fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 22 November 2019  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Forum informasi berita :

pengumuman berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    Metamorfosis universitas-museum
    Oleh : Agus Purwanto
    Kamis, 25 Juli 2002 (08:48 WIB) dari IP 202.55.128.72

    Oleh: Agus Purwanto


    --------------------------------------------------------------------------------
    Staf pengajar PTN di Jawa Timur, alumnus Universitas Hiroshima, Surabaya
    Artikel Prof Dr Ir Hendrawan Soetanto (HS) berjudul Lima kegagalan tugas guru besar (Surya, 27/6/02) isinya menggelitik. Betapa tidak, dari delapan tugas guru, ternyata lima di antaranya gagal dilaksanakan. Bukan sekadar itu, justru kegagalan itu ada pada tugas yang mendasar, sedangkan tiga yang berhasil adalah tugas sekunder. Lima kegagalannya adalah dalam pelaksanaan tugas sebagai mentor, penemu sesuatu yang baru, penulis publikasi ilmiah, penyebar luas kebenaran ilmiah dan pelaku perubahan.

    Ketika masih kuliah, penulis merasakan ada sesuatu yang kurang di perguruan tinggi. Padahal, justru sesuatu yang diimpikan, yaitu tradisi berdiskusi ilmiah atau berpikir bebas. Mahasiswa cenderung hidup sebagai anak manis yang malas berpikir apa yang dijejalkan di kelas. Apalagi berpikir dan menyikapi keadaan sekitarnya secara kritis.

    Beberapa tahun lalu, para kolega dosen mengeluhkan mahasiswa karena tak mau me-review serta memahami lebih lanjut materi kuliah. Saat itu penulis mengingatkan adanya hukum asimilasi yang menyatakan, pohon mangga akan berbuah mangga pula, bukan yang lain. Artinya, kondisi mahasiswa yang memprihatinkan bisa dilacak sebab-musababnya pada kualitas pohonnya, dalam hal ini gurunya.

    Kenyataannya, tradisi diskusi ilmiah bukan saja hilang dari kehidupan mahasiswa, juga dari para guru sendiri. Dunia universitas memang mengalami krisis dan butuh simbol. Yang dimaksud adalah staf pengajar yang punya moralitas dan reputasi berupa karya ilmiah yang diakui komunitas sejenis secara luas. Tiadanya tradisi berpikir bebas dan miskinnya prestasi publikasi, adalah kenyataan pahit yang sulit disangkal.

    Mengapa kondisi ini bisa terjadi? Sebab klasiknya adalah gaji rendah dan keterbatasan fasilitas laboratorium dan perpustakaan. Gaji rendah memaksa staf pengajar harus kerja sambilan. Seringkali jenis kerja sambilannya tak terkait dengan bidang yang digelutinya dan jam kerjanya melebihi jam kerja resminya. Sebab berikutnya adalah minimnya fasilitas laboratorium dan perpustakaan.

    Kedua alasan tsb masuk akal, meskipun perlu kita pertanyakan keabsahannya. Benarkah sebab utamanya adalah gaji dan fasilitas? Gaji kecil merupakan cerita lama dan terwariskan turun-temurun. Dengan demikian orang yang membuat pilihan profesi sebagai staf akademik di PT, mestinya sadar gajinya akan kecil. Kesadaran ini akan memaksanya berpikir alternatif agar bisa eksis sebagai komunitas universitas, dengan segala misi sucinya. Kenyataannya, gaji kecil seolah-olah dijadikan pembenar untuk shock berkepanjangan dan tak peduli atas misi universitas.

    Fasilitas laboratorium dan perpustakaan yang tak memadai, juga sudah diketahui sejak masih jadi mahasiswa. Karenanya, kenyataan ini juga harus diantisipasi jauh hari, dalam bentuk perencanaan pengembangan. Misalnya, dalam dua-tiga kali kurun lima tahunan, laboratorium sudah punya peralatan demi peralatan, bisa riset dan menghasilkan paten atau publikasi di jurnal internasional.

    Para staf seolah tak sadar kondisi gaji dan laboratoriumnya. Namun, keduanya bukan alasan utama bagi para staf akademik universitas, terlebih para guru besarnya, untuk tak berkarya dan menjalankan misi pencerahan dan perubahan sosial. Bila demikian apa alasan mendasar atas tiadanya prestasi tsb?

    Kita pernah membayangkan betapa indahnya bisa studi di luar negeri. Di sana bertemu dengan para mahaguru terkenal. Juga bisa mengadakan diskusi ilmiah dan debat bebas dengan para duta bangsa pilihan dari berbagai instansi di tanah air. Impian studi di luar negeri, bertemu dan berguru kepada para mahaguru yang piawai di bidangnya, bisa menjadi kenyataan. Meskipun ada juga impian yang tinggal impian dan membuat kita masygul.

    Kuriositas "ilmuwan" kita di luar negeri, relatif rendah. Ini bisa dilihat dari jenis aktivitas yang diselengarakan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) maupun isi mailing list-nya. Berbeda dengan kegiatan olahraga yang umumnya diselenggarakan setiap Sabtu atau Minggu, kegiatan diskusi atau presentasi sangat jarang diselenggarakan.

    Mahasiswa kita umumnya hidup dengan beasiswa berlebih, meski membawa keluarga. Fasilitas laboratorium dan perpustakaan sangat lengkap. Pendeknya tinggal melakukan riset yang sesuai minatnya, tanpa harus memikirkan kondisi dapurnya. Di Jepang, yang menerapkan sistem pendidikan lanjut by research, umumnya menuntut dua-tiga published paper sebagai syarat minimum mendapatkan gelar doktor. Waktu total studi tingkat doktor, tiga tahun. Rentang waktu ini, ditambah satu tahun sebagai research student, cukup untuk menulis publikasi lebih dari jumlah minimum, sekaligus memilih jurnal dengan impact factor tinggi, yang proses review-nya memerlukan waktu lebih lama.

    Yang kita saksikan, semua kondisi itu belum termanfaatkan maksimal. Tak sedikit dari pelajar Indonesia di luar negeri, sebagian staf perguruan tinggi, molor masa studinya. Mereka bak anak ayam mati di lumbung padi. Memang akhirnya lulus dan menyandang gelar doktor, meski sebagai minimalis, lulus dengan publikasi di jurnal ber-impact factor rendah dan dalam jumlah minim pula.

    Jelaslah alasan mendasar atas gagalnya tugas yang diemban oleh guru besar khususnya dan para staf bergelar doktor umumnya, bukannya gaji kecil dan keterbatasan fasilitas. Sebab utamanya adalah motivasi dan kemampuan proper research para doktor dan guru besar itu. Dari ungkapan polos, misi utama studi lanjut para duta bangsa tsb, adalah gelar itu sendiri.

    Keadaan di atas sangat terkait dengan budaya malu. Fenomena gelar doktor yang didapat hanya dengan membayar beberapa juta adalah fenomena masyarakat yang kehilangan rasa malu. Juga fenomena doktor dan guru besar tanpa karya, yang dibuktikan melalui paten atau publikasi di jurnal internasional. Kondisi tsb diperparah kenyataan bahwa masyarakat tak bisa mengontrol mereka. Siapa di antara mereka yang ilmuwan sejati dan ilmuwan gadungan atau pseudoscientist. Bila demikian akar masalahnya, bagaimana cara mengatasi hal tsb?

    Ada cara cukup efektif untuk menumbuhkan budaya malu dan memaksa para akademisi berkarya atau setidaknya diam bila tak punya karya. Dengan demikian, atmosfer dunia ilmu kita akan terbebas dari polusi kebohongan atau klaim kosong. Cara tsb adalah membuat situs yang berisi data anggota komunitas akademik tertentu, lengkap dengan daftar publikasinya. Cara ini diterapkan oleh komunitas fisika Indonesia, khususnya komunitas fisikawan teoretik, sejak tahun 1997. Situs tsb adalah http://hfi.fisika.net atau http://gfti.fisika.net.

    Di situs kedua, keanggotaan diklasifikasikan menjadi dua, yakni honorary dan regular member. Anggota kehormatan (honorary) adalah profesor, doktor, master atau sarjana fisika teoretik, yang belum punya publikasi internasional. Sedangkan anggota biasa adalah yang punya sedikitnya satu publikasi di jurnal internasional. Situs ini disambungkan ke database milik Los Alamos National Laboratory, USA dan Yukawa Institute for Theoretical Physics Kyoto Jepang. Karenanya, data publikasi akan segera muncul di situs GFTI, begitu data tsb masuk di database dan muncul di situs kedua institusi tsb.

    Setiap orang bisa ngecek langsung nama fisikawan teoritis kita, apakah benar nama tsb ilmuwan hebat yang punya karya atau sekadar ngetop karena di-blow up media massa. Jujur saja, barometer kerja seorang ilmuwan (eksakta khususnya) hanya dua, yaitu paten atau publikasi di jurnal internasional. Pekerjaan seperti penataran atau menjadi pembicara pada berbagai seminar juga penting, tetapi bukan utama.

    Teknologi internet ini memungkinkan orang di seluruh dunia melacak kontribusi ilmuwan setiap negara, termasuk Indonesia. Dengan demikian, cepat atau lambat jati diri universitas kita yang sesungguhnya pun, diketahui. Orang akan tahu apakah universitas kita adalah lembaga riset dengan karya orisinal atau sekadar museum tempat menyimpan piranti laboratorium dan buku usang serta para staf pengajar dengan pengetahuan yang kedaluwarsa (berasal dari textbooks bukan jurnal terbaru) pula.

    Kesimpulannya, universitas kita memang telah bermetamorfosis menjadi museum. Menyedihkan, tetapi apa boleh buat itulah realitas yang harus kita akui, baru kemudian berusaha mengatasinya. Itu pun, bila kita menghendaki. Sebab tak tertutup kemungkinan kita lebih menyukai profesi sebagai penjaga museum, ketimbang sebagai periset, sekaligus agen pencerahan dan perubahan.


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2019 LIPI