fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Oleh-Oleh Tiga Siswa Surabaya yang Meraih Medali OSN 2009 : Balas Dendam, Sebut Kamar 818 Bawa Keberuntungan
Siti Aisyah, Dimas Ginanjar

Tiga siswa Surabaya menorehkan prestasi dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Jakarta, 5-6 Agustus lalu. Dua siswa SMAN 5 dan seorang siswa SMP Santa Maria meraih medali dalam even bergengsi itu.

WAJAH Kamal Habibi Bagar dan Anas Maulidi Utama tampak masih lelah ketika memasuki halaman sekolahnya, SMAN 5 Surabaya. Senin pagi (10/8), keduanya memang baru pulang dari Jakarta. Penampilan mereka masih kuyu. Sangat tampak keduanya selesai melakukan perjalanan jauh.

''Kereta apinya tiba pukul 07.00, terus langsung ke sekolah. Tidak sempat pulang untuk mandi dulu,'' ujar Kamal membuka perbincangan.

Di sebelah mereka, kedua orang tua masing-masing mengapit. Baru masuk gerbang sekolah, puluhan teman Kamal dan Anas langsung menyerbu. Mereka memberi selamat atas prestasi membanggakan kedua siswa tersebut. Dalam OSN 2009, Kamal dan Anas memang meraih medali kejuaraan. Kamal mendapatkan medali emas dan Anas meraih medali perunggu. Keduanya bidang fisika.

Bagi Kamal, OSN kali ini merupakan ajang balas dendam tahun sebelumnya. Dia kali pertama mengikuti OSN pada 2006. Kala itu, dirinya masih duduk di bangku SMP dan sukses mendapatkan perunggu. Pada 2007, Kamal tidak ikut. Baru tahun berikutnya dia kembali ikut. Sayang, setelah menjuarai tingkat provinsi, dia kalah di tingkat nasional.

''Sebenarnya, tahun lalu soalnya lebih mudah daripada tahun ini. Tapi, saya terlalu meremehkan, sehingga kalah pada babak final,'' ujar putra pasangan Fauzi Bagar dan Nur Asiyah tersebut.

Karena itulah, pada OSN 2009, Kamal benar-benar serius mempersiapkan diri. Anak kedua di antara dua bersaudara tersebut bertekad ''balas dendam'' atas kegagalan tahun lalu. Hasilnya signifikan. Sejak tingkat provinsi, dia meraih juara satu dengan nilai sempurna.

Begitu pula ketika Kamal mewakili Jawa Timur dalam OSN di Jakarta, 5-6 Agustus lalu. Semua berjalan lancar dan dia pun meraih emas. ''Pihak sekolah memfasilitasi saya dosen pembimbing selama persiapan,'' tuturnya.

Siswa kelas XII itu menceritakan, saat pengumuman pemenang, dirinya sempat menangis. Rasa deg-degan mengiringi saat-saat yang ditunggu-tunggu peserta dari seluruh Indonesia itu. ''Saya sempat down karena cara pengumumannya betul-betul mendebarkan,'' ungkap Kamal.

Pemenang dibacakan mulai peraih perunggu, perak, baru emas. ''Setelah sampai perak, nama saya tidak disebut, saya langsung menangis. Saya takut kejadian tahun lalu terulang. Padahal, saya sudah berusaha keras,'' ujarnya.

Namun, begitu namanya disebut sebagai peraih medali emas, Kamal langsung melompat dan berteriak kegirangan. ''Wuihh... rasanya senang sekali,'' ungkapnya lantas tertawa.

Dia menuturkan, teman-teman sekamarnya selama OSN meraih emas. Selain dirinya, terdapat siswa dari Jogjakarta dan DKI Jakarta. Bahkan, seluruh siswa yang pernah main di kamarnya pulang membawa medali. Kamal dan teman-temannya menjuluki kamar 818 yang mereka tempati sebagai kamar keberuntungan. ''Itulah kesan unik yang saya dapatkan dari even ini.''

Kamal kini mulai bersiap-siap mengikuti seleksi Asia Phisycs Olympiad pada April 2010 dan International Physics Olympiad pada Juli 2010.

Anas punya cerita berbeda dari Kamal. Dirinya sebenarnya tidak ingin mengikuti OSN bidang fisika, melainkan astronomi. Namun, karena pernah mendapatkan medali di tingkat internasional untuk olimpiade astronomi, dia khawatir dilarang ikut. Karena itu, dia lantas maju untuk bidang fisika.

Persoalannya, Anas tak sempat menyiapkan diri secara maksimal. Dia mengaku hanya menyiapkan diri selama seminggu. Apalagi, dalam waktu bersamaan, dirinya harus mengikuti seleksi untuk International Olympiad on Astronomy and Astriophisycs (IOAA) yang dilangsukan di Iran pada Oktober mendatang. Pada 2007, Anas meraih perunggu dalam International Astronomy Olympiad (IAO). Pada 2008, dia juga berhasil meraik medali perak dalam IOAA di Italia.

''Jadi, persiapan saya untuk OSN kurang optimal,'' ungkap putra kedua pasangan M. Rais dan Rafika tersebut.

Dengan persiapan kurang seperti itu, Anas jadi kurang yakin bisa meraih medali. Sebab, fisika bukan spesialisasinya. Dia mengaku kesulitan memahami rumus-rumus fisika.

''Saya sudah bilang ke Pak Samsul (guru fisika di SMAN 5, Red). Tapi, Mas Kamal bilang tenang saja, santai,'' ujar siswa yang kini duduk di kelas XI tersebut.

Anas menjelaskan, soal-soal yang diajukan juri memang sangat sulit. Empat soal dikerjakan dalam waktu 5 jam. ''Pada soal nomor 4, saya tidak berhasil menyelesaikan semua,'' jelasnya.

Kedua siswa SMAN 5 itu tidak hanya mendapatkan penghargaan dari penyelenggara OSN. Mereka juga memperoleh hadiah dari sekolah. Kepala SMAN 5 Suhariono membebaskan biaya SPP dan biaya lain sampai keduanya lulus. Bahkan, masing-masing diberi kesempatan mengikuti tes Cambridge satu mata pelajaran secara cuma-cuma.

Bukan hanya itu. Jika keduanya berhasil lolos ke tingkat internasional dan pulang membawa emas, tidak menutup kemungkinan salah satu laboratorium di sekolah akan dinamai Anas atau Kamal. ''Wuih... asyik juga. Ada nama Lab Anas atau Lab Kamal. Hahaha...,'' ungkap Anas bangga.

Sama halnya dengan Kamal, ajang OSN 2009 menjadi pembuktian diri bagi Marcellinus Hendro Adi Wibowo. Sebab, anak pertama di antara dua bersaudara tersebut selalu gagal ketika mengikuti lomba akademis. ''Sebelumya saya mengikuti olimpiade matematika di SMA St Louis dan ITS. Tapi, belum berhasil,'' ujarnya.

Nah, dalam OSN 2009, Adi sukses memenangi trofi the best experiment untuk pelajaran fisika. Olimpiade itu mengujikan alat optik menggunakan indeks bias suatu zat cair dengan bejana lingkaran khusus. Dalam ujian elektronik, dia harus menghitung suatu arus tegangan dan hambatan rangkaian listrik menggunakan alat bantu multitester. ''Kedua nilai tersebut digabung. Saya berhasil meraih the best experiment,'' jelas siswa kelas IX E SMP Santa Maria itu.

Adi hanya bisa bengong ketika namanya disebut sebagai the best experiment dan menduduki peringkat keenam di antara sekitar 99 peserta OSN fisika tingkat SMP. ''Jadi, saya meraih best experiment dan medali perak,'' ucapnya. Dirinya berhak mendapatkan perak karena peringkat pertama hingga kelima mendapat emas.

Selain kebijakan panitia untuk tidak membeberkan nilai, Adi tidak terlalu yakin bisa menyabet medali emas. Sebab, dirinya sempat tidak yakin atas kemampuannya menyelesaikan soal elektronik. ''Baru kali pertama megang testernya. Tapi, ternyata saya dinyatakan sebagai pemenang dalam pengumuman pada Sabtu (8/8),'' kenangnya.

Selain itu, dia berangkat ke Jakarta tanpa target dan persiapan khusus. Karena itu, Adi mengaku belum percaya tangannya bisa menggenggam trofi the best experiment. Terlebih, dia tidak memiliki gambaran sama sekali tentang soal yang akan dihadapi dalam OSN. ''Saya hanya diberi kisi-kisi. Disuruh mempelajari empat bidang soal yang akan diujikan,'' tegasnya.

Empat bidang tersebut adalah mekanikal, optikal, gaya, dan elektronikal. Tidak disangka, dorongan guru SMP Santa Maria serta orang tuanya mampu memberi semangat tersendiri bagi dirinya. ''Bayangan kegagalan matematika sudah tidak ada,'' ucap remaja kelahiran 2 Maret 1995 tersebut.

Beruntung, kedua orang tua Adi memiliki pengetahuan mumpuni tentang ilmu pasti. Ayahnya lulusan Teknik Kimia ITB dan ibunya lulusan matematika Unpad, Bandung.

Adi mengungkapkan, kecintaannya pada fisika mulai muncul saat menginjak bangku SMP. Menurut dia, fisika mempunyai daya tarik tersendiri daripada mata pelajaran lain. ''Fisika adalah senjata untuk mengungkap teka-teki dunia,'' ujar pengidola Albert Einstein tersebut.

Dia menegaskan, tidak seharusnya fisika menjadi momok. Sebab, dengan memahami konsepnya, dipastikan fisika bisa diaplikasikan ke dalam rumus. ''Mata pelajaran sosial tidak bisa seperti itu. Karena itu, saya tidak bisa berbuat banyak saat ujian sosial,'' katanya.

Setelah berhasil menggondol dua trofi, Adi semakin mantap melangkahkan kaki untuk menjadi fisikawan. Dia berharap ilmu yang miliki bisa membantu meraih cita-cita menjadi insinyur atau doker. ''Semoga ilmu yang saya miliki bisa mengantar saya kuliah ke Unair atau ITB,'' tegasnya.

Sumber : Jawa Pos, 13 Agustus 2009

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 22 Agustus 2009

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI