fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Senin, 18 November 2019  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Forum informasi berita :

pengumuman berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    IPhO 33
    Oleh : Kompas
    Senin, 29 Juli 2002 (10:07 WIB) dari IP 202.136.69.2

    Olimpiade Fisika Internasional XXXIII
    Dibuka Hari Ini di Denpasar
    Presiden Megawati Soekarnoputri hari ini, Senin 22 Juli, dijadwalkan membuka Olimpiade Fisika Internasional (OFI) XXXIII/33rd International Physics Olympiads (IPhO) yang berlangsung di Denpasar, Bali, sampai Selasa 30 Juli. Kompetisi tahunan fisika tingkat dunia bagi siswa-siswa terpilih sekolah menengah atas itu diikuti 68 negara, jumlah peserta terbanyak sejak OFI dimulai pada tahun 1967 di Warsawa, Polandia.Indonesia mengutus lima siswa SMU yang terbaik dalam fisika saat ini dan dua pembimbing sebab tiap negara peserta hanya boleh mengirimkan maksimal lima pelajar. "Karena alasan keamanan, Amerika Serikat (AS) tahun ini tidak mengirimkan pelajarnya," kata Triyanta PhD, Ketua Panitia OFI XXXIII yang juga Ketua Departemen Fisika ITB. "Demikian pula Israel."

    AS adalah negara dengan peraih Nobel Fisika terbanyak yang rutin mengirimkan dutanya dalam peristiwa ini. Israel sendiri dikenal sebagai negara dengan tradisi bagus dalam fisika yang dengan mudah mengundang fisikawan pemenang Nobel dari seluruh penjuru memberi kuliah di negerinya.

    Namun, itu tidak membuat OFI XXXIII kekurangan kadar. Iran dan Rusia, yang sering menampilkan pelajar cemerlang dengan pencapaian di atas ekspektasi, sudah terdaftar sebagai peserta jauh-jauh hari sebelum kompetisi ini dimulai.

    Ikut ambil bagian sejak OFI XXIV di Williamsburg, AS, tahun 1993, Indonesia kali ini mengutus lima pelajar yang telah lolos seleksi ketat mulai pertengahan tahun 2001 sejak tingkat kabupaten. Mereka adalah Peter Sahanggamu (SMU Negeri 78, Jakarta), Widagdo Setiawan (SMU Negeri 1, Denpasar), Fadjar Adrian (SMU Insan Cendekia, Serpong), Evelyne Mintarno (SMU BPK-1 Penabur, Jakarta), dan Christopher Hendriks (SMU Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang).

    Ketat

    Kelimanya unggul dari 2.000-an pelajar yang mengikuti seleksi di tingkat kabupaten dari seluruh Indonesia yang diadakan Departemen Pendidikan Nasional. Kemudian lolos dari 30 orang yang terpilih pada seleksi tingkat provinsi yang mendapat pembinaan oleh Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) pimpinan fisikawan Yohanes Surya PhD selama sebulan sejak Juli 2001.

    Sepuluh dari 30 orang itu kemudian dilatih secara spartan oleh TOFI sejak September 2001 hingga Mei 2002 untuk mendapatkan tiket mengikuti Olimpiade Fisika Asia (OFA) III di Singapura. Delapan orang akhirnya yang berangkat ke Singapura, tapi hanya enam yang mendapat medali. Peter Sahanggamu menjadi satu-satunya peserta yang mendapat medali emas sekaligus penghargaan peserta terbaik dalam menggarap soal-soal teori. Lima lainnya memperoleh perunggu.

    Ketatnya seleksi untuk mendapat tiket ke Bali diperlihatkan dengan memasukkan keenam peraih medali di Singapura itu selama dua bulan lagi dalam penggemblengan TOFI di bilangan Karawaci. Satu orang harus gugur sebab panitia OFI hanya membolehkan tiap negara maksimal dengan lima peserta.

    "Peluang besar bagi Indonesia untuk mendapat emas ada di tangan Peter dan Widagdo," kata Yohanes Surya PhD yang merintis jalan bagi murid SLTA Indonesia mengikuti OFI sejak tahun 1993.

    Optimisme ini ia dasarkan pada beberapa perbaikan selama pelatihan sepulangnya tim dari Singapura. Selama mengikuti OFI, peserta Indonesia selalu mendapat nilai kurang dalam ujian eksperimen. Itu pula yang terjadi baru-baru ini dalam OFA di Singapura.

    "Jadi, dalam dua bulan terakhir ini kami lebih banyak memberi perhatian pada soal-soal eksperimen," kata Yohanes seraya menjelaskan ujian dalam kompetisi ini terdiri atas dua bagian-soal-soal teori dan eksperimen-yang proporsi penilaiannya 30:20 berturut-turut untuk teori dan eksperimen.

    Harapan

    Sebagai tuan rumah, Indonesia pantas berharap mencatat prestasi tinggi mendapat paling tidak satu medali emas. Dalam riwayat partisipasinya selama sembilan tahun, Indonesia baru sekali mendapat medali emas atas nama I Made Agus Wirawan (dari SMU Negeri 1, Bangli, Bali) dalam OFI XXX-Tahun 1999 di Padova, Italia. Selain emas, bentuk anugerah yang dapat diperoleh peserta OFI adalah medali perak, medali perunggu, dan piagam penghargaan.

    Untuk mengulangi bahkan menambah prestasi itu, menurut Yohanes, TOFI mengupayakan ekstrausaha. Waktu penggemblengannya diperpanjang menjadi setahun dari tiga sampai enam bulan pada masa-masa sebelumnya. TOFI secara khusus mengundang tiga dosen fisika dari beberapa perguruan tinggi sebagai pelatih selama penggemblengan siswa. Mereka adalah Haryanto (UI, Jakarta), Zulkarnain (Universitas Riau, Pekanbaru), dan Andy Setiawan (Universitas Pelita Harapan, Tangerang).

    Sebagai penghargaan kepada ketiga dosen yang telah melatih soal-soal mekanika dan elektromagnetik tingkat perguruan tinggi kepada lima duta Indonesia dalam OFI XXXIII ini, TOFI menyediakan dana untuk beasiswa studi PhD dalam fisika. "Ketiganya sudah diterima di universitas Amerika," kata Yohanes.

    Panitia

    Indonesia terpilih sebagai tuan rumah dalam rapat komite OFI di Padova, Italia, pada 22 Juli 1999 bertepatan dengan penyelenggaraan OFI XXX di kota asal St Antonio di Padova itu. Dikukuhkan pada tahun berikutnya di Inggris, selanjutnya penyelenggaraan OFI XXXIII diserahkan kepada Pemerintah Indonesia.

    Keterpilihan ini merupakan pengakuan kesanggupan Indonesia menyelenggarakan kompetisi berskala internasional mengingat minat besar di antara negara peserta untuk menjadi tuan rumah. Sampai penyelenggaraan OFI tahun 2013, misalnya, konfirmasi nama negara penyelenggara sudah ditutup.

    Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin (waktu itu) dengan Surat Keputusan Nomor 005/P/2002 tanggal 17 Januari 2002 membentuk Panitia Pelaksana OFI XXXIII dengan menunjuk Institut Teknologi Bandung sebagai institusi penyelenggara dan Bali sebagai tempat penyelenggaraan.

    Bertindak sebagai pengarah adalah Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Negara Riset dan Teknologi, tiga unsur dari Departemen Pendidikan Nasional (Sekretaris Jenderal, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Dirjen Pendidikan Tinggi), kemudian Dirjen Hubungan Sosial Budaya dan Pendidikan Departemen Luar Negeri, dan Gubernur Bali.

    Panitia pelaksananya dari ketua sampai bendahara adalah dosen-dosen usia muda dari Departemen Fisika ITB. Triyanta PhD (ketua), Satria Bijaksana PhD dan Doddy Sutarno PhD (wakil), Alexander A Iskandar PhD (sekretaris), dan Idam Arif PhD (bendahara). Ketua kehormatan masing-masing adalah Presiden OFI Prof Waldemar Gorzkowski dan Presiden OFA Yohanes Surya PhD.

    Semula OFI XXXIII direncanakan di Bandung, tapi perkembangan situasi internasional dan berita-berita tentang Indonesia sejak tahun 1998-termasuk banjir di Jakarta-membuat sebagian besar negara peserta khawatir. Dengan mempertimbangkan kekhawatiran itu serta keinginan memberi pelayanan yang lebih baik kepada peserta, kata Triyanta, "Menteri Pendidikan Nasional memutuskan memindahkan tempat penyelenggaraan olimpiade ke Bali." (SAL)


    RE:IPhO 33
    Oleh : Kompas
    Senin, 29 Juli 2002 (10:09 WIB) dari IP 202.136.69.2

    Indonesia Berpeluang Besar Dapat Emas

    Denpasar, Kompas -Begitu pembahasan soal-soal teori antara tim pendamping dan panitia pelaksana tuntas Senin (22/7) malam, Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) Yohanes Surya mengatakan, peluang Indonesia dapat emas semakin besar.

    "Soalnya relatif mudah dibandingkan dengan apa yang dilatih kepada anak-anak Indonesia," katanya.

    Beberapa anggota panitia pelaksana Olimpiade Fisika Internasional (OFI) XXXIII yang ditemui Kompas mengakui soal-soal teori yang diujikan Selasa siang sampai sore itu relatif tidak sulit. Sayang, para peserta yang belum boleh dihubungi tidak dapat didengarkan tanggapannya atas ujian teori yang telah mereka selesaikan.

    "Saya malah optimistis dapat empat emas, nih," kata Yohanes.

    Optimisme ini ia kaitkan dengan pengalamannya mengujikan soal-soal fisika yang diadakan beberapa perguruan tinggi ternama dalam fisika di Amerika Serikat kepada peserta Indonesia dalam sebulan terakhir dari masa bimbingan di Karawaci.

    Peter Sahanggamu dan Widagdo Setiawan, misalnya, beberapa hari sebelum berangkat ke Bali mencapai nilai 50 dalam ujian yang bahan-bahannya diambil dari BUPC (Boston Undergarduate Physics Competition) April 2002. Peserta BUPC adalah mahasiswa-mahasiswa yunior dan senior lima perguruan tinggi papan atas Amerika Serikat: Caltech, MIT, Berkeley, Standford, dan Harvard. Nilai tertinggi yang mungkin dicapai untuk menyelesaikan enam soal dengan waktu maksimal empat jam itu adalah 60.

    Dari informasi yang ia peroleh, Yohanes mengatakan juara pertama BUPC April 2002 itu berasal dari Caltech dengan nilai 58,5. Sedangkan tiga orang juara kedua, masing-masing dari Caltech, MIT, dan Harvard, mendapat nilai 51. Juara ketiganya hanya mendapat 46. "Tapi, siswa kita dengan menggunakan bahan yang sama, saya uji bisa mendapat nilai 50," katanya. "Saya betul-betul bingung, kok, mereka bisa, padahal pertanyaannya sulit sekali."

    Soal gerak pensil

    Salah satu soal dalam BUPC April 2002 itu adalah menghitung berapa lama pensil bersisikan enam segi bergerak di bidang miring hingga kecepatannya konstan. Soal itu problematik dan menuntut kreativitas, sangat berbeda dengan jenis soal-soal yang diujikan di SMU pada umumnya yang cukup menanyakan perilaku kinematik benda-benda titik pada bidang miring. Dalam soal BUPC itu pensil dengan sisi yang tak biasa tidak dianggap sebagai benda titik.

    Dengan keberhasilan Peter dan Widagdo mencapai nilai 50 untuk BUPC, menurut Yohanes, keduanya tidak diragukan lagi menyelesaikan soal-soal teori yang problemnya relatif lebih ringan.

    "Kedua orang ini tidak saya ragukan kemampuan teorinya," katanya. "Saya sekarang malah pasang target salah satu peserta Indonesia mendapat predikat sebagai juara absolut, tidak sekadar emas."

    Sebagai pembanding kedua untuk menguji kemampuan murid-murid bimbingannya itu, Yohanes menyebutkan keberhasilan Peter Sahanggamu dalam uji-coba soal-soal GRE (graduate record examination) untuk fisika mencapai angka 970 dari maksimal 990. "Sarjana terbaik dari UI saja rekor GRE-nya hanya 860," katanya.

    Hari Rabu ini peserta OFI memasuki masa istirahat. Kamis besok baru mengikuti ujian eksperimen selama lima jam untuk dua soal. Kegagalan tim Indonesia biasanya pada bagian ini. Namun, Yohanes tetap optimistis sebab dua bulan setelah kembali dari Singapura, anak-anak Indonesia dilatih terus dalam berbagai ujian eksperimen.

    Pengumuman pemenang sekaligus penutupan OFI XXXIII akan berlangsung Senin depan, sementara para peserta baru kembali ke negerinya masing-masing keesokan harinya. (ISW/SAL)


    RE:IPhO 33
    Oleh : Kompas
    Senin, 29 Juli 2002 (10:10 WIB) dari IP 202.136.69.2

    Alumni Pertama Itu Kini Belajar di Princeton

    OKI Gunawan benar-benar anak kandung TOFI, Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Meski sedang mempersiapkan ujiannya di S2 Nanyang Technological University (NTU) Singapura, alumni TOFI 1993 itu harus bolak-balik Singapura-Jakarta untuk melatih fisika eksperimen bagi TOFI 1999 yang waktu itu akan berangkat ke Padova, Italia.

    Berkali-kali ia membantu TOFI dengan pergi-pulang seperti itu karena merasa asyik kalau adik-adik bimbingannya yang akan bertanding di olimpiade fisika akhirnya bilang, "Oh, begitu, ya.., sekarang saya baru mengerti."

    Namun tahun-tahun selanjutnya akan istirahat dulu sebab sejak tahun 2000, Oki sedang mendalami mikroelektronik di Departemen Teknik Elektro, Princeton University, salah satu perguruan tinggi terbaik di AS. Cita-citanya sejak SD memang menjadi insinyur elektro, tapi TOFI mengubah arah minatnya mendalami fisika.

    "Walaupun jurusan saya di elektro, Princeton ini unik sebab riset saya nanti bisa memasuki fisika fundamental," katanya kepada Kompas dalam wawancara via Internet.

    Di jurusan itu ia dapat berinteraksi dengan Prof Daniel Tsui, peraih Nobel Fisika 1998. Kebetulan ia tertarik dengan bidang riset sang Nobelis dalam fisika zat padat dan tahun ini mengikuti kuliahnya. Sayang, lantaran usianya yang sudah uzur, Tsui hanya menyediakan waktu bimbingan yang sangat terbatas.

    "Resminya saya dibimbing rekan Prof Tsui yang lebih muda, Prof Mansour Shayegan dari MIT," katanya. "Tapi kegiatan riset sehari-hari saya ada di laboratorium beliau, kadang-kadang saya berdiskusi dengan Prof Tsui."

    Oki diterima di NTU dan mendapat beasiswa dari perguruan teknik Singapura itu karena prestasinya sebagai alumni TOFI. Itu sebabnya, bila tiga tahun yang akan datang dia menyelesaikan PhD di Princeton, ia wajib menjalani ikatan dinas dengan mengajar paling sedikit tiga tahun di almamaternya. Bila kewajiban itu berakhir, Oki tetap berminat kembali ke Indonesia sebagai dosen atau bekerja di industri atau kombinasinya.

    Saran Anda memajukan fisika di Indonesia?

    "Jangan mencontoh Singapura yang gencar mengirimkan mahasiswanya membanjiri Amerika, sebab biaya studi satu bulan di sini setara dengan sepuluh bulan gaji dosen di Indonesia," kata Oki. "Program beasiswa yang terlalu banyak bisa mengusik rasa keadilan."

    Ia lebih tertarik Indonesia meniru India dan RRC dalam pengiriman mahasiswa ke Amerika: setiap tahun mengirimkan satu-dua mahasiswa untuk mengikuti program PhD di Princeton dengan dukungan dana dari pemerintah. Tak pernah absen, rutin, meski satu-satu, dan selalu berhasil sebab dosen-dosen mereka di India dan RRC berusaha menjebolkan mahasiswanya masuk ke perguruan tinggi terbaik AS. Sebaliknya, mahasiswa-mahasiswa RRC yang di Princeton setiap tahun berkesempatan pulang berbicara dengan yunior mereka memberikan motivasi di almamater masing-masing sambil menciptakan jaringan.

    "Saya tentunya bertanya kapan lulusan UI dan ITB setiap tahun masuk di perguruan tinggi terbaik Amerika," katanya. "Mudah-mudahan dalam waktu dekat."(SAL)


    RE:IPhO 33
    Oleh : Kompas
    Senin, 29 Juli 2002 (10:11 WIB) dari IP 202.136.69.2

    Cina Menonjol

    Denpasar, Kompas - Setelah hampir selesai memeriksa berkas pekerjaan ujian teori pada hari Kamis (25/7) sore kemarin, beberapa juri mengatakan, peserta Olimpiade Fisika Internasional (OFI) XXXIII Denpasar dari Republik Rakyat Cina (RRC) memperlihatkan nilai yang menonjol dibandingkan dengan peserta dari negara-negara lain.

    Sampai pada tahap ujian teori, kelima peserta Indonesia dalam penilaian tim pendamping pimpinan Yohanes Surya juga menunjukkan prestasi bagus. Rata-rata mendapat 85 persen dari nilai maksimum. Hasil penilaian versi juri untuk tim Indonesia belum dapat diperoleh.

    Baik juri maupun tim pendamping sama-sama melakukan penilaian. Berkas asli pekerjaan peserta di tangan juri, sementara berkas fotokopian di tangan tim pendamping. Kedua hasil penilaian akan dibawakan dalam moderasi pada hari Minggu nanti. Dalam kesempatan itu tim pendamping akan berupaya menawar kenaikan angka bagi pekerjaan peserta yang mereka anggap pantas dihargai lebih dari nilai yang diberikan tim juri.

    Koordinator Dewan Juri Prof Tjia May On PhD yang membawahkan 70 juri yang berasal dari ITB, UI, UGM, dan ITS itu sampai sore kemarin mengatakan, belum dapat mengungkapkan bagaimana persisnya distribusi nilai-nilai yang diperoleh 340-an peserta tersebut berdasarkan negara demi negara.

    Namun, Guru Besar Fisika ITB itu mengatakan. kalaupun RRC, Korea Selatan, Indonesia, dan Vietnam lebih baik ketimbang peserta dari negara-negara lain, hal itu wajar-wajar saja. Soalnya, keempat negara tersebut mempersiapkan kontingennya dengan pelatihan khusus. Indonesia melakukan pelatihan dan pembimbingan selama setahun dengan melatih soal-soal fisika tingkat perguruan tinggi. Cina bahkan dengan pelatihan yang luar biasa dengan mempersiapkan 100 pelajar untuk dikirim ke Olimpiade Fisika tingkat Asia maupun tingkat internasional.

    "Jadi, mereka sebenarnya SMA plus," kata Tjia. "Sangat berbeda dengan Australia atau Amerika-kalaupun Amerika ikut misalnya-yang menyeleksi murid-murid SMA sebulan sebelum olimpiade. Tak ada persiapan khusus dan ini lebih alami untuk merefleksikan bagaimana pengajaran fisika di negara masing-masing."

    Dengan begitu, menurut Tjia, pencapaian Indonesia dalam olimpiade ini tidak dapat dijadikan sebagai tolok ukur pengajaran fisika di sekolah-sekolah lanjutan tingkat atas Indonesia.

    Alot

    Tiga soal teori dalam olimpiade ini adalah menentukan formulasi laju propagasi radar tembus tanah untuk mendeteksi objek-objek di dalam tanah seperti emas, merumuskan kuat medan sinyal listrik peraba binatang-binatang laut pemangsa di habitatnya, serta menghitung momen inersia dan persamaan gerak gerobak berbeban berat di atas bidang miring dengan 12 kasus. Soal ketiga ini membutuhkan sepuluh lembar pekerjaan untuk menghasilkan 31 persamaan. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal itu adalah lima jam.

    "Dosen belum tentu sanggup menyelesaikan soal nomor tiga ini," kata Koordinator Pembuat Soal Prof The Houw Liong PhD. "Pantas mendapat medali emas peserta yang dapat menyelesaikan soal itu," tambahnya.

    Dalam rancangan awalnya yang disajikan kepada tim pendamping, kasus-kasus yang ditanyakan dalam soal itu tergolong sulit. Namun, setelah tawar-menawar, beberapa pertanyaan sulit direduksi atau disubstitusi.

    Beberapa tim pendamping menyebutkan, tawar-menawar itu berjalan alot. Tjia May On menyayangkan
    suasana itu bukan lantaran kealotannya, tetapi ada kesan beberapa negara peserta menggunakan psikologi massa untuk mendukung permintaan menurunkan bobot pertanyaan. Caranya, usulan semacam itu yang dilontarkan seorang wakil negara peserta segera mendapat aplaus berupa tepuk tangan meriah dari para pendukungnya.

    "Jadi, tidak bisa 100 persen segi ilmiahnya, sebab masing-masing memikirkan bisa enggak dikerjakan muridnya," kata Tjia. "Memang alot sebab kami berhadapan dengan komunitas yang bertujuan mendapat medali."

    "Mau tak mau mereka menggunakan cara apa pun, terutama partisipan yang memikul beban dari negara atau sponsor di negara masing-masing," tambahnya.

    Hendra, alumni Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) 1997 yang telah menyelesaikan S1 Fisika ITB dan kini sedang mengikuti program S2 di William and Mary College, AS, mengatakan, sistem pelatihan khusus untuk mengikuti OFI masih diperlukan di Indonesia.

    "Soalnya, pengajaran fisika di sekolah-sekolah Indonesia belum merata baiknya," kata Hendra, yang menggunakan liburan musim panasnya untuk menjadi anggota tim pendamping TOFI 2002 di Nusa Dua, Bali. "Apalagi kalau kita lihat sekolah-sekolah di kota kecil," tambahnya.

    Kamis kemarin telah diselenggarakan ujian eksperimen dengan dua soal yang dikerjakan maksimal lima jam. Jumat ini dijadwalkan pembukaan Olimpiade Fisika Nasional di Denpasar untuk menyeleksi siswa-siswa pilihan dari seluruh provinsi di Indonesia, guna dipilih menjadi anggota TOFI 2003 yang direncanakan diadakan di Taiwan. Seleksi ini berlangsung sampai Senin 29 Juli di Balai Pelatihan Guru, Renon, Denpasar. (SAL)


    RE:IPhO 33
    Oleh : Kompas
    Senin, 29 Juli 2002 (10:12 WIB) dari IP 202.136.69.2

    Sabtu, 27 Juli 2002



    "Lebih Banyak Cemasnya.."

    BANGGA sih enggak juga, lebih banyak cemasnya," ujar Alfahari (50) ketika ditemui di halaman belakang Hotel Grand Bali Beach Sanur, Bali, Selasa (23/7). Hal senada diungkapkan istrinya, Tuminem (46). "Setelah pengumuman baru bisa los. Sekarang masih harap-harap cemas," ujar Tuminem.

    Sepasang suami istri ini mengaku khawatir kalau-kalau putra pertama mereka, Fajar Ardian (18), gagal mengemban tugas sebagai duta bangsa di olimpiade antar-"Einstein muda" dari 70 negara. Dalam OFI XXXIII, Indonesia mengirimkan lima wakil, salah satunya adalah pemuda kelahiran Bandung, 29 Mei 1984 ini.


    Gunawan Wibisono

    Siang itu, Fajar dan 339 peserta Olimpiade Fisika Internasional (OFI) XXXIII sedang beristirahat di Pantai Sanur usai ujian teori selama lima jam di hari pertama. Tiga ratusan peserta OFI memilih bermain layang-layang atau sepak bola pantai dan Fajar bercengkerama bersama kedua orangtuanya yang sengaja datang dari Jakarta ke Bali.

    "Kami ke sini untuk melihat Fajar dari dekat sekaligus memberikan semangat kepadanya," ujar sang ibu.

    Demi anak, sepasang suami istri itu menempuh perjalanan selama satu setengah hari dengan menumpang bus dari Jakarta. "Saya hanya pegawai negeri, mana mampu naik pesawat," kata Alfahari, yang mengaku bekerja sebagai staf biasa di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Jakarta.

    Mereka berniat menunggui Fajar hingga OFI selesai. Karena biaya, mereka memilih menginap di sebuah penginapan di dekat Terminal Ubung dengan harga Rp 50.000 per malam. Harga kamar itu jelas jauh dibandingkan kamar anaknya di Hotel Grand Bali Beach Sanur yang bertarif Rp 700.000 per malam.


    ***
    SIANG itu ketegangan masih terlihat di raut muka Fajar dan beberapa peserta OFI XXXIII lainnya. Maka kesempatan bermain di pantai seusai duduk berjam-jam menjawab tiga soal hari itu, tidak disia-siakan.

    "Tadi, ngerjain-nya tenang banget," kata Fajar. Dari tiga soal yang diujikan hari Selasa, ia mengaku mengalami kesulitan dengan soal ketiga tentang mekanika.

    "Modelnya, truk yang sedang menuruni bidang miring," katanya. Untuk soal ketiga itu, ia membutuhkan waktu sekitar 2,5-3 jam. Sedang soal pertama dan kedua tentang gelombang dan listrik, Fajar hanya membutuhkan dua jam.

    Berbeda dengan Fajar, dua peserta dari Arab Saudi, Kahlid Sami Fayez (18) dan Mohammad AM Alotaibi (19), justru mengaku mengalami kesulitan di soal kedua tentang listrik. "Itu untuk hari ini, tetapi secara keseluruhan, masalah listrik lebih mudah dibanding soal-soal lain," ujar mereka yakin sambil coba menaikkan layang-layangnya. Khalid mengaku baru pertama kali datang ke Indonesia. Keikutsertaan di OFI ini juga hal pertama untuk Arab Saudi. "Mungkin sedikit sulit, tetapi kami yakin bisa mendapatkan posisi bagus di Olimpiade ini," ujar alumnus Dar Al-Fikr High School-Jeddah yang ingin bekerja di negaranya setelah tamat dari University of Washington di Seatle, Amerika Serikat.

    Semangat serupa juga diungkapkan Fajar. Menurut dia, pengalaman hari pertama sangat berguna untuk mengikuti tes hari kedua, Kamis lalu. "Saya akan lebih teliti. Tadi terlalu buru-buru, baca soal kurang teliti. Ini pelajaran buat saya," kata calon mahasiswa Nanyang Technological University, Singapura ini.

    Tuminem mengaku sudah menyiapkan tiket dan biaya fiskal untuk keberangkatan putra pertama dari tiga bersaudara tersebut. "Tolong doakan, biar Fajar bisa memberi yang terbaik untuk bangsa ini," ujar Tuminem. (m08)


    RE:IPhO 33
    Oleh : Kompas
    Senin, 29 Juli 2002 (10:13 WIB) dari IP 202.136.69.2

    Peserta Muda Ikut Olimpiade Fisika Nasional

    Denpasar, Kompas -Dua dari 90 siswa Indonesia dari seluruh provinsi yang Sabtu (27/7) ini memulai olimpiade fisika tingkat nasional di Denpasar, Bali, berumur 12 dan 13 tahun, satu orang di antaranya justru masih di sekolah lanjutan tingkat pertama. Keduanya adalah Yongki Utama (13) dari SMA Dian Harapan, Karawaci; dan Kevin (12) dari SMP Pelita Harapan, Sentul. Olimpiade ini diadakan Departemen Pendidikan Nasional.

    Peserta seleksi tingkat nasional yang akan mendapat tiket untuk mengikuti Olimpiade Fisika Internasional 2003 di Taipei, Taiwan, ini telah melalui saringan dari ujian tingkat kota dan kabupaten yang melibatkan pelajar SMU yang ada di tiap kota dan kabupaten seluruh Indonesia. Kevin karena kemampuannya menyelesaikan soal fisika relativitas umum Einstein dengan tensor itu dibolehkan ikut dalam saringan ini.

    "Jumlah siswa yang mewakili provinsi tidak sama karena syaratnya siswa harus mendapat nilai paling sedikit 60 dari ujian bercorak sama," kata Suharlan, koordinator olimpiade-olimpiade matematika, fisika, kimia, biologi, dan komputer dari Departemen Pendidikan Nasional.

    Ujian diadakan dua kali, masing-masing teori Sabtu ini dan eksperimen Minggu besok. Pengadaan ujian eksperimen adalah yang pertama sejak olimpiade fisika tingkat nasional diadakan.

    Suharlan menyebutkan siswa yang akan dipilih untuk mengikuti pelatihan selama sebulan adalah 30 dari 90 peserta. Ke-30 siswa masih akan diseleksi setelah pelatihan sebulan itu hingga yang mendapat kesempatan pelatihan setahun untuk OFI 2003 di Taipei, Taiwan berjumlah sepuluh orang.

    Olimpiade Fisika Nasional hari Jumat malam kemarin dibuka Direktur Pendidikan Menengah Umum Dr Zamroni.

    Yohanes Surya yang menemukan kedua siswa berusia 12 dan 13 tahun itu dalam sebuah makan malam dengan para juri Olimpiade Fisika Internasional meminta nasihat kepada Prof Tjia May On PhD dari Jurusan Fisika ITB bagaimana pembinaan khusus kepada kedua murid berbakat dalam fisika ini. Tjia menyarankan supaya dicari jalan ke Amerika Serikat yang sudah punya sistem untuk menangani anak-anak jenius berusia sangat muda.

    "Saya tidak menemukan ada orang yang bisa menangani orang seperti itu di Indonesia," kata Tjia. "Harus ada sebuah tim yang terdiri dari fisikawan dan ahli psikologi."

    Prof The Houw Liong yang dimintai saran untuk membina Kevin dalam teori gravitasi relativitas umum Einstein menyebutkan nama Prof Pantur Silaban PhD, doktor pertama dari Indonesia dalam teori Relativitas Einstein. (SAL)


    ITB-Unud Tawari Beasiswa Juara OFI
    Oleh : Republika
    Jumat, 2 Agustus 2002 (00:01 WIB) dari IP 61.5.80.29

    Kamis, 01 Agustus 2002
    ITB-Unud Tawari Beasiswa Juara OFI

    DENPASAR -- ITB dan Universitas Udayana membuka pintu bagi para juara Olimpiade Fisika Internasional
    (OFI) ke-33 asal Indonesia. Tawaran itu termasuk rencana pemberian beasiswa bagi mereka yang memang
    berminat masuk ke dua kampus itu.

    Rektor ITB Kusmayanto Kadiman dan Rektor Unud I Wayan Wita mengungkapkan hal tersebut di Nusa Dua,
    Bali, pada acara penutupan OFI Senin (29/7). |APO||APO|Kami siap menampung mereka, sekaligus memberikan
    beasiswanya,|APO||APO| kata Kusmayanto dalam acara yang ditutup Mendiknas Malik Fadjar.

    Pernyataan itu dikemukakan Kusmayanto menanggapi tawaran beasiswa sejumlah perguruan tinggi asing
    kepada para juara OFI asal Indonesia itu.

    Lima orang pelajar Indonesia yang meraih medali dalam acara itu yakni Widagdo Setiawan (emas) dengan
    nilai 40,95, Agustinus Peter Sahanggamu (emas) dengan nilai 39,5, Fajar Ardian (emas) dengan nilai
    36,6. Sedangkan Christoper Hendrikus dan Evelyn Mintarno masing-masing memperoleh perak dan perunggu
    dengan nilai 32,9 dan 25,6.

    Kepada Republika, kelima pelajar itu mengemukakan belum memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan
    di Indonesia. Bahkan Fajar telah menerima tawaran beasiswa dari Nang Yang University of Technologi,
    Singapura dan Evelin akan kuliah di AS atas beaya sendiri. Kendati pun Widagdo, Agustinus, dan
    Christoper menyatakan akan istirahat dulu, namun mereka belum bermaksud melanjutkan kuliah di
    Indonesia. "Saya akan menunggu kesempatan tawaran belajar yang lebih dari luar negeri," kata Agustinus.

    Senada dengan Kusmayanto, Rektor Unud, Wita menyatakan akanmenyiapkan beasiswa bagi kelima pelajar yang
    merebut medali dalam OFI ke-33 itu. Bukan hanya tawaran untuk belajar tambahnya, tetapi juga akan
    disediakan beasiswa untuk yang bersangkutan.

    Secara terpisah, menanggapi tawaran beasiswa dari luar negeri dan keinginan para duta bangsa itu untuk
    belajar ke luar negeri, Mendiknas Malik Fadjar menyebutkan, bahwa semua itu menjadi hak masing-masing.
    hanya tambahnya, akan lebih baik jika selama dua atau tiga tahun mereka kuliah S1 dulu di Indonesia,
    setelah itu baru melanjutkan ke luar negeri. "Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan mental mereka, agar
    seimbang dengan kemampuan intelektualnya," kata Malik Fadjar.

    Sementara itu mengomentari keberhasilan para pelajar Indonesia meraih medali dalam olimpiade itu, Malik
    Fadjar menyebutkan bahwa Indonesi yang selama ini dianggap terpuruk justru mampu menunjukkan
    kualitasnya. Karena itu lanjut Mendiknas, untuk mendorong keinginan para pelajar menguasai dan
    mendalami ilmu-ilmu dasar seperti Kimia, matematika, Fisika, dan Biologi, seluruh mata pelajaran itu
    tahun depan akan dilombakan.

    Dengan keberhasilannya merebut tiga emas, satu perak, dan satu perunggu, Indonesia menempati peringkat
    keempat OFI ke-33 bersama-sama Cina Taipei, Hungaria, dan Azerbaijan. Peringkat pertama diraih Republik
    Islam Iran dengan lima medali emas, disusul RRC dan Korea, masing-masing dengan empat emas dan satu
    perak, sedangkan peringkat ketiga diraih Rusia dengan tiga emas dan dua perak.

    Tentang keberhasilan pelajar Vietnam meraih predikan absolut winner (siswa terbaik), Mendiknas
    menyebutkan, hal itu membuktikan bahwa setiap negara punya kelebihan dan potensinya sendiri-sendiri.
    "Kalu potensi yang kita miliki digali terus, maka nantinya akan muncul dan kelihatan juga," katanya.

    Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Dr Triyanta menjelaskan, dari 70 negara yang diperkirakan hadir,
    ternyata Uni Emirat Arab hingga acara olimpiade berakhir tidak kunjung datang. Namun demikian
    tambahnya, para peserta 69 negara yang ikut serta dalam olimpiade itu, menunjukkan semangat yang luar
    biasa. Menurut rencana OFI ke-34 akan digelar 2003 di Taiwan.(aas/bur


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2019 LIPI