fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Rabu, 22 November 2017  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Forum informasi berita :

pengumuman berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    Harus Mulai Dipikirkan, Pengembangan Ilmu Murni
    Oleh : Ristek
    Rabu, 3 Juli 2002 (21:29 WIB) dari IP 140.105.16.2

    Diterbitkan di : Ristek.go.id Indonesia

    Cendekiawan Nurcholish Madjid mengatakan, sudah saatnya kita mulai memikirkan pengembangan ilmu murni (pure science), tidak hanya ilmu terapan
    (applied science) seperti selama ini. Ini penting sebagai suatu investasi jangka panjang yang bersifat human investment, agar (bangsa) kita menjadi lebih
    independen.

    Gagasan ini dikemukakan Nurcholish Madjid ketika berbicara dalam acara Deklarasi Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pemikiran (Institute for Studies
    and Development of Thought/ISDT) di Jakarta, beberapa waktu yang lalu. Lembaga swadaya masyarakat yang dideklarasikan 17 orang dari berbagai latar
    belakang profesi, suku, ras, dan agama tersebut bertujuan mengembangkan kebebasan berpikir masyarakat Indonesia guna ikut memecahkan persoalan
    bangsa.

    "Ini (tujuan ISDT tersebut) mengingatkan saya pada artikel yang dimuat Time edisi terakhir. Di situ dikatakan bahwa sebaiknya orang Asia sudah mulai
    memikirkan kemenangan dirinya sendiri dan tidak bergantung kepada (negara) Barat. Contohnya, ditemukan suatu jenis padi-padian yang mengandung
    vitamin A yang akan merupakan kebutuhan pangan sangat penting bagi masyarakat Asia. Ternyata segala sesuatu yang dibutuhkan orang Asia juga dipikirkan
    di negara Barat, dan kita menjadi bergantung pada orang Barat, karena diakui bahwa penemuan itu merupakan hasil temuan mereka," katanya.

    Cuma jadi konsumen

    Dalam kondisi yang demikian, apalagi jika kita tetap membiarkannya begitu, demikian Nurcholish Madjid, maka posisi kita sebagai bangsa hanya akan menjadi
    konsumen tanpa pernah bisa menjadi produsen. Dengan begitu sudah jamak bila konsumen selalu kalah dibandingkan produsen. "Kadang-kadang kita
    memakai sesuatu karena memang didikte oleh produsen," kata Cak Nur.

    Oleh karena itu, ia mengingatkan agar pengembangan ilmu murni betul-betul dipikirkan, tidak hanya ilmu terapan. "Memang kadang-kadang agak menggoda
    sedikit dalam arti negatif, yaitu bahwa kalau kita serius tekanannya pada ilmu murni maka seolah-olah kita menjadi tidak praktis. Tetapi sebagai suatu investasi,
    itu adalah upaya paling strategis karena kita akan jadi lebih independen," jelasnya.

    Dikatakan, pengembangan ilmu murni sebagai sebuah investasi adalah suatu human investment. Suatu human investment berarti perlu waktu yang tidak
    pendek, paling tidak satu generasi. Jika langkah itu kita mulai sekarang, artinya baru satu generasi lagi diketahui manfaatnya atau kira-kira perlu waktu 20
    tahun. "Saya kira dukungan terhadap argumen itu bisa diambil dari kenyataan bahwa negara kita juga mengalami siklus 20 tahunan, yaitu tahun 1905-1928,
    1945-1965. Tahun 1985 sebetulnya sudah ada gejala yang besar sekali tetapi sering kita tidak sadar, yakni naiknya paranan lulusan universitas. Sekarang
    berharap, tahun 2005 akan terjadi satu lonjakan yang besar, yaitu masa era demokrasi sebenarnya yang kini dirintis oleh `buldoser` Gus Dur," katanya.

    Rektor Universitas ParamadinaMulya ini memang mengibaratkan Gus Dur sebagai buldoser yang bertugas meratakan segala rintangan demi suksesnya
    membangun bangunan baru, Gedung Indonesia Baru. "Gus Dur fungsinya sebagai buldoser sekarang ini," tambahnya.

    Akan ketinggalan

    Menurut Cak Nur, jika kita tidak melakukan penelitian ilmu murni maka Indonesia selalu ketinggalan karena akan selalu berada pada posisi konsumen. Meski
    diakui untuk pengembangan ilmu murni sangat mahal, namun itu merupakan suatu keharusan. Bukankah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara diperlukan
    adanya orang-orang yang mengembangkan nuansa-nuansa yang murni?

    Tentang hal ini ia menyejajarkannya dengan demokrasi yang saat ini sedang mendominasi keseluruhan pikiran bangsa Indonesia mengenai politik. Bagi Cak
    Nur harus ada pemikiran murni mengenai demokrasi. Sekalipun kita dengan mudah bisa menggunakan pemikiran-pemikiran yang ada di Barat, misalnya, akan
    tetapi kenyataannya di Barat sendiri demokrasi juga bermacam-macam. "Maka, kita sebenarnya juga berhak mengatakan atau mengklaim bahwa ada suatu
    bentuk demokrasi yang paling lengkap di Indonesia, karena ternyata tidak ada korelasi positif antara kerajaan dan republik. Lihatlah Jepang, sebuah negara
    demokratis merupakan bekas kerajaan. Maksud saya, ada suatu model dari demokrasi yang barangkali tidak kita duga, yaitu kerajaan," jelasnya.

    Dalam kaitan pengembangan ilmu murni ia kembali mengingatkan bahwa untuk meraih hasil yang diharapkan memang butuh waktu lama. "Perlu kesabaran dan
    dalam kesabaran ada dimensi waktu. Oleh karena itu harus ada kesadaran mengenai planning, investasi yang konsisten, dan kepemihakan kepada kontinuitas,
    jangan sampai ada keterputusan," kata Cak Nur.


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI