fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Selasa, 16 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Jago Fisika yang Ingin Jadi Guru
Rifa Nadia Nurfuadah

Chaironi Latif giat mengikuti olimpiade sains sejak sekolah menengah pertama (SMP). Kini, di bangku kuliah, Roni pun meraih juara pada ajang Olimpiade Sains dan Teknologi Mahasiswa (OSTM) 2011.

Mahasiswa program studi (prodi) Fisika di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, itu meraih juara dua dalam kompetisi tingkat nasional tersebut. Roni unggul atas wakil Universitas Gadjah Mada (UGM) di peringkat ketiga, namun takluk atas dominasi Institut Pertanian Bogor (IPB) di posisi pertama.

"Saya sangat senang, sebab momen ini sudah saya rindukan sejak lama," ujar Roni seperti dikutip dari situs ITS, Senin (12/12/2011).

Kerinduan Roni memang dipendam sejak dia meraih medali perunggu pada olimpiade sains 2005 lalu. Ketika itu dia masih duduk di bangku kelas tiga SMP.

Sejak itu, Roni jarang absen mengikuti beragam olimpiade sains. Sebut saja Olimpiade Matematika tingkat nasional 2004 di Pekanbaru, Olimpiade Fisika Nasional 2006 di Surabaya, dan Olimpiade Fisika Nasional 2007 di Makassar.

Tahun ini mahasiswa asli Yogyakarta itu bahkan mengikuti dua olimpiade yakni OSTM 2011 di Yogyakarta, dan Olimpiade Nasional Marematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON-MIPA) untuk mahasiswa di Bandung.

Ketua Forum Studi Islam Fisika (FOSIF) ITS ini tidak hanya aktif mengikuti berbagai kejuaraan sains, dia juga giat berorganisasi. Di tengah kesibukannya menjadi ketua Lembaga Dakwah Jurusan (LDJ) dan panitia beberapa kegiatan, Roni tetap bisa mempertahankan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,75.

"Tidak mudah membagi waktu. Tapi itu bukan berarti saya harus meninggalkan oganisasi. Apa pun yang terjadi, saya tidak bisa hanya memikirkan diri sendiri dengan hanya fokus belajar," imbuhnya.

Tak ayal, padatnya kegiatan membuat Roni harus menyiasati pola belajarnya. Menurutnya, waktu paling baik untuk belajar adalah usai salat subuh dan membaca Al-Quran. Dia mengaku, cara tersebut efektif membuatnya mengerti materi kuliah.

Cara lainnya adalah dengan mengajar. Roni kini aktif menjadi guru privat, muridnya tersebar di berbagai daerah di Surabaya. Dengan mengajar, ujar Roni, seseorang dituntut untuk belajar lebih giat. Dengan begitu, dia pun serta merta belajar.

Selain itu, mengajar juga dipilih Roni karena dia memang ingin mengabdikan diri sebagai pendidik.

"Saya ingin memperbaiki sistem pendidikan yang berlaku agar tidak hanya sebatas formalitas. Dengan begitu peserta didik pun menjadi manusia yang benar-benar terdidik, berakhlak mulia, bersemangat dalam belajar, dan berkompeten," tuturnya tegas.

Wakil ITS dalam Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) 2011 di bidang debat Bahasa Inggris itu menuturkan, keberhasilan dan cita-citanya bukanlah akibat usahanya sendiri. Menurutnya, ada faktor non teknis yang tidak bisa diabaikan, Sang Pencipta.

"Kalau saya hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, saya tidak akan sampai di tempat sekarang. Sebab, bagi saya, keberuntungan bukan hanya karena by accident tapi juga bisa by design. Karena itulah, kita harus mengiringi ikhtiar yakni belajar, dengan berdoa," paparnya.(rfa)

Sumber : okezone.com, 12 Desember 2011

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 17 Desember 2011

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI