fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Sabtu, 21 Oktober 2017  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Peraih Hadiah Nobel Fisika 1999 Sambangi ITB
dd

Peraih hadiah Nobel Fisika tahun 1999, Prof Gerrardus 't Hooft mengunjungi Institut Teknologi Bandung (ITB), Senin (31/10/2016).

Ia datang untuk menjadi pembicara utama dalam International Conference on Mathematics and Natural Sciences (ICMNS) ke-6 tahun 2016, pada tanggal 2-3 November.

Dalam konferensi tersebut akan hadiri sejumlah ilmuwan serta pakar dari berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

ICMNS merupakan pertemuan ilmiah yang digelar secara rutin dua tahunan yang ditujukan untuk mempertemukan para ahli di berbagai bidang agar dapat saling bekerjasama lintas disiplin dan antar disiplin. Pertemuan ini diselenggarakan di tingkat nasional sejak tahun 1998 oleh FMIPA-ITB, dan berubah menjadi pertemuan bertaraf internasional sejak tahun 2006.

"Kunjungan Prof Gerrardus 't Hooft selain menjadi pembicara utama pada ICMNS 2016, juga untuk memberikan pencerdasan kepada masyarakat umum dalam bidang sains dan sekaligus memberikan inspirasi kepada para pelajar di Indonesia untuk memajukan pengetahuan sains dan teknologi," ujar guru besar ITB, Prof Djoko Santoso dalam jumpa pers kunjungan Prof Gerrardus 't Hooft di ruang Rapim A, Rektorat ITB, Jalan Taman sari, Kota Bandung, Senin (31/10).

Dalam lawatannya Prof Gerrardus 't Hooft dijadwalkan akan memberikan sejumlah kuliah yang berkaitan dengan riset pengetahuan dan pendidikan fisika, pertama yang bertajuk "Challanges in Physics Research and Education" pada tanggal 1 November 2016 di gedung CRCS ITB dengan sesi telekonferensi yang terhubung dengan enam universitas termuka di Indonesia.

Kuliah kedua dengan topik "Standard Model and Beyond" yang merupakan bagian dari ICMNS ke-6 akan diberikan profesor kelahiran 5 Juli 1946 di Den Helder, Belanda tersebut pada 2 November 2016 di gedung Aula Barat ITB. Dan kuliah ketiga pada 4 November 2016 adalah kuliah umum dengan judul "Grand Public Lecture : A Road to Nobel Prize" dengan sasaran masyarakat umum yang akan diselenggarakan di Sasana Budaya Ganesha ITB.

Kuliah umum tersebut ditujukan dan terbuka untuk masyarakat umum, bagi mereka yang berminat dapat melakukan registrasi kuliah umum tersebut dapat diakses di http:portal.itb.ac.id/nobel,

Berdasarkan jadwal yang dihimpun Tribun, Prof Gerard t Hooft juga akan menghadiri sebuah gala dinner bersama Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan pada 2 November 2016 dan mengunjungi beberapa situs-situs bersejarah seperti observatorium Bosscha.

Kontribusinya dalam sains khususnya fisika menuaikan hasil yang sangat signifikan yaitu penemuan top quark sebuah partikel elementer, yang akhirnya melengkapi model standar dari penyusun alam semesta dan stuktur besar alama semesta.

Disampaikan Djoko, ITB sebelumnya pernah menghadirkan tiga peraih nobel dan penghargaan internasional lainnya, seperti Prof. Robert Huber, pada tahun 2011 (Peraih penghargaan Nobel di bidang Kimia 1998), Prof Cedric Villani (Field Medalist 2010) pada 2011, dan Prof Brian Schmidt (peraih penghargaan Nobel di bidang Fisika 2011) pada tahun 2014.

Prof Gerrardus 't Hooft berhasil meraih Hadiah Nobel Fisika pada tahun 1999 bersama dengan pembimbingnya, Martinus JG Veltman, untuk spesialisasi teori "penguraian struktur kuantum interaksi elektrolemah". Penelitiannya terkonsentrasi pada teori ukuran, lubang hitam (black hole), gravitasi kuantum dan aspek-aspek dasar mekanika kuantum. Sumbangannya bagi ilmu fisika teoretik berupa bukti bahwa teori ukuran dapat direnormalisasi, regularisasi dimensional dan prinsip holografik.

Prof Hooft menuturkan bahwa ilmu fisika sangat penting dalam kehidupan sehari-hari karena bisa membantu manusia mempelajari cara kerja benda yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Karena 99 persen di alam semesta ini sangat berkaitan dengan fisika.

"Dengan hukum fisika kita bisa memahami bagaimana alam semesta ini bekerja. Bahkan, di luar itu, jaringan tubuh manusia juga bisa dijelaskan lewat fisika," ujar Prof Gerrardus 't Hooft kepada wartawan dalam sesi tanya jawab konferensi pers di ruang rapat pimpinan A rekrorat ITB. (dd)

Sumber : Tribun Jabar, 1 November 2016

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 2 November 2016

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI