fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Selasa, 16 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Kehidupan Asmara Hawking: raga lumpuh, jiwa masih bisa tersentuh
Adib Rifqi Setiawan (Pelantan Society)

Tubuh yang lumpuh membuat Stephen Hawking lebih mudah dikenal daripada fisikawan lain. Meski sumbangannya terhadap perkembangan fisika tak bisa dipandang sebelah mata, tetapi faktor penampilan lah yang kemungkinan besar membuatnya lebih terkenal. Sebelum Hawking, foto Einstein dengan rambut acak-acakan lebih “menarik” daripada Niels Bohr yang tampil rapi meskipun mereka hidup sezaman dan sama-sama memberikan sumbangan besar bagi perkembangan Fisika. Wajah Paul A.M. Dirac dan Richard P. Feynman yang tampil rapi justru kurang dikenal publik meskipun sumbangan yang mereka berikan tak kalah dengan Einstein dan Hawking.

Meski penampilan fisik Hawking jauh dari penampilan manusia “normal”, tetapi ia juga memiliki kisah yang biasa dialami manusia “normal”, cinta. Belum jelas apakah Hawking pernah tertarik dengan perempuan ketika remaja atau tidak meski ketika tinggal di St. Albans ia sekolah di High School for Girls. Yang jelas ia pernah dua kali menikah.

Pernikahan pertama Hawking terjadi pada tahun 1965. Sebelumnya, ia sudah “jadian” dengan perempuan bernama Jane Wilde. Jane adalah perempuan yang pertama kali ia temui pasca didiagnosis ALS (Amyotrophic lateral sclerosis/sklerosis lateral amiotropik). Yaitu penyakit syaraf motorik yang menyerang sel syaraf pengendali otot, menyebabkan tubuh lumpuh secara bertahap dan otot mengalami atrofi (penyusutan atau pengecilan ukuran suatu sel, jaringan, organ, atau bagian tubuh) dan kejang-kejang.

Pasca “jadian” tersebut, mereka tak langsung menikah. Hawking belum memiliki pekerjaan dan masih harus menyelesaikan kuliah Ph.D. Untuk membiayai diri selama belajar, ia mengejar beasiswa riset di Gonville and Caisu College, satu akademi dalam University of Cambridge. Hawking tampak sangat termotivasi untuk mengejar beasiswa yang akhirnya bisa didapatkan tersebut.

Usai memperoleh beasiswa itu, ia langsung menikah dengan Jane pada Juli 1965. Mereka berbulan madu selama satu pekan di Suffolk sebelum Hawking mengikuti kelas musim panas relativitas umum di Cornell University. Ketika baru menikah, Jane adalah mahasiswi strata satu di Westfield College, London. Jane harus pergi dan pulang dari Cambridge ke London pada hari kuliah.

Anak pertama Hawking dan Jane, Robert, lahir dua tahun pasca pernikahan mereka. Tak lama sesudah kelahiran Robert, Hawking dan Jane membawa Robert ke pertemuan sains di Seattle, Amerika Serikat. Kondisi fisik Hawking yang semakin lumpuh membuat Jane harus menangani sendiri sampai kecapekan. Kecapekan Jane bertambah dengan perjalanan pulang dari Amerika Serikat.

Anak kedua mereka, Lucy, lahir sekitar tiga tahun kemudian. Selama Jane hamil Lucy, mereka tinggal di pondok milik teman karena rumah mereka sedang di renovasi. Mereka kembali ke rumah sendiri beberapa hari sebelum kelahiran Lucy yang terjadi di rumah sakit bersalin.

Jane yang memprediksi Hawking bakal cepat mati langsung melakukan langkah “antisipasi”. Jane bertemu dengan Jonathan Jones, seorang pemain organ di gereja Corsica, kota tempat Hawking mengajar di kelas musim panas. Jelas ini bukanlah sekedar pertemuan. Jane mengajak Jonathan untuk tinggal di rumah bersama mereka untuk membantu keperluan sehari-hari Jane dan Hawking. Hawking yang juga merasakan akan cepat mati pun “mengijinkan” Jonathan.

Maksud hati membantu Jane agar tak terlalu repot, justru Jane dan Jonathan semakin dekat. Hawking tak suka dengan hubungan Jane dan Jonathan yang semakin akrab. Karena itu, ia pun memilih “pisah ranjang” dengan Jane dan pindah ke tempat tinggal lain bersama seorang perawatnya, Elaine Mason. Saat itu, Elaine adalah janda dengan dua putra. Tempat tinggal yang terlalu sempit bagi Hawking, dan Elaine beserta dua putranya, membuat mereka memutuskan untuk pindah tempat tinggal lagi. Mereka membeli sepetak tanah di Newnham dan membangun rumah yang ramah kursi roda di sana.

Kedekatan Hawking dan Elaine berujung pada pernikahan mereka yang terjadi pada tahun 1995. Sembilan bulan kemudian, Jane juga mengikuti langkah Hawking setelah menikah dengan Jonathan. Pernikahan Hawking dan Elaine bak gelombang sinusoidal, banyak naik-turunnya. Tapi keahlian Elaine sebagai perawat turut menyelamatkan nyawa Hawking berkali-kali.

Elaine lah yang meyakinkan para dokter di Addenbrooke’s Hospital di Cambridge untuk melakukan operasi laringektomi. Operasi laringektomi adalah operasi yang memisah tenggorokan dan kerongkongan. Operasi ini dilakukan setelah tenggorokan Hawking yang dipasangi tabung plastik yang mencegah makanan dan air liur masuk paru-parunya mengalami gangguan. Gangguan tersebut berupa tekanan cincin balon yang menahan tabung plastik tersebut merusak tenggorokan Hawking dan membuatnya batuk-batuk dan tersedak.

Beberapa tahun kemudian Hawking mengalami krisis kesehatan lagi setelah kadar oksigen tubuhnya turun drastis selagi ia tidur. Hawking dilarikan ke rumah sakit dan dirawat selama empat bulan. Akhirnya ia boleh pulang dengan membawa ventilator untuk dipakai waktu malam. Satu tahun kemudian, Hawking direkrut untuk membantu kampanye penggalangan dana universitas untuk peringatan dies natalis kedelapanratus. Hawking dikirim ke San Fransisco untuk memberi lima kuliah dalam enam hari. Hal ini membuatnya kelelahan.

Satu pagi, ia pingsan setelah ventilator dilepas. Perawat yang bertugas mengira Hawking tidak kenapa-kenapa. Hawking mungkin bisa mati ketika itu andai perawat lain tak memanggil Elaine yang langsung tanggap dengan apa yang terjadi pada suaminya tersebut. Semua krisis tersebut turut membebani emosional Elaine. Hawking dan Elaine akhirnya bercerai pada 2007. Pasca perceraian tersebut, ia hidup sendiri ditemani pengurus rumah.

Lucy, anak kedua Hawking dari istri pertama, Jane, dikemudian hari menjadi penulis. Ia telah banyak menulis novel dewasa, menulis untuk banyak surat kabar, serta tampil mengisi acara di televisi dan radio. Lucy juga memberikan ceramah-ceramah populer mengenai perjalanan ke ruang angkasa dan sains untuk anak-anak. Ia juga turut memberikan pidato pada peringatan dies natalis kelimahpuluh NASA.

Pada tahun 2008, Lucy memenangkan Sapip Award for Popularizing Science. Selain itu, ia juga berkolaborasi dengan Hawking, bapak kandungnya, menulis seri buku “George”, cerita petualangan sains untuk anak-anak, orang-orang dewasa masa depan. Buku-buku yang ditulis duet Hawking dan Lucy yang sudah terbit adalah George’s Secret Key to the Universe, George’s Cosmic Treasure Hunt, George and the Big Bang, George’s and the Unbreakable Code, dan George and the Space Prospectors.

Hawking juga manusia, yang bisa jatuh cinta dan cemburu.

Sumber : Pelantan, November 2015

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 10 November 2015

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI