fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 20 Oktober 2017  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Wawancara dengan Agung Budiyono, Fisikawan Muda Berbakat
Tim Inovasi

Agung Budiyono, sebuah nama yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia di Jepang yang dikenal melalui puisi-puisi dan komentar-komentarnya pada mailing list PPI-Jepang. Dibalik puisi-puisi indahnya itu, ternyata beliau merupakan fisikawan muda yang menonjol, menyelesaikan Ph D pada usia yang relatif muda (27 tahun), aktif berpartisipasi pada konferensi-konferensi ilmiah dan menulis banyak artikel di Journal-Journal ilmiah. Di tengah kesibukan beliau yang padat, Inovasi akhirnya berkesempatan mewawancari beliau untuk kolom Tokoh edisi kali ini. Berikut petikan wawancara singkat dengan beliau.

Selamat siang Mas Agung, terima kasih banyak atas kesediaannya menerima Inovasi. Terakhir ini kegiatannya sibuk sekali ya Mas?

Seharusnya saya sibuk (apologi untuk sering main;-)). Kalau sehari-hari, walaupun tidak ada jam khusus, biasanya ke kampus setiap hari Senin-Jumat, rutinitas biasa.

Menurut pandangan umum, Fisika merupakan mata pelajaran yang ditakuti pelajar, mengapa Anda justru memilih bidang Fisika ?

Pada saat SMP, saya memang menyukai Fisika. Tetapi ketika memasuki SMA minat saya lebih ke pelajaran Matematika. Ketika kuliah jenjang Sarjana, saya justru memilih teknik elektro dan akhirnya kembali ke Fisika lagi, khususnya chaos-quantum chaos, pada saat program Master dan Doktor serta saat ini. Mungkin sudah suratan kembali ke asal, ke “cinta pertama”, hahaha….

Fisika mungkin merupakan hal yang dihindari oleh kebanyakan orang, tapi bagi saya (dan juga banyak fisikawan lain) Fisika sebenarnya merupakan sebuah tempat pelarian yang menyenangkan dan lumayan sehat. Bagi saya membaca suatu teori fisika ato menjelaskan penomena fisis sama dengan halnya membaca sebuah novel atau menulis karya sastra, dimana kita bisa merasakan alur cerita yang logis lengkap pembukaan sampai dengan klimaksnya. Satu hal penting, Fisika itu indah (mungkin ini gara-gara apriori kita bahwa alam/objek fisis itu indah), kita berusaha menjelaskan fenomena dan menuangkannya dalam formulasi yang seindah-indahnya. Dengan kata lain, bagi saya fisika dan seni itu berhubungan. Bahkan banyak fisikawan juga seniman, minimal amatiran.

Karena itu Anda gemar menulis puisi ya. Apakah ada pengaruhnya terhadap penelitian?

Saya mulai menulis puisi sejak SMA, biasa pengaruh cinta monyet. Awalnya menulis puisi cinta untuk teman sekelas. Selain puisi rayuan yang tidak manjur itu, waktu SMA saya juga pernah menulis puisi tentang lingkungan yang di muat di sebuah antologi terbitan majalah Trubus. Itu satu-satunya puisi yang pernah saya publis di media umum (tidak termasuk milist).

Pada saat S1, saya berhenti menulis puisi, karena saya pikir puisi membuat orang cengeng. Tapi, kembali menulis puisi sejak program Master. Sekarang menurun lagi. Mungkin sudah nasib orang cengeng. Ternyata, di dunia yang serba ”dingin” ini, kecengengan yang ditawarkan puisi lumayan berguna seperti halnya fisika. Kita bisa berpura-pura bahwa ada dunia ideal di sana.

Anda lulus PhD dalam usia yang sangat muda serta menghasilkan banyak tulisan yang dimuat di Journal-Journal. Apa kiatnya?

Sebenarnya kalau dikatakan usia yang sangat muda, tidak juga ya. Mungkin karena sejak S1 saya di Jepang, sehingga kalau dibandingin teman-teman yang S1 di Indonesia saya relatif lebih muda.

Untuk menulis paper, memang perlu ketekunan dan latihan. Untuk menjadi peneliti saya kira kita harus suka dan tahan merenung dan bermimpi. Pengalaman saya, yang paling berat dalam penelitian itu adalah saat mengformulasikan masalah. Terkadang dibutuhkan waktu sampai berbulan-bulan untuk itu. Di sini dibutuhkan ketahanan mental seorang peneliti, ketahanan untuk bergelisah, berbulan-bulan, yang terkadang menyiksa. Karena saat-saat itu, terkadang kita merasa seperti tidak melakukan apa-apa. Tetapi setelah masalahnya kita formulasikan, selanjutnya adalah masalah teknis yang rutin, yang kebanyakan sudah ada contohnya. Di sisi ini juga, bisa kita lihat kesamaan antara seorang peneliti dan seniman.

