fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 21 September 2018  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

KISAH INSPIRATIF : Pasutri Dosen UNS Ini akan Dikukuhkan Jadi Guru Besar
Shoqib Angriawan

Pasangan suami istri (pasutri), Cari dan Suparmi akan dikukuhkan menjadi guru besar di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo pada Kamis (11/12/2014).

Momen berharga itu mungkin bakal menjadi sejarah di dunia akademik yang mengukuhkan pasutri menjadi guru besar secara bersamaan. 

Kisah inspiratif pasutri tersebut berawal saat keduanya dipertemukan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UNS pada 1985. Keduanya menjadi dosen pada Program Studi (Prodi) Fisika.

Cari lahir di Pemalang, 6 Maret 1961. Sedangkan Suparmi berasal dari Sragen, 15 September 1952. Usia Cari yang lebih muda sembilan tahun ketimbang Suparmi tidak menghalangi mereka untuk saling jatuh hati.

Pada 1988, mereka memutuskan untuk duduk di pelaminan. Pada tahun itu pula Suparmi meraih gelar S2 di The College at New Paltz, New York, Amerika Serikat (AS).

Kemudian, Suparmi juga memutuskan untuk melanjutkan studi S3 ke University at Albany, New York, AS.

Untuk mendukung sang istri, Cari juga memutuskan untuk melanjutkan studi S2 ke di The College at New Paltz. Keduanya tetap hidup bersama meski berada di luar negeri.

Pada 1992, Suparmi dinyatakan lulus S3 pada Prodi Supersymmetry Quantum Mechanics. Sementara, Cari baru lulus S2 dari Prodi Fisika Murni pada 1999.

Selama kurun waktu tersebut, mereka berdua saling mendukung agar studi mereka cepat selesai. Kemudian, Cari melanjutkan studi S3 ke University at Albany Prodi Fisika X-Ray Optik dan dinyatakan lulus pada 2001.

Selama di AS, mereka dikaruniai empat orang anak. Empat orang anaknya yakni Aji Nasirochman Pakha, Bany Nasirochman Pakha, Chrisma Nasirochman Pakha dan Dyonisa Nasirochmi Pakha.

Perjuangan Berat Dilakoni

Perjuangan berat pun dilakono Cari dan Suparmi untuk tetap hidup di Negeri Paman Sam.

“Kami bergantian menjaga dan merawat anak kami saat istri saya kuliah dan bekerja. Yang menjadi korban anak saya yang pertama karena mengalami keterlambatan berbicara akibat berpindah-pindah tempat, tetapi itu hanya berapa saat,” ujar Cari saat menggelar jumpa pers di Restoran dan Es Krim Bima, Solo, Senin (8/12/2014).

Pada akhir tahun ini, mereka berdua akhirnya merasakan buah kerja keras mereka dengan dikukuhkan menjadi guru besar UNS. Cari mengaku sengaja melakukannya karena mereka berdua memang saling membantu dan mendukung.

“Dari kuliah di AS, kami saling membaca dan mengoreksi. Bahkan, kuliah di jalur yang sama. Rupanya selama 24 jam kami berdua tidak mau tertinggal dan kami bersama-sama sampai besok pengukuhan pada Kamis besok,” ujar Cari.

“Kami juga sengaja saling membantu, biar tidak bingung dan planning kami buat secara bersama-sama,” imbuh Suparmi.

Kendati keduanya memiliki pendidikan yang tinggi, bukan berarti mereka tidak peduli dengan anak mereka. Bahkan, keempat anaknya selalu dekat dan berkonsultasi dengan orang tuanya selama menempuh pendidikan.

Selain itu, kecerdasan orang tuanya sepertinya juga menular kepada anak-anaknya. Hal itu terbukti keempat anaknya bisa menempuh pendidikan pada sekolah akselerasi.

Pada Kamis, Cari bakal dikukuhkan menjadi guru besar ke-168 di UNS dan kesembilan di Fakultas MIPA. Sedangkan, Suparmi menjadi guru besar ke-169 di UNS dan kesepuluh di Fakultas MIPA.

Sumber : Solo Pos, 9 Desember 2014

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 10 Desember 2014

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI