri Wira H. (YPJ Kuala Kencana, Mimika, Papua), Petrus Yesaya Samori (SMP II Jayapura, Papua), Ria Ayu Pramudita (MTs negeri I Malang), Stephanie Senna (SMP IPEKA, Tomang, Jakbar), Wayan Wicak Ananduta (SMP I Bekasi, Jabar), dan Wlliam (SMP Sutomo I, Medan, Sumut).

    Sistem penilaian IJSO adalah rata-rata nilai tertinggi dari tiga orang peserta. Bagi siswa yang mencapai akumulasi nilai antara 90 - 100 persen dari nilai standar akan menerima medali emas, 78 - 89 persen akan menerima medali perak, dan 65 - 77 persen akan mendapat medali perunggu. (dil)

    ===================


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2019 LIPI