fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Minggu, 16 Juni 2019  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Dr. Eng Mikrajuddin Abdullah, Pakar Nano Teknologi ITB : Sulap Air Danau Jadi Jernih dengan Alat Berenergi Matahari
Riko Noviantoro

Limbah pabrik dan domestik yang memenuhi sungai dan danau bisa sekejap jernih dan bersih. Aroma tak sedap yang keluar dari air Itu pun lenyap. Hanya dengan alat berenergi matahari yang ditemukan Dr. Eng Mikrajuddin Abdullah pakar nano teknologi; ITB. Seperti apa?D

PERSOALAN air kotor di sungai dan danau yang tercemar menjadi persoalan serius. Mulai pemberian sanksi bagi pelaku pencemaran, sampai kegiatan rutin membersihkan air sungai yang dilakukan berbagai kelompok sosial. Namun hasilnya belum juga optimal. Tapi, bagi

Dr. Eng Mikrajuddin Abdullah persoalan air kotor yang bikin mumet pemerintah daerah, bisa diselesaikan denga sederhana.

Air kotor yang tampak sulit ditangani itu mendadak begitu jernih dan dijamin bebas bakteri. "Itu bukan hanya pada ukuran gelas saja. Satu danau yang luas berhektar-hektar bisa bersih dengan alat ini," ujar peraih gelar Doctor di Hiroshima University Jepang, 2002 itu.

Mikrajuddin Abdullah bersama dua rekannya ini berhasil menemukan alat pen jernih air. Dengan teori dasar, rusaknya air sungai dan danau itu dipicu tumbuhnya mikroba air dalam jumlah banyak. Mikroba itulah yang memicu air menjadi rusak dan berbau. "Kebanyakan pencemar air sungai adalah limbah organik yang bisa diurai." ungkapnya berteori. Dengan dasar teori itu, kata Mikra butuh alat yang mampu mengurai organik tersebut.

Tetapi harus berenergi murah dan gampang. Ditemukanlah penggunaan partikel titanium dioksida (TiO2) sebagai bahan utama. Menurutnya buhan kristal putih itu sangat mudah bereaksi di bawah sinar matahari. Elektron dan hole di dalamnya bekerja menghasilkan radikal bebas ion hidroksil dan anion superoksida. Di dalam air, keduanya memicu reaksi kimia yang disebut fotokatalisis.

"Hasilnya polutan organik itu menjadi gas atau senyawa lain yang ndak beracun." papar dia saat pemaparan Research Without Boundaries di kampus UI, kemarin. Kepala Laboratorium Sintesis dan Fungsionalisasi Nano-material ini juga menjelaskan metode yang sama telah diterapkan di Jepang, Australia, dan negara di Eropa sekitar tahun 2000. Hanya saja di negara maju itu masih ada persoalan. Yakni jenis titanium dan teknis menyebarkannya di sungai. "Serbuk TiO2 itu disebar di sungai yang tersinar matahari. Hasilnya terjadi reaksi dan air pun menjadi jernih," singkatnya menjelaskan teori pembersihan air dengan alatnya itu.

"Kita sudah uji di laboratorium air yang setelah diproses. Penyinaran itu butuh waktu sekitar 3-4 hari," terang pria yang dikenal kreatif itu. Teori pembersiahan air danau ini telah diuji di Danau Pulomas, Jakarta dengan hasil memuaskan. (*)

Sumber : Indo Pos, 10 Desember 2009

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 25 Desember 2010

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2019 LIPI