fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Matahari-Bulan Masa ke Masa
Yuni Ikawati (Kompas)

Matahari dan Bulan sebagai benda angkasa yang menghidupi makhluk di Bumi kemunculannya yang tidak biasa, seperti ketika terjadi gerhana, mengundang perhatian manusia dengan berbagai reaksi, hingga melahirkan mitos dan kepercayaan.

Gerhana matahari total yang terjadi di China dan India pada Kamis (23/7) ditanggapi beragam oleh masyarakatnya. Penduduk India berbondong-bondong menyucikan diri di Sungai Gangga ketika fenomena alam itu terjadi. Upacara ritual itu hingga menelan korban jiwa.

Di beberapa daerah di Indonesia tempo dulu penduduknya akan beramai-ramai menabuh benda-benda yang mengeluarkan suara yang membahana ketika terjadi gerhana.

Menurut kepercayaan mereka ketika terjadi gerhana bulan atau matahari raksasa tengah menelan benda angkasa. Suara yang ingar bingar dipercaya akan mengusir sang raksasa sehingga batal menelan bola yang menyala di angkasa itu.

Matahari dan bulan memang dari waktu ke waktu telah mewarnai peradaban manusia dari masa ke masa.

Catatan sejarah menyebutkan, Matahari dianggap dewa tertinggi dalam kepercayaan Mesir kuno, dinamai Amon Ra (Dewa Matahari). Pada masa itu Amon Ra merupakan dewa yang banyak disembah di daratan Mesir. Kuil Abu Simbel didirikan untuk memujanya.

Selain Matahari orang Mesir juga memuja Osiris, Dewa Kehidupan Alam, penguasa akhirat, dan Anubis, Dewa Kegelapan.

Di masyarakat India yang beragama Hindu dikenal Dewa Surya yang artinya sama, Dewa Matahari. Surya juga diadaptasi ke dalam dunia pewayangan sebagai dewa yang menguasai atau mengatur surya atau Matahari, dan diberi gelar ”Batara”.

Menurut kepercayaan Hindu, Surya mengendarai kereta yang ditarik oleh tujuh kuda. Dewa ini memiliki kusir bernama Aruna, saudara Garuda, putra Dewi Winata.

Batara Surya ini adalah dewa yang menjadi tumpuan makhluk hidup di dunia. Batara Surya digambarkan sangat sakti dan menjadi salah satu dewa andalan di kahyangan.

Sementara itu, bangsa Jepang juga mendewakan Matahari yang disebutnya Amaterasu-omikami. Dalam mitologi Jepang adalah Dewi Matahari dan merupakan dewi Shinto yang paling penting. Dewi ini, menurut kepercayaan bangsa di Negeri Matahari Terbit, berhubungan secara langsung dengan garis silsilah rumah tangga kerajaan Jepang dan kaisar.

Sistem penanggalan

Kemunculan Matahari dan Bulan yang teratur sepanjang masa bukan hanya sebagai penetapan arah mata angin, melainkan sejak masa lalu telah digunakan bangsa Arab dan China dalam sistem penanggalan mereka, yang tetap digunakan hingga kini.

Penentuan penanggalan tahun Miladiah atau Masehi, misalnya, mengacu pada Matahari. Adapun tahun Hijriah atau Qamariah didasari pada terbitnya Bulan atau lebih tepatnya berpatokan pada jalur edar Bulan muda atau hilal yang tampak di ufuk senja pada ketinggian 0 derajat terhadap cakrawala. Kemunculan hilal menjadi perhatian umat Islam di seluruh dunia ketika menetapkan awal bulan Syawal dan Ramadhan.

Penetapan waktu berdasarkan terbitnya Matahari yang begitu terang terlihat dari permukaan Bumi tidak pernah menjadi masalah. Namun, tidak demikian dengan tahun Qamariah.

Sejak 15 abad silam hingga 1 Syawal 1428 Hijriah yang lalu, kerap muncul perbedaan penetapan awal Syawal, termasuk di Indonesia. Sementara itu, di dunia juga dirayakan Tahun Baru China, atau yang lebih dikenal sebagai Tahun Baru Imlek. Kata Imlek (Im > Bulan, Lek > penanggalan) berasal dari dialek Hokkian. Dalam bahasa Mandarin disebut yin li yang berarti kalender Bulan.

Perayaan Tahun Baru Imlek dirayakan pada tanggal 1 hingga tanggal 15 pada bulan pertama penanggalan kalender China yang menggabungkan perhitungan Matahari, Bulan, 2 energi yin-yang, konstelasi bintang atau astrologi shio, 24 musim, dan 5 unsur.

Masyarakat Tionghoa di Indonesia juga menjalani tradisi, yaitu Festival Bulan Purnama yang merupakan bagian dari perayaan Cap Go Meh. Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Imlek (saat ini tahun 2560) bagi komunitas Tionghoa yang tinggal di luar China.

Istilah ini berasal dari dialek Hokkian yang artinya hari kelima belas dari bulan pertama dan juga merupakan bulan penuh pertama dalam tahun baru tersebut.

Sumber : Kompas (25 Juli 2009)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 25 Juli 2009

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI