fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Dr Thomas Djamaluddin: Ada Titik Terang dalam Penetapan Hilal
Arie Lukihardianti

Di Indonesia, penetapan awal pertama bulan suci Ramadhan maupun Hari Raya Idul Fitri hingga Idul Adha, beberapa kali melahirkan perbedaan. Antara ormas Islam yang satu dan yang lain, terutama Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, keputusannya berbeda. Umat Islam pun sering dibuat bingung, namun beruntung satu sama lain saling toleran.

Titik terang ditemukan pada 1998. Perbedaan itu terjadi, ternyata bukan karena persoalan dalil dalam menerapkan metode hisab (penghitungan) dan rukyat (pengamatan) ketika membaca hilal (bulan sabit baru), untuk menentukan awal bulan kalender hijriyah.

Para pakar astronomi akhirnya mengetahui bahwa kontroversi penetapan hilal karena perbedaan kriteria. Oleh karena itu, ada angin segar untuk menyatukan seluruh umat Islam di Indonesia, terutama dalam penetapan awal puasa Ramadhan dan Hari Raya.Di sisi lain, astronomi Islam yang lebih tepat disebut sebagai astronomi ibadah, mulai berkembang. Tidak hanya untuk membuat kalender hijriyah, jadwal shalat, penetapan hilal dan gerhana, tapi juga untuk memahami ayat-ayat Alquran dan dapat digunakan untuk kepentingan umum (non-Islam).

Berikut adalah wawancara wartawan Republika, Arie Lukihardianti dan fotografer Edi Yusuf dengan Dr Thomas Djamaluddin, pakar astronomi dan astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan):

Hilal menjadi isu menarik di Indonesia karena terkait dengan masalah penetapan waktu ibadah besar umat Islam. Bagaimana menurut Anda?

Yang mengejar untuk mengamati hilal sebenarnya bukan hanya orang Islam. Orang non-Islam pun berburu hilal. Karena, tantangannya, secara astronomi, mencari hilal itu mengamati bulan tanpa menggunakan alat.

Juga, untuk menjelaskan, bagaimana hilal termuda dan persyaratannya apa. Bagaimana jarak bulan ke matahari serta magnitudo paling lemah yang bisa ditangkap oleh manusia. Jadi, orang mencari hilal, bukan hanya untuk kepentingan ibadah. Apalagi, sekarang, model-model perhitungan ada yang dibuatkan dalam program komputer untuk bisa mengetahui bulan berada di ketinggian berapa.

Tapi, mengapa sering timbul perbedaan dalam membaca hilal ketika menetapkan, misalnya, awal bulan suci Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri di Indonesia?

Perbedaan penafsiran yang sekarang ada sebenarnya bukan masalah teoretis atau observasi. Karena, prinsip perhitungan antara hisab dan rukyat secara astronomi sesuatu yang melengkapi. Teori harus berdasarkan observasi dan observasi dilengkapi dengan teori sehingga sifatnya komplementari. Tidak bisa dipilah-pilah.

Kalau bukan karena hisab dan rukyat, mengapa masih ada perbedaan?

Itu terjadi lebih banyak karena masalah kriteria (hilal). Teman-teman juga sudah menyadari, perbedaan bukan karena hisab dan rukyat. Juga, bukan karena dalil--itu tidak relevan lagi. Pada 1998 mulai nyata. Bahwa, perbedaan yang terjadi di masyarakat Indonesia bukan karena hisab dan rukyat. Pada tahun itu, di NU ada perbedaan sesama ahli rukyat ketika ketinggian bulan kurang dari satu derajat.

Di Pengurus Besar (PB) NU ada yang menolak kesaksian itu karena bulan terlalu rendah. Tapi, di NU Jatim bisa (diterima). Jadi, sesama ahli rukyat dalam memahami rukyat yang sama pun berbeda. Perbedaan itu memang terjadi karena persoalan (mendefinisikan) kriteria (hilal).

Sesama ahli hisab di Muhamadiyah dan Persis pun sama. Mereka berbeda penetapannya karena kriteria. Muhammadiyah mendasarkan pada asal sudah berwujud atau ketinggian di atas nol (derajat) sudah bisa masuk awal Ramadhan. Tapi, Persis, mendasarkan kriteria kemungkinan bisa dirukyat. Jadi, kalau belum terlihat, belum bisa dirukyat. Maka, pada 1998, di kalangan NU lebarannya ada perbedaan. Begitu juga, Muhammadiyah berlebaran 29 Januari dan Persis 30 Januari.

Itulah titik awal ditemukannya penyebab perbedaan?

Ya. Di sana baru bisa menunjukkan dan meyakinkan bahwa permasalahannya bukan karena hisab dan rukyat. Dulu, orang selalu mengatakan kalau perbedaan itu karena dalil. Itu sulit. Kalau orang bicara soal dalil, sudah menyangkut keyakinan, tidak bisa diubah. Tapi, kasus 1998 bisa menunjukkan ini bukan karena dalil, tapi kriteria.

Nah, kalau kriteria, pada dasarnya sesuatu yang berdasarkan ijtihad. Jadi, pemikiran manusia. Satu kelompok berbeda dengan yang lain. Kalaupun dia sesama ahli rukyat dan hisab. Walau dalilnya sama, kriterianya berbeda, tetap saja bisa beda. Maka, pada dasarnya kriteria ini yang bisa diangkat untuk mempersatukan.

Jadi, kini sangat memungkinkan untuk menyatukan perbedaan di kalangan umat Islam?

Ya, kalau penyebab perbedaan itu karena kriteria. Bukan hal yang tidak mungkin untuk menyatukan semuanya. Kriteria itu, berlaku untuk hisab dan rukyat yang bisa menyatukan perbedaan metode yang diyakini. Satu meyakini fikihnya oleh rukyat, yang satu hisab. Tapi, dengan kriteria yang sama, keduanya bisa bertemu.

Ada kendala untuk menyatukan kriteria itu?

Secara umum sudah bisa dipahami. Teman-teman di NU memahami kriteria itu penting untuk direvisi. Yang sekarang digunakan NU kan ketinggian dua derajat. Secara astronomi, ketinggian dua derajat itu lemah, dalam pengamatan internasional hampir tidak ada.

Di sisi lain, teman-teman Muhammadiyah dan Persis menggunakan dalil wujudin hilal . Ini lemah sekali, karena secara astronomi tidak ada. Itu hanya dari sisi teoretis dengan mengabaikan adanya atmosfer. Ini yang harus diubah nantinya. Satu hal, kesulitannya, untuk mengubah itu memerlukan waktu.

Jadi, mengatasinya seperti apa?

Sekarang yang sedang diupayakan adalah menyadarkan kriteria (hilal). Harus sama-sama maju selangkah. NU harus mengubah, Muhammadiyah juga. Tapi, mulai Ramadhan 2007, sebenarnya ada tanda-tanda baik. Difasilitasi wapres, mengundang tokoh Muhammadiyah Din Syamsudin dan Ketua PBNU Hasyim Muzadi. Mereka bersepakat untuk menyamakan persepsi atau dalam bahasa teknis menyamakan kriteria. Alhamdulillah, pertemuan teknis itu ditindaklanjuti pertemuan di kantor PBNU Jakarta.

Anda hadir di sana?

Saya tidak hadir, tapi dapat informasi dari NU maupun Muhammadiyah. Pada pembahasan awal dibahas bagaimana memahami masing-masing kriteria. Lalu, ada tindak lanjut lagi di PP Muhammadiyah. Dari website Muhamadiyah dan informasi dari NU, pertemuan tersebut kembali membawa kemajuan. Kata akhir yang disepakati, PBNU menyatakan ''kita harus berubah''. Sementara, wakil Muhammadiyah, menyatakan ''kita harus mengalah demi umat''. Artinya, mereka sama-sama mengevaluasi kriteria demi mempersatukan umat.

Bagaimana kelanjutan hasil pertemuan itu?

Memang, belum terlihat secara langsung. Tapi, setidaknya, dari sini tergambar masing-masing ormas sudah sepakat untuk berubah. Bagaimana berubahnya, ada pertemuan ketiga di UIN Jakarta. Pada pertemuan itu, harusnya lebih teknis lagi. Kalau mereka sudah sepakat, kemudian seperti apa. Tapi, sampai 2008, sekarang 2009, belum terlihat pembicaraan itu. Walaupun, dalam beberapa kesempatan, Menteri Agama selalu menyatakan akan memfasilitasi agar lebih teknis lagi. Ditekankan, mereka akan merumuskan itu. Kalau ada tindak lanjut, nanti kita tentukan kriterianya.Setidaknya sekarang sudah ada jalan terang, tapi belum ada titik temu. Sebelumnya selalu berdebat, sekarang tidak ada dikotomi lagi antara hisab dan rukyat.

Keterlibatan Anda secara langsung seperti apa?

Saya bekerja sama dengan Salman (Masjid Salman ITB--Red) ikut berkontribusi mempercepat pemersatuan. Tujuannya, untuk menyatukan mereka. Kalau kriteria sudah ditentukan, perbedaan terkait dalil tidak perlu dipermasalahkan.

Dengan begitu, masyarakat tidak perlu bingung lagi?

Nantinya, kalau ada kesepakatan, ormas besar Islam bisa menambah keyakinan masyarakat. Diharapkan, kalau kriteria bisa diterima semua, rekomendasi ulama untuk ke Depag bisa dijadikan acuan Menteri Agama dan ormas-ormas Islam, dalam membuat kalender dan melakukan pengamatan.

Di negara lain perbedaan penafsiran ini ada atau tidak?

Tren secara internasional pun sama, ada perbedaan. Namun, di tingkat internasional ada ICOP (Islamic Crescents' Observation Project) yang menghimpun data-data dari seluruh dunia tentang rukyat. Setidaknya, di Arab Saudi tidak hanya berdasarkan laporan orang. Pasalnya, pernah beberapa kali terjadi secara astronomi diragukan sehingga kesaksian itu ditolak.

Kalau penetapan kalender hijriyah seperti apa?

Dulu hanya mengandalkan rukyat. Karena dalil hadisnya mengatakan: ''Berpuasalah kalau melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal).'' Sekarang, astronomi sudah berkembang pesat. Bagaimana bulan mengitari bumi dan bumi bersama bulan mengitari matahari, itu bisa dirumuskan. Secara astronomi, aplikasi itu digunakan terkait dengan pemuatan kalender. Keempat aspek itu--penentuan arah kiblat, jadwal shalat, kalender, dan shalat gerhana (bulan/matahari)--memerlukan astronomi. Tapi, saya tegaskan, bukan astronomi Islam, tapi astronomi ibadah. Walaupun dulu, memang ada yang bilang astronomi Islam karena yang mengembangkan ulama-ulama Muslim yang didorong untuk kepentingan ibadah.

Sebenarnya, selain diperlukan oleh umat Islam, keempat aspek tadi diperlukan tidak untuk kepentingan manusia secara umum?

Beberapa penelitian diperlukan juga untuk seluruh manusia. Misalnya, penentuan arah kiblat juga untuk menentukan jalur penerbangan. Semua orang memerlukannya. Begitu juga dengan jadwal shalat, dapat digunakan untuk menentukan kapan matahari terbit dan terbenam. Koran-koran di Jepang memerlukan ini untuk mereka muat agar masyarakat bisa mengetahuinya.

Perkembangan astronomi ibadah yang terbaru seperti apa?

Perkembangan terbaru dalam memahami astronomi ibadah bukan hanya empat hal tadi. Tapi, berkembang, bagaimana astronomi digunakan untuk memahami ayat-ayat Alquran. Jadi, bukan hanya ibadah maqdoh (ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah dan sudah dijelaskan secara perinci dalam Alquran dan sunah, seperti shalat, haji, dan puasa--Red), tapi ghoir maqdoh (yang berhubungan dengan manusia dan tidak dijelaskan secara perinci dalam Alquran dan sunah, seperti bermuamalah--Red). Ketika seseorang membaca Alquran, dibandingkan dengan ilmu pengetahuan, harusnya tidak kontradiksi antara iman dan ilmunya. Ilmu astronomi digunakan sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah SWT.

Biodata

Sumber : Republika (15 Juli 2009)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 22 Juli 2009

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI