fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Senin, 21 Oktober 2019  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Rusaknya Simetri Alam Semesta : Ilmuwan Fisika Partikel Raih Hadiah Nobel Fisika 2008
Tjandra Dewi

Simetri yang rusak mungkin terdengar ganjil di telinga orang awam. Padahal tanpa kerusakan simetri itu, mungkin manusia, kehidupan, bahkan alam semesta--termasuk galaksi, bintang, planet, dan seisinya--tidak akan pernah ada.

Fenomena inilah yang dijelaskan oleh tiga ilmuwan kelahiran Jepang penerima Hadiah Nobel Fisika 2008, Yoichiro Nambu dari Amerika Serikat, Makoto Kobayashi dan Toshihide Maskawa dari Jepang. Penelitian yang mereka lakukan beberapa dekade lalu di bidang fisika sub-atom itu memberi pemahaman bahwa pada dasarnya dunia yang kita huni ini tidaklah simetris sempurna karena deviasi simetri pada tingkat mikroskopis.

Panitia Hadiah Nobel dari Royal Swedish Academy of Sciences, Selasa lalu, mengumumkan bahwa Nambu, ilmuwan dari Enrico Fermi Institute, University of Chicago, memperoleh separuh hadiah bergengsi itu atas jasanya menemukan mekanisme rusaknya simetri secara spontan dalam fisika sub-atom.

"Rusaknya simetri secara spontan mengungkapkan keteraturan alam di bawah permukaan yang tampaknya tak beraturan," kata panitia Hadiah Nobel dalam pernyataannya. "Teori Nambu sejalan dengan model standar fisika partikel elementer. Model itu merangkum unit penyusun materi terkecil dan tiga dari empat kekuatan alam dalam satu teori tunggal."

Separuh hadiah lainnya dibagi kepada Makoto dan Toshihide dari Jepang atas penemuan mereka tentang asal-muasal pecahnya simetri yang memprediksi eksistensi sedikitnya tiga famili quark di alam.

Nambu dan Makoto amat terkejut saat mendengar nama mereka disebut sebagai pemenang Hadiah Nobel Fisika. Nambu menyatakan dirinya sama sekali tak menyangka walaupun selama bertahun-tahun dia diberi tahu bahwa namanya ada dalam daftar calon yang dinominasikan meraih hadiah itu.

Hal serupa juga disampaikan Makoto. "Itu kehormatan besar bagi saya dan saya tidak dapat mempercayainya," ujarnya. Ilmuwan berusia 64 tahun itu kini bekerja di High Energy Accelerator Research Organization atau KEK di Tsukuba, Jepang.

Berbeda dengan Makoto, Maskawa, profesor emeritus di Yukawa Institute for Theoretical Physics di Kyoto University, Jepang, sama sekali tidak kaget. "Ada pola tentang bagaimana Hadiah Nobel diberikan," kata pria 68 tahun itu.

Riset mereka dinilai sangat berarti karena telah mengungkap perilaku partikel terkecil, quark, serta menggarisbawahi Standard Model yang menggabungkan tiga dari empat kekuatan fundamental di alam, yaitu tenaga nuklir kuat, tenaga nuklir lemah, dan tenaga elektromagnetik. Atas jerih payah tersebut, ketiga ilmuwan itu akan berbagi hadiah uang sebesar Rp 13,4 miliar dalam upacara penyerahan hadiah yang akan diselenggarakan di Stockholm pada 10 Desember mendatang.

Nambu adalah ilmuwan kelahiran Jepang yang pindah ke Amerika Serikat pada 1952 dan menjadi warga negara Amerika pada 1970. Kini pria 87 tahun itu bekerja sebagai profesor di University of Chicago, tempatnya bekerja selama 40 tahun.

"Pada awal 1960, Nambu memformulasikan deskripsi matematis tentang rusaknya simetri spontan dalam fisika partikel dasar. "Rusaknya simetri spontan terbukti amat berguna dalam membantu membentuk teori fisika modern," kata panitia Hadiah Nobel.

Nambu juga mempengaruhi pengembangan quantum chromodynamics, yang mendeskripsikan sejumlah interaksi di antara proton dan neutron yang membentuk atom, serta quark yang menyusun proton dan neutron.

Sedangkan riset yang dikerjakan oleh Makoto dan Maskawa menjelaskan rusaknya simetri dalam kerangka model standar, tapi memprediksi bahwa model itu seharusnya diperluas setidaknya sampai tiga famili quark.

Rusaknya simetri spontan yang dipelajari Nambu memang berbeda dengan kerusakan simetri yang digambarkan oleh Makoto dan Maskawa. "Tapi kejadian spontan itu tampaknya sudah ada di alam sejak awal mula alam semesta, dan kemunculannya amat mengejutkan ketika pertama kali ditemukan dalam eksperimen partikel pada 1964," kata akademisi itu.

Meski kedua ilmuwan Jepang itu telah mengajukan prediksinya sejak 1972, baru beberapa tahun terakhir ini para ilmuwan bisa mengkonfirmasikannya. Hipotesis adanya quark baru itu akhirnya bisa dibuktikan dalam sejumlah eksperimen fisika pada akhir 2001.

Dua detektor partikel BaBar di Stanford, Amerika, dan Belle di Tsukuba, Jepang, secara bersamaan mendeteksi simetri rusak yang terjadi di masing-masing fasilitas tersebut. "Hasilnya sama persis seperti yang telah diprediksi oleh Makoto dan Maskawa hampir tiga dekade sebelumnya," kata panitia dalam pengumumannya.

Menindaklanjuti penemuan mereka, kini para fisikawan lainnya berusaha mencari kerusakan simetri atau mekanisme Higgs, yang melontarkan alam semesta ke dalam ketidakseimbangan ketika Big Bang terjadi pada 13,7 miliar tahun lalu. Mereka juga mencari kebenaran tentang adanya partikel Ilahi atau boson Higgs dengan menggunakan Large Hadron Collider di European Organization for Nuclear Research, atau CERN, di Swiss.

Sumber : Koran Tempo (9 Oktober 2008)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 9 Oktober 2008

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2019 LIPI