Target yang ingin dicapai dalam penelitian?

Seperti semua peneliti, impian saya adalah menghasilkan sesuatu hal/teori baru yang significan. Mengenai target, untuk saat ini saya lebih terfokus menulis paper sebanyak mungkin. Saya harapkan dari penelitian-penelitian kecil yang saya lakukan saat ini, ada minimal satu yang kelak bermanfaat.

Setelah sekian lama di Jepang, ada rencana untuk kembali ke Indonesia?

Setelah siap, saya berencana untuk kembali ke tanah air. Mungkin seperti kita ketahui semua, anggaran biaya penelitian yang diberikan pemerintah, khususnya ilmu dasar, sangat kecil. Jadi supaya tidak menjadi beban pemerintah, saat ini saya berusaha menjalin hubungan seluas mungkin dengan kolega-kolega di negara maju, sehingga jika kembali ke Indonesia saya bisa melakukan penelitian dengan kerja sama melalui jaringan internasional.

Memang menyedihkan jika melihat perhatian pemerintah yang sangat kecil terhadap penelitian ilmu dasar. Padahal untuk jangka panjang, penelitian ilmu dasar penting sekali. Yah, mungkin karena negara kita masih merupakan negara berkembang yang disibukkan dengan masalah-masalah jangka pendek yang mendesak. Akhirnya, disisi akademis juga lebih terfokus pada hal-hal terapan, yang hasilnya bisa dirasakan dalam jangka pendek.

Selain sibuk dengan penelitiannya, Anda juga tergabung dengan KMNU Nihon. Bisa diceritakan sedikit kegiatan organisasinya?

Benar. Sejak KMNU Nihon terbentuk, saya masuk ke bagian “Pokja Pendidikan dan Kebudayaan”. Sebenarnya pengen keluar, karena dilarang macam-macam oleh gus-gus itu. Kegiatan kami, selama ini mengadakan kajian-kajian ilmiah dengan scholar-scholar disini, termasuk orang-orang Jepang. Diharapkan selain terjadi sharing/transfer pengetahuan, juga menambah jaringan silaturahmi.

Ada pesan untuk pelajar atau peneliti pembaca Inovasi?

Bagaimana ya, mungkin rekan-rekan juga tahu dan mengalami sendiri suka dan duka belajar di Jepang yang akan jadi panjang dan terlalu personal kalo saya ceritakan. Satu hal sederhana yang mungkin ada di benak dan jadi modal selama ini bagi saya adalah tatapan wajah (foto) Ibu saya tersayang, yang seolah-olah mengatakan “Kalaupun gagal, pulang saja ke rumah”. Mungkin inilah yang membuat saya untuk betah bertahan sampai giri-giri. Saya tidak berani menyarankan hal yang sama pada teman-teman yang senasib di sini.

Begitulah petikan singkat wawancara dengan Mas Agung Budiyono yang selalu tampil dengan gayanya yang sederhana dan low profile. Semoga peneliti-peneliti muda yang berprestasi seperti Mas Agung, bisa tetap konsisten dan kelak menjadi ujung tombak Bangsa Indonesia dalam mencapai kemajuan di dunia ilmiah.(Siti Jahroh)

Biodata

Nama Lengkap:

Agung Budiyono/single

Pendidikan:

S1: Kyoto University (Mar ’96-Mar’99, tidak selesai), S2: Kyoto University (Apr ’99-Mar ’01), S3: Osaka City University (Apr ’01- Sep’03)

Afiliasi saat ini:

Department of Basic Science, Graduate School of Arts and Sciences, the University of Tokyo.

JSPS post doctoral fellow at the laboratory of nonlinear molecular science.

http://mns2.c.u-tokyo.ac.jp/~agungby/index-e.htm

Afiliasi di Indonesia:

Belum ada

Research saat ini:

Main interest: Semiclassical physics of systems with chaotic classical limit (quantum chaology)

More specifically: on the relation between the dynamic of an open chaotic quantum system with its macroscopic transport phenomena.

Others: The general problem of quantum—classical correspondence in quantum mechanics, quantum information theory etc.

Organisasi yang diikuti saat ini:

KMNU Nihon, Pokja Pendidikan dan Kebudayaan


Sumber : Inovasi Vol. 2/XVI/November 2004

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 4 Juli 2016

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI