fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Selasa, 16 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Konstanta yang Tak Konstan
ANTON WILLIAM

Konstanta fisika tak selamanya konstan. Bilangan pengatur sifat cahaya ternyata berubah di berbagai lokasi di alam semesta, mengubah pandangan manusia akan alam semesta dan isi buku pelajaran siswa.

Sejak tahun 1916, fisikawan mengenal konstanta struktur-halus yang mengatur kekuatan gelombang elektromagnetik sebagai pembentuk cahaya. Bilangan yang diperkenalkan fisikawan Jerman Arnold Sommerfeld ini diberikan simbol alfa (huruf kecil romawi).

Konstanta fisika ini berkaitan dengan konstanta fundamental seperti konstanta Planck, kecepatan cahaya, dan konstanta permitivitas listrik. Konstanta alfa yang tak stabil juga melanggar prinsip mendasar pada teori relativitas umum Albert Einstein.

"Kekuatan elektromagnetik bervariasi di penjuru alam semesta," kata peneliti dari University of New South Wales, John Webb.

Paradigma hukum alam yang tak seragam telah punah sejak ditumbangkannya kosmologi Aristoteles oleh sains yang muncul pada abad pertengahan. Ketika itu fisikawan memastikan bahwa hukum yang ada di bumi, termasuk konstanta fisika, juga berlaku di langit. Isaac Newton menemukan teori gravitasi menggunakan paradigma ini. Perluasan hukum fisika di bumi ke seluruh alam semesta menjadi fondasi dasar bagi hukum fisika moderen.

Perubahan ini terlihat sejak satu dekade lalu ketika fisikawan mengarahkan pandangan pada 300 galaksi yang berada di bagian terjauh alam semesta. Nilai alfa lebih besar pada satu sisi dan lebih lemah pada sisi lain. Webb mengatakan, perbedaan konstanta pada dua wilayah berlawanan tersebut bisa mencapai dua kali lipat.

Variasi nilai konstanta ini berdampak besar bagi pengetahuan manusia akan dunia. Alam semesta bisa jadi lebih luas dari yang pernah dibayangkan sebelumnya. Beberapa peneliti menyebutkan ukuran ini bisa saja tak berhingga.

Dampak lain berhubungan dengan asal-usul kehidupan. Manusia sebagai satu-satunya makhluk cerdas yang diketahui hidup di alam semesta hanya bisa muncul jika berada di bagian alam semesta dengan nilai konstanta tertentu. Variasi konstanta ini menjelaskan kenapa kehidupan hanya muncul di bumi, bukan di planet di sisi lain alam semesta.

Sumber : Tempo, 3 November 2011

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 26 November 2011

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI