fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Berharap Pembelajaran Fisika yang Efektif
Haris Royani (MAN 2 Bandung)

Masuknya kembali pelajaran fisika sebagai salah satu mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional 2008 menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi para guru fisika, bagaimana menyajikan materi fisika yang menarik serta mudah diserap oleh para siswa.

FENOMENA umum yang terjadi di kalangan siswa, banyak siswa yang tidak memerhatikan guru di kelas ketika belajar dan lebih enjoy jika berada di tempat bimbingan belajar, terutama untuk mata pelajaran fisika. Demikian pula ketika Indonesia telah menjadi salah satu negara yang diperhitungkan dalam Olimpiade Fisika Internaisonal, sangat aneh mengapa hanya proses pendidikan olimpiade yang sanggup mencetak siswa-siswi yang andal dan paham fisika. Secara komprehensif, kita justru tidak melihat di mana peran ribuan sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia untuk menghasilkan generasi andal yang kelak akan mengangkat derajat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang maju dan mandiri.

Salah satu faktor penghambat kesuksesan pembelajaran fisika terletak pada kurikulum pengajaran yang terlalu bersifat umum. Sistem ini berharap banyak bahwa guru akan kreatif mengembangkan caranya sendiri dalam mengajar. Padahal, tidak semua guru mampu untuk menciptakan kegiatan belajar-mengajar fisika yang sesuai harapan karena keterbatasan kemampuan, waktu, sarana, dan biaya untuk menciptakan model pembelajaran yang sesuai.

Faktor penghambat

Sedikitnya ada tiga faktor utama yang sering menghambat kesuksesan pendidikan fisika:

Pertama, penekanan dan pemahaman konsep yang lemah. Hal ini sering berakibat fatal pada kesalahan konsep siswa dalam memahami fenomena fisis tertentu. Selain itu, lemahnya pemahaman konsep akan mengakibatkan siswa sekadar menghafal rumus tanpa tahu maksud ilmiah di balik rumus-rumus tersebut.

Kedua, kurangnya kegiatan percobaan/eksperimen. Hal ini terutama disebabkan masalah klasik dari pendidikan, yaitu minimnya dana. Eksperimen sangat diperlukan dan tidak bisa dipisahkan dari pendidikan fisika karena dengan eksperimen inilah siswa bisa mengetahui aplikasi fisika secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, yang paling penting adalah bagaimana paket eksperimen ini bisa terintegrasi secara baik dengan materi teoretis. Keseimbangan keduanya merupakan modal utama untuk memahami fisika secara menyeluruh.

Ketiga, tidak tuntasnya materi pelajaran. Kurikulum yang ada saat ini memang sangat memaksakan seluruh materi fisika untuk diajarkan. Padahal, seharusnya ada bagian materi yang tidak perlu disampaikan.

Sebuah solusi sederhana yang dapat dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan antara lain:

Pertama, pemerintah diharapkan tidak hanya memikirkan sekolah berstandar internasional yang memerlukan biaya cukup tinggi, tetapi tengok juga sekolah-sekolah yang berada di daerah yang jumlahnya ribuan. Hal terpenting bagi para guru di daerah adalah bagaimana mengakses informasi, bagaimana menyajikan materi pelajaran fisika yang menarik dan mudah dicerna serta sesuai dengan kondisi di sekolahnya. Untuk itu, peran pemerintah dalam menyediakan buku-buku penunjang yang sesuai, pelatihan, dan tentunya pemerataan dana pendidikan bagi negeri maupun swasta, seharusnya menjadi prioritas utama.

Kedua, pemberdayaan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) merupakan salah satu alternatif untuk mencari format yang paling tepat dalam pemecahan masalah yang dihadapi para guru.

Ketiga, adanya kepedulian dari perguruan tinggi, terutama dari LPTK. Berapa banyak hasil penelitian dosen dan mahasiswa fakultas keguruan yang berkaitan dengan inovasi pembelajaran, pembuatan alat percobaan sederhana, alat peraga sederhana, dan lain-lain yang hanya tersimpan di perpustakaan. Jika hasil penelitian tersebut dibukukan dan dijadikan bahan acuan bagi guru-guru, mungkin akan lebih bermanfaat dan tidak hanya menjadi salah satu persyaratan seorang mahasiswa untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya.

Keempat, pemanfaatan multimedia (terutama bagi sekolah yang sudah memiliki laboratorium multimedia), yaitu melalui pemanfaatan eksperimen fisika yang menarik, pengguanan website, buku teks utama, buku suplemen, pekerjaan rumah, dan projek ilmiah. Keseriusan setiap komponen pendidikan sangat diperlukan karena ada cukup banyak bagian yang harus ditangani. Permasalahannya tinggal pada kemauan kita untuk berubah jadi lebih baik. Semoga.

Sumber : Pikiran Rakyat

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 22 Agustus 2009

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI