fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 20 Oktober 2017  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Pesona Riset dan Fisika bagi Arifin Dobson
HMS

Muhammad Arifin Dobson mewakili Program Studi Fisika Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) maju dalam ajang penghargaan Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) 2017 yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) setiap tahunnya. Ia mengungkapkan, Ketua Program Studi (Kaprodi) Fisika Phillips N. Gunawidjaja, Ph.D mendorongnya untuk ikut Pilmapres. Pada saat itu, ia memiliki sebuah riset yang belum benar-benar tergarap.

“Memang ingin (mengikuti Pilmapres), diminta (oleh Kaprodi), dan kebetulan ada riset yang ingin digarap. Jadi, semuanya pas pada waktunya, alhamdulillah. Idenya sudah matang, tapi penulisannya keundur karena ada lomba,” kata Arifin, sapaan akrab Muhammad Arifin Dobson. Banyak orang tak menyangka, mahasiswa kelahiran Palangkaraya 20 tahun lalu itu gemar melakukan berbagai riset dan percobaan.

‘Gila’ Riset dan Jatuh Hati pada Fisika

Sebuah konferensi di Singapura membuka matanya mengenai sains. Konferensi high-end physics itu dihadiri sejumlah peraih Nobel Prize kenamaan. Kendatipun presentasi-presentasinya tidak ia mengerti, matanya berbinar. Detik itu, ia terpikat high end physics yang ia pikir bisa membuatnya bereksperimen besar, ia terpesona oleh dasar ilmu alam semesta, atau apa yang dimaksud dengan atom ikatan, dan lainnya. Sepulangnya dari konferensi, Arifin berterus terang kepada sang Ayah, ia jatuh hati pada fisika.

Berbagai lomba ia ikuti dan sejumlah riset ia garap. Pesona riset yang ia sukai adalah berimajinasi. Berawal dari berimajinasi, ia bisa mengubah bentuk material, kemudian menjadikan sesuatu yang berguna bagi orang lain.

“Jadi, senangnya di situ. Kita belajar banyak hal. Mengubah (mendesain) banyak hal itu bisa belajar geometri. Dan dari banyak bikin (riset) ini, bisa dapat skill untuk bikin yang lebih bagus,” ujarnya bersemangat sambil memainkan robot buatan mahasiswa-mahasiswa Fisika.

Ide-ide untuk melakukan riset pun datang dari lingkungan sekitar dan kegiatan sehari-hari. Apabila sedang menyetir kendaraan, ide yang meletus berkaitan dengan infrastruktur. Misalnya, melihat jalan berlubang dan banjir, atau trotoar yang ideal bagi pejalan kaki. Ia sempat terpikirkan untuk membuat semen dalam kemasan saset yang bisa ditakar untuk tambalan non-permanen sehingga lubang tidak begitu saja dibiarkan sampai besar.

Dirikan Sekolah Seperti ‘Three Idiots’

Sejak masuk Unpar dan menjadi mahasiswa baru, Arifin memiliki keinginan untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Tidak hanya dalam hal akademik perkuliahan saja, tetapi juga membuat riset yang bermanfaat bagi masyarakat. Impiannya kini, ingin melanjutkan studi hingga memiliki nama depan Professor dan menjadi seorang dosen.

Keinginan terbesarnya, seperti tokoh utama Rancho di dalam film ‘Three Idiots’, adalah mendirikan sebuah sekolah. Sekolah impiannya adalah sebuah institusi yang membudayakan riset. Institusi yang terdiri dari sekolah dasar sampai dengan pendidikan tinggi. Sekolah yang digambarkan di dalam film itu dipenuhi dengan hasil karya ilmiah anak-anak yang out-of-the-box.

“Bukan riset yang kaku, tapi lebih santai. Mungkin riset-riset sederhana, tapi itu bisa menumbuhkan budaya riset anak yang membuat mereka mampu berpikir kritis. Bisa dibilang kayak yayasan, institusi lebih tepatnya,” kata Arifin berangan-angan.

Ia mengungkapkan, institusi riset yang ingin ia dirikan itu ditujukan kepada orang dewasa dan anak-anak. Apabila topiknya serius, lanjutnya, orang dewasa bisa menanyakan pendapat anak-anak sehingga antara high level research dan preliminary research bisa berkolaborasi. Menurutnya, selama ini, masing-masing selalu berjalan sendiri. Padahal, ide anak-anak bisa jadi luar biasa, bahkan terkadang tidak terpikirkan oleh orang dewasa sekalipun, tambahnya.

Selain itu, ia ingin menjadi seorang pebisnis karena, menurutnya, apabila tidak bisa berbisnis, maka ia tidak bisa membangun sekolah idealnya itu.

Nilai-Nilai dalam Keluarga

Ibunda selalu berkata, “Jangan egois. Seperlu-perlunya dirimu, jangan lupakan orang lain.” Salah satu nilai yang tersemai di dalam sanubari Arifin. Mulai dari perkataan hingga perbuatan, lanjutnya, harus memikirkan orang lain. Dari apa yang sudah dibelanjakan, harus melihat apakah mengambil hak orang lain atau tidak, lanjutnya.

“Jadi, kalau bahasa gaulnya, ‘jangan seenakna dewek’. Harus bersosialisasi dengan baik dan jangan lupa melihat hak orang lain,” ujar pria keturunan Jawa-Skotlandia itu.

Adapun, sang Ayah selalu mengajarkan untuk tidak menjadi orang yang skeptis. Apabila tidak sependapat dengan pandangan seseorang, jangan ditolak mentah-mentah. Tetapi, harus didengarkan dan dicerna. Dengan begitu, ide-ide yang diterima bisa bertambah. Bahkan, ide yang mulanya dipandang mustahil, bisa menjadi brilian, ungkapnya.

Sumber : Fisika UNPAR

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 19 Juni 2017

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI