fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 22 November 2019  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Forum informasi berita :

pengumuman berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    Peran OFI Mengembangkan Fisika di Indonesia
    Oleh : Kompas
    Kamis, 1 Agustus 2002 (23:52 WIB) dari IP 61.5.80.29

    Peran OFI Mengembangkan Fisika di Indonesia

    SELAMA sembilan hari di Nusa Dua, Bali, telah berlangsung Olimpiade Fisika Internasional (OFI) XXXIII.
    Sekitar 300-an siswa SMU dari 66 negara dan empat benua-Kenya terhalang biaya
    perjalanan-berkumpul di sana untuk memecahkan lima soal fisika dalam rangka meraih medali emas,
    perak, atau perunggu.

    Presiden Megawati Soekarnoputri membuka olimpiade ini dengan ucapan ?semoga hal ini lebih
    memperkenalkan fisika, yang menjadi sumber berbagai teknologi?. Yang dapat ditambahkan tentang hal
    ini adalah bahwa di Indonesia fisika kiranya terlebih berguna lagi sebagai alat untuk memahami
    perkembangan teknologi. Hal terakhir ini kiranya dapat dicatat oleh para lulusan SMU yang ingin
    melanjutkan studi menjadi sarjana serta ingin memahami dan menangani teknologi serta
    perkembangannya.

    Tampaknya kebanyakan orang masih dapat mengakui bahwa fisika memang mendasari-dan
    mempermudah-pemahaman teknologi seperti yang dikatakan presiden. Masalahnya, di Indonesia terlalu
    sedikit lulusan SMU yang memilih bidang fisika ini sebagai sasaran studinya.

    Mengapa demikian? Jawabnya klasik, yaitu pelajaran fisika di SMU memberi kesan rumit, telalu banyak
    matematikanya, sehingga menjadi tidak tampak indah, menariknya, atau gunanya. Kalau ditanya lagi
    mengapa demikian, jawaban yang dapat diberikan adalah karena para guru fisika tidak sempat
    mengkreasi kaitan antara hidup sehari-hari dengan fisika di kelas karena mereka pun dulunya diajari
    dengan pola seperti itu. Rumusan kurikulum Fisika SMU 2004 ternyata masih sama beratnya (atau lebih
    berat?) daripada sebelumnya.

    Menurut saya, perlu diupayakan terobosan tentang kurikulum SMP dan SMU ini. Lebih baik kita mundur
    selangkah, dengan amat membatasi materi fisika di SMP dan SMU, agar para guru fisika lebih
    berkesempatan mengembangkan kreativitas dan keterkaitan fisika dengan hidup sehari-hari. Memang
    mungkin lebih sering terjadi bahwa guru tetap tidak sempat mengembangkan pola presentasi fisikanya,
    tetapi setidaknya ada guru yang memperoleh kesempatan membuat fisika lebih menarik bagi beberapa
    siswa-siswi. Dengan demikian, animo memilih fisika sebagai bidang studi di perguruan tinggi dapat lebih
    meningkat.

    Kalau kita lihat jenis soal olimpiade tahun ini, tampak penggunaan radar untuk mendeteksi benda di
    dalam tanah (ingat bungker Tommy), penggunaan tegangan listrik oleh ikan untuk mendeteksi
    mangsanya, dan gerak gerobak menuruni lereng merupakan peristiwa yang dapat dipahami dengan fisika
    sederhana. Lalu, ada soal eksperimental menentukan muatan elektron dalam tetapan Boltzmann dan
    mereka-reka kelakuan optik oleh kisi difraksi dan cermin. Kalau latar belakangnya disimak, dapat
    diperoleh interpretasi di atas bahwa fisika memang dapat menjadi alat memahami peristiwa teknologi
    maupun alam.

    Pola soal olimpiade seperti itu rupanya, menurut para guru pendamping, cukup menimbulkan pujian, di
    samping keberatan karena dianggap tidak biasa oleh beberapa guru pendamping. Semoga pola soal
    seperti itu dapat menggugah pihak-pihak pengambil putusan di Indonesia untuk mulai memerdekakan
    pola pendidikan fisika di Indonesia.

    ***

    MEMANG ada keberatan, ?kalau begitu, rakyat Indonesia tidak akan paham fisika?. Namun, saya
    melihat dengan kurikulum yang penuh sesak, tetap saja fisika tidak terpahami, malah menjadi berkesan
    bahan hapalan yang dipenuhi rumus matematika saja.

    Kiranya literacy (kepahaman) perlu dibedakan dari awareness (kesadaran). Seba-gian besar warga perlu
    sadar bahwa ada fisika yang dapat menjelaskan banyak segi teknologi. Ini cukup untuk membuat mereka
    lalu mencari ahli fisika kalau merasa memerlukannya, sambil mengontrol unjuk kerjanya dengan akal sehat
    saja.

    Realitas saat ini adalah, yang memilih studi fisika hanya beberapa yang bermotivasi mendalaminya,
    sedangkan mayoritas masuk sekadar ?asal dapat sekolah? saja. Hal ini berakibat bahwa minoritas saja
    menjadi sarjana fisika yang berkemampuan cukup tinggi mengadaptasi diri pada pekerjaan apa saja yang
    tersedia, sedangkan kebanyakan lulusan fisika memperoleh pekerjaan macam-macam tanpa terlalu
    menguasai fisika (tetapi, ternyata masih tetap dapat menunjukkan kemampuan beradaptasi untuk
    berbagai pekerjaan itu).

    Memang pertanyaan lain yang sering terdengar adalah ?sarjana fisika dapat bekerja apa selain jadi
    guru?? Jawab yang bisa saya berikan adalah ?dapat bekerja apa saja?, tetapi ini dapat tampak terlalu
    arogan, atau justru tampak ?tidak jelas kemampuannya?.

    Kalau tentang pandangan ?hanya jadi guru?, menurut saya, justru pada masa ini kita memerlukan cukup
    banyak guru yang jujur dan mampu memupuk sikap itu pada siswanya. Posisi guru amat vital dan
    strategis bagi bangsa.

    Sebaliknya logo panitia OFI menggambarkan sedikitnya minat belajar fisika melalui ungkapan be one of
    the proud few (jadilah seorang di antara sedikit yang bangga) dan ungkapan Physics for excellence
    (fisika untuk mutu yang tinggi). Apakah ini juga mengukuhkan pandangan bahwa hanya sedikit yang
    dapat atau mampu meraih fisika dengan mutu tinggi?

    ***

    RUGINYA bagi bangsa adalah bahwa kemampuan menguasai fisika bagi kepentingan bangsa kurang
    terpenuhi, sehingga di masa depan Indonesia dapat makin lagi tergantung pada teknologi dan orang di
    luar, karena tidak berkemampuan menyerap cara kerjanya maupun mengembangkannya.

    Masalah yang tampak cukup menghambat pengubahan kondisi ini adalah belajar fisika memang
    memerlukan kerja keras dan suatu kemampuan bermatematika, di samping kemampuan mengembangkan
    suatu interpretasi fisis tentang matematika itu. Ini berlawanan dengan sikap umum masa kini, yaitu sikap
    ingin hasil langsung, instant. Rupanya takkan banyak siswa yang akan rela menjalani kerja keras ini.

    Jadi, yang menurut saya tindak lanjut yang patut bagi OFI ini adalah bila kurikulum fisika SMU dapat
    tersusutkan untuk menyempatkan para guru memicu kreativitas dan keterkaitan fisika dengan hidup
    sehari-hari. Kegiatan seperti acara Galileo di SCTV (akan muncul segera setelah jeda beberapa bulan)
    juga dapat membantu menunjukkan bahwa fisika itu dapat menggembirakan dan menarik. Pusat-pusat
    peragaan sains pun memiliki peran dalam membuat fisika menarik bagi siswa. Namun, guru menjadi
    pemeran yang paling efektif.

    Apa tujuan semua ini?

    Menurut saya, di samping menunjukkan bahwa fisika memang dapat menarik, juga agar fisika lebih
    banyak didalami orang sehingga menjadi ilmu yang cukup terkuasai di Indonesia. Mengapa? Karena itu
    menjadi basis kalau kita kelak sempat berkembang menjadi negara berindustri kokoh. Kalaupun hal
    terakhir ini tidak tercapai, cara ini merupakan jalan untuk menghasilkan warga yang adaptif dan yang
    dapat bekerja di bidang apa saja.

    DR A RUSLI, Dosen pada Departemen Fisika ITB


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2019 LIPI