fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Senin, 25 September 2017  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Forum informasi berita :

pengumuman berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    Superkonduktor dari Depok...Bagaimana HFI ?
    Oleh : Dedi Setiabudidaya
    Sabtu, 13 September 2003 (01:30 WIB) dari IP 202.159.34.46

    BENGKEL sederhana, bahkan nyaris kumuh, di pinggir tanah berawa
    Depok, Jawa Barat, itu tak pernah menarik perhatian orang.Siapa mau
    peduli dengan bangunan kusam di Jalan Sarikaya itu? Suasana didalam
    bengkel itu pun tidak menarik. Di sana cuma ada tumpukan bahan
    kimia, tanah, perkakas percobaan yang bentuknya aneh-aneh, dan sarang
    laba-laba. Kesibukan sehari-hari hanya dilakukan Budi Purnomo,43
    tahun, sang pemilik bengkel. Tentu, tidak ada yang menyangka,dari
    bengkel butut itu ditemukan material baru: Nufton.

    Nama Nufton itu sendiri pemberian Budi. Bentuknya berupa pasta
    lengket kecokelatan. Nufton ini tak sembarang material. Ia sanggup
    meningkatkan arus listrik sampai dua kali lipat. Lapisan tipis Nufton
    dapat menurunkan resistensi konduktor logam, seperti tembaga,emas,
    atau perak. Temuan ini sudah diperiksa di Laboratorium Konversi
    Energi Institut Teknologi Bandung (ITB), Desember lalu.Hasilnya,
    memuaskan. Itulah sebabnya, Budi, 30 Desember lalu, mematenkan
    temuannya tersebut ke Direktorat Jenderal Hak Cipta, Merek dan Paten.

    Peningkatan arus listrik sampai dua kali lipat pada suhu kamar ini
    membuat kaget beberapa peneliti ITB. Bahkan, sifat Nufton disebut-sebut
    mendekati bahan superkonduktor. "Ini sedang dikejar-kejar dunia sains,"
    kata Budhiyanto, master bidang material science lulusan Tokyo Institute of
    Technology, yang mengamati riset Budi Purnomo.

    Nufton calon superkonduktor? Terlalu dini untuk dinilai. Yang
    jelas, hingga saat ini, material superkonduktor umumnya hanya bisa
    berfungsi dalam temperatur ekstra dingin. Sejumlah material hanya bisa
    menunjukkan sifat superkonduktornya setelah dibenamkan dalam
    helium atau nitrogen cair. Tak mengherankan bila material ini disebut
    high temperature superconductor (HTSC). "Mereka memerlukan
    kondisi dengan temperatur minus 1000C," kata Budhiyanto.

    Fenomena superkonduktivitas, yang belakangan ini menjadi salah satu
    primadona dalam riset fisika, mula pertama ditelusuri tiga ahli fisika
    Amerika Serikat: John Bardeen, Leon N. Cooper, dan John Robert
    Schrieffer. Mereka mengemukakan teori bahwa logam dapat memiliki
    hantaran super pada temperatur sangat dingin. Mereka menamakan
    teorinya BCS, yang merupakan akronim dari huruf depan nama ketiga
    orang itu.

    Menurut teori BCS, bahan superkonduktor akan memiliki hambatan listrik
    nol bila eletron-elektron bebas dalam material itu berpasangan.
    Pasangan-pasangan elektron tersebut bisa melaju dalam struktur
    bangunan molekul logam tanpa hambatan. Memang, teori ini menabrak
    postulat Pauling, yang mengatakan bahwa dua muatan sejenis tak
    mungkin bisa berpasangan, karena mereka akan saling menolak.BCS
    menjawab bahwa pasangan itu bisa saja terbentuk, tapi pada suhu
    yang sangat rendah, mendekati temperatur mutlak minus 2730C. Pada
    temperatur ini, semua materi hampir diam, tidak bergerak.Berkat
    teorinya itu, ketiga pakar tersebut menerima Hadiah Nobel pada 1972.

    Baru sekitar 14 tahun kemudian, pada 1986, dua ahli fisika, J.Georg
    Bednorz dari Jerman dan K. Alex Muller dari Swiss -keduanya bekerja
    di laboratorium IBM- mengemukakan temuan gejala superkonduktor
    pada temperatur lebih hangat. Berbeda dengan BCS, dua ahli fisika dari
    daratan Eropa ini mencari sifat konduktivitas pada bahan keramik,
    material yang pada suhu kamar tak dapat menghantarkan listrik.
    Baru setelah itu, banyak peneliti, terutama yang bekerja di laboratorium
    industri, mulai mencari jenis keramik lain untuk bahan superkonduktor.

    Jenis inilah yang kemudian dikenal sebagai HTSC. Untuk perintisannya
    menemukan superkonduktivitas pada bahan keramik, Bernorz dan
    Muller juga memperoleh Hadiah Nobel pada 1987. Terobosan yang dilakukan
    Budi memang keluar dari pakem Muller dan Bednorz. Ia kembali mengutak-atik
    peningkatan daya hantar pada logam, bahan yang sangat umum dipakai di
    berbagai perangkat elektronika. Keruan saja, peningkatan daya hantar pada
    temperatur kamar yang dihasilkannya mengundang penasaran para ahli.
    Kalaulah keandalan Nufton ini terbukti, dan bisa diakui, nama Budi
    Purnomo tentu akan mendunia.

    Budi Purnomo memang menafikan teori BSC. Ia berani mengemukakan
    bahwa penurunan tahanan terjadi, karena elektron bebas pada
    logam yang menghambat arus itu diikat proton pada Nufton. Jadi, bila
    Nufton dilapiskan pada bahan metal, ia seolah berfungsi sebagai
    lapisan tipis proton yang mampu menarik elektron-elektron bebas yang ada
    dalam logam. Akibatnya, arus yang asalnya tertahan itu menjadi bebas
    melaju.

    "Kayak mobil dari daerah macet, lalu tiba-tiba kendaraan lain
    ditarik ke pinggir. Maka, mobil tadi seperti melaju di jalan tol," kata
    Budi.Teori, yang tentu belum diakui komunitas ilmiah, itu oleh Budi
    dinamakan teori relativitas murni. Nufton, menurut Budi, memiliki sifat
    menyimpang lain. Ia dapat bersifat isolator sekaligus konduktor. Nufton
    yang tebal memiliki sifat seperti keramik, tak bisa menghantarkan listrik.
    Namun, kalau dibuat sangat tipis, Nufton menjadi bersifat konduktor. Budi
    mengambil nama Nufton dari kata nuftah, yang artinya cairan yang melekat.
    Cairan tersebut hasil racikan Budi dari 19 komponen yang diringkaskan
    menjadi tiga bagian terpisah.

    Bagian pertama berupa cairan kental senyawa hidrokarbon, bagian
    kedua serbuk inti, dan bagian ketiga katalis. Bila Nufton akan
    dipakai, ketiga komponen tersebut dicampur sampai serba rata pada suhu
    kamar tak perlu suhu ekstra dingin. Hasilnya berupa pasta kecokelatan,
    yang harus segera dioleskan pada logam, dengan ketebalan 0,25-0,5
    milimeter. Setelah itu, dalam satu jam, daya hantar bahan sudah meningkat.
    Namun, untuk mendapat daya hantar yang optimal, sebaiknya dibiarkan selama
    4 x 24 jam.

    Alih-alih menuntut suhu ekstra dingin, menurut Budi, lapisan Nufton bahkan
    bisa tahan sampai 2500C tanpa kehilangan sifat aslinya. Dengan begitu, zat
    ini bisa dilapiskan pada berbagai ukuran kabel, pada tegangan berapa pun.
    Karena itu, menurutnya, terapan Nufton bisa dilakukan sangat luas. "Semua
    alat yang memakai listrik bisa memanfaatkan Nufton," katanya. Karena
    kemampuan menurunkan tahanan listrik, Nufton pun punya efek menghemat
    energi. Budi siap mendemonstrasikannya. Untuk sebuah kipas kecil,
    biasanya dalam satu jam sudah harus diganti dua baterainya. Namun,
    dengan Nufton, menurut Budi, baterai bisa tahan sampai tiga jam. Begitu
    juga untuk lemari es 150 watt, menurutnya, bila menggunakan Nufton,
    dayanya bisa hanya sekitar 75 watt. "Temuan saya ini bisa dipakai dan
    dirasakan langsung oleh rakyat," katanya.

    Yang lebih ekonomis, menurutnya, kalau dilakukan dalam skala pabrik.
    Sebab, penggunaan Nufton akan mampu menghemat energi atau membuat barang
    dengan ukuran lebih kecil. Trafo besar, misalnya, bisa diubah ukurannya
    menjadi setengahnya, namun memiliki kemampuan yang sama. Atau untuk
    pendingin ruangan, yang memiliki kemampuan satu tenaga kuda dengan daya
    750 watt, bila menggunakan Nufton, bisa menjadi hanya 350 watt.

    Nufton bukanlah temuan Budi Purnomo satu-satunya. Dengan dasar
    teori relativitas murninya (TRM), Budi mengklaim telah menemukan 19 jenis
    material baru dan ratusan turunannya. Namun, saat ini baru lem super untuk
    logam bernama Metalloam dan Nufton yang sudah siap dipasarkan. Budi, anak
    bekas Wedana Tambun, Bekasi Timur, Jawa Barat, yang tidak lulus kuliah
    dari Jurusan Antropologi Universitas Indonesia, mempercayakan temuannya
    pada Yayasan Widya Duta. Yayasan yang misinya menyosialisasikan TRM, dan
    memegang paten semua hasil penelitiannya, ini didirikan pertengahan tahun
    lalu. Yayasan ini diketuai Budi Dharmawan, 37 tahun, sarjana psikologi
    lulusan Universitas Indonesia. Lalu bagian pemasaran teknologi
    ditangani Budi Hartanto, master bisnis administrasi dari Monash
    University, Australia, yang juga insinyur teknik mesin lulusan
    Institut Teknologi Bandung angkatan 1981. Satu lagi yang memegang
    bagian riset yayasan adalah master material science, Budhiyanto.
    Secara kebetulan, semua tokoh yayasan ini punya nama depan "Budi".

    Pada tiga Budi inilah, Budi Purnomo menyerahkan nasib teori dan
    temuannya. Sejak tahun lalu, anak Betawi yang memahami berbagai
    teori mutakhir fisika dan kimia ini telah terbang ke Tokyo untuk
    berbicara dalam sebuah simposium. Ia bertemu dengan Sacahiko Kano,
    Wakil Presiden NTT, perusahaan telekomunikasi terbesar di Jepang.
    Ia juga terbang ke Kuala Lumpur, dan memamerkan Nufton ke pimpinan
    Tenaga Nasional Berhard -PLN-nya Malaysia. "Mereka menawarkan
    diri untuk mematenkan temuan Pak Budi ini," kata Budi Dharmawan.

    Di Tanah Air, Budi juga sudah berkeliling ke beberapa kampus
    dan perusahaan. Lelaki berpenampilan sederhana dan berkumis tebal
    itu hanya ikut pada program yayasan. Namun, ia tetap bertekad agar
    temuannya bermanfaat untuk masyarakat Indonesia. "Saya tak mau
    pabrik Nufton dibangun di luar negeri. Kalau mereka tertarik, biar
    tanam modal di sini," katanya. Ia tak terlalu peduli bahwa temuannya
    belum mendapatkan pengakuan dari masyarakat ilmiah secara luas.


    Re: Superkonduktor dari Depok...Bagaimana HFI ?
    Oleh : A. Syam
    Sabtu, 13 September 2003 (01:32 WIB) dari IP 202.159.34.46

    Maaf buat semua pembaca; kemungkinan besar cerita ini cuma isapan jempol (hoax), atau kalau tohpun pernah ada, akhir ceritanya tidaklah menggembirakan spt diharapkan.


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI