fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Ketum FOSIF Raih Medali Olimpiade Fisika
nir

ITS kembali menelurkan prestasi. Kali ini di bidang sains. Setelah beberapa tahun terakhir langganan gelar juara digenggam oleh Nailul Hasan, mahasiswa Jurusan Fisika angkatan 2007, dalam olimpiade bidang Fisika, kini generasi baru akhirnya lahir. Chaironi Latif, merintis untuk mengikuti jejak sang senior.

Ditemui di Kompleks Masjid Manarul Ilmi, Chaironi Latif mengembangkan senyumnya yang ramah. Awalnya ia menjelaskan Olimpiade Sains dan Teknologi Mahasiswa (OSTM) Tingkat Nasional tahun 2011 ini diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jogjakarta.‘’ Tingkatnya nasional berarti dari banyak daerah. Di bidang Fisika ada tiga puluh-an peserta,’’ jelasnya.

Dalam olimpiade tersebut, mahasiswa yang kerap disapa dengan Roni ini meraih juara 2 mewakili ITS, berada di bawah Institut Pertanian Bogor (IPB) dan di atas Universitas Gajah Mada (UGM). ITS juga menyabet juara harapan I di bidang yang sama melalui Taufiqi, mahasiswa Fisika 2010.

Roni menyebutkan sebelum berangkat ke Kota Gudeg tersebut, dia harus melalui tahapan seleksi tingkat institut terlebih dahulu. Setelah diumukan lolos, barulah ia berangkat bersama Taufiqi.

Ditanya perasaannya, ia mengaku sangat senang sekali. Hal ini sudah dirindukannya sejak lama. Karena sebelumnya dia juga pernah menggondol medali perunggu saat mengikuti olimpiade di Jakarta yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (DIKTI) tahun 2005. Ketika itu dia duduk di kelas 3 sekolah menengah pertama.

Kiprahnya di kejuaraan sains tidak hanya sampai di situ, Olimpiade Matematika Tingkat Nasional tahun 2004 di Pekanbaru, Olimpiade Fisika Nasional 2006 di Surabaya, Olimpiade Fisika Nasional 2007 di Makassar, dan terakhir Olimpiade Nasional Marematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON-MIPA) untuk mahasiswa yang diselenggarakan di Bandung tahun ini pernah ia geluti. Namun sayang, gelar juara belum menjadi rejekinya.

Mahasiswa yang lahir di Jogjakarta namun besar di Kalimantan Selatan ini menyatakan perasaannya menjelang pengumuman. Saat itu, dia mengatakan dalam dirinya bahwa mendapat predikat juara ataupun tidak, dirinya siap. Jika belum berhasil, tandanya bahwa dia harus lebih giat lagi serta bersabar.

“Kalau berhasil, tandanya saya harus menerapkan asas terima kasih. Saya terima gelar, dan mungkin hadiah, saya juga wajib memberi kasih dengannya kepada sesama,’’ tutur Ketua Forum Studi Islam Fisika (FOSIF) ITS tersebut.

Farizha Triyogi, teman dekat Roni, menyatakan salut atas prestasi yang diraih sahabatnya tersebut. Walaupun, menurutnya Roni terkadang bersikap menggelikan karena kepolosannya. “ Yang agak konyol, dia langsung tertidur, padahal saya baru saja mengajaknya diskusi. Otomatis saya jadi bicara sendiri,” kenangnya sambil tertawa.

Pola Belajar

Di tengah kesibukannya sebagai ketua sebuah lembaga dakwah jurusan dan panitia beberapa kegiatan, Roni tetap bisa mempertahankan prestasinya. Mahasiswa yang Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya 3,75 tersebut mengakui tidak mudah membagi waktu. Tapi itu bukan berarti dia harus meninggalkan oganisasi. Dia terinspirasi oleh perkataan seorang ulama besar, Sayyid Qutb, bahwa orang yang yang mau memikirkan orang lain, maka akan menjadi orang yang besar dan mati sebagai orang besar. “Apapun yang terjadi, saya tidak bisa hanya memikirkan diri sendiri dengan study only,” ujarnya.

Belajarnya pun tidak terlalu lama. Bahkan di kelaspun tidak jarang Roni tertidur di kelas dan menganggukkan kepala tanda ia mengantuk berat berulang kali. Tentu saja hal itu membuat beberapa teman sekelasnya cekikikan. Menanggapi ini, dia menerapkan belajar efektif versinya, yakni belajar pada pagi hari, setelah dia melaksanakan Shalat Subuh dan membaca Al-qur’an. “Nggak tahu kenapa, kalau belajar habis Subuh, materi kuliah masuk dengan lancar. Plung plung plung,”. ungkapnya ekspresif, tetap dengan senyumnya yang ramah.

Tidak hanya itu, baginya belajar paling efektif adalah dengan mengajar. Saat ini dia juga mengajar les privat dan muridnya tersebar di beberapa daerah di Surabaya. “Dengan mengajar, kita dituntut untuk belajar lebih giat. Dari situlah belajar saya,” ungkap mahasiswa yang pernah mewakili ITS dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) di bidang debat Bahasa Inggris tersebut.

Ia menyatakan ketertarikannya dengan dunia mengajar. Hal itu berimbas pada cita-citanya, menjadi seorang pendidik. “Saya ingin memperbaiki sistem pendidikan yang berlaku. Agar tidak hanya sebatas formalitas saja. Agar peserta didik menjadi manusia yang benar-benar terdidik, berakhlak mulia, bersemangat dalam belajar, dan berkompeten,’’ ujarnya mantap.

Faktor X

Roni merasa keberuntungan berada di pihaknya saat olimpiade tersebut. “Masih ada yang sebenarnya lebih pantas dari saya sebenarnya,’’ ujarnya merendah.

“Ada faktor non teknis yang tidak bisa kita abaikan, Sang Pencipta. Kalau saya hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, saya tidak akan sampai di tempat sekarang . Karena sebenarnya keberuntungan bukan hanya karena by accident tapi juga bisa by design, ungkapnya dengan raut wajah yang serius

Bagi pengagum Muhammad Al Fatih ini, keberuntungan bisa didesain dengan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan faktor kedekatan, rezeki yang tidak diduga-duga akan datang, yakinnya.

“Namun bukan berarti kita tidak pernah belajar lalu berdo’a, tetap harus ada ikhtiar dengan belajar,’’ pungkasnya.(nir)

Sumber : JMMI

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 17 Desember 2011

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI