fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Minggu, 16 Juni 2019  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Simulasi Fenomena Big Bang
eye

Para ilmuwan berhasil menembakkan dua berkas partikel proton mengelilingi terowongan 27 km yang menampung Large Hadron Collider (LHC).

Sebuah teori yang selama ini diyakini banyak ilmuwan menyebutkan bahwa alam semesta berasal dari fenomena 'Big Bang' atau ledakan besar. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta terbentuk dari ledakan maha dahsyat sekitar 13.700 juta tahun lampau.

Ledakan ini melontarkan materi dalam jumlah sangat besar ke segala penjuru alam semesta. Materi-materi ini kemudian mengisi alam semesta dalam bentuk bintang, planet, debu kosmis, asteroid, meteor, energi, dan partikel lainnya. Sudah puluhan tahun, para ilmuwan berupaya keras melakukan eksperimen besar untuk merekaulang kondisi beberapa saat setelah Big Bang.

Melalui serangkaian penelitian, para ilmuwan di Eropa meyakini berhasil mereka ulang fenomena Bing Bang. Mereka pun berharap penelitian ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental di bidang fisika.

Rencana penelitian ini sendiri sebenarnya sempat tersenda-sendat sejak digagas sekitar 30 tahun lalu. Pasalnya, proyek ini menghadapi masalah pembengkakan biaya, gangguan peralatan, dan masalah konstruksi. Namun, para ilmuwan tetap tak lelah untuk terus mencoba merekaulang kondisi setelah peristiwa Big Bang, yang menurut mereka menyebabkan terbentukan alam semesta.

Seperti dilansir kantor berita AP, Rabu (10/9), setelah 30 tahun akhirnya para ilmuwan itu kini telah berhasil menembakkan dua berkas partikel proton mengelilingi terowongan 27 km yang menampung Large Hadron Collider (LHC). Mesin senilai lebih dari 9 miliar dollar AS di perbatasan Swiss-Prancis itu dirancang untuk menabrakkan partikel dengan kekuatan sangat dahsyat.

Ketua tim ilmuwan Lyn Evans mengatakan, penelitian itu merupakan penantian mereka yang cukup panjang. ''Dan, kami ingin program penelitian LHC tetap berjalan,'' ujarnya.

LHC dibangun dalam waktu sekitar 13 tahun. Collider itu dioperasikan oleh Lembaga Eropa untuk Riset Nuklir, yang lebih dikenal dengan akronimnya dalam bahasa Prancis, CERN (European Organization for Nuclear Research). Mesin yang berlokasi di perbatasan Swiss-Prancis itu dirancang untuk untuk menumbukkan partikel-partikel subatomik.

Tujuan utama uji coba CERN adalah untuk menemukan Higgs boson, yang namanya diambil dari nama fisikawan Skotlandia Peter Higgs. Ia pada 1964 menunjuk kepada partikel semacam itu sebagai kekuatan yang memberi massa dan membuat alam semesta mungkin terbentuk.

Berkas proton pertama, yang bergerak searah jarum jam, menyelesaikan putaran pertama terowongan bawah tanah itu sebelum pukul 09.30 waktu Inggris (15.30 WIB). Sedangkan, berkas kedua, yang bergerak melawan arah jaruh jam, berhasil mengitari terowongan tersebut selepas pukul 14.00 (20.00 WIB).

Terowongan sirkuler yang sangat besar itu memuat lebih dari 1.000 magnet silindrik. Magnet-magnet itu dipasang di sana untuk mengarahkan berkas yang terdiri dari partikel-partikel yang dinamai proton sepanjang cincin yang membentang 27 km. Pada akhirnya, dua berkas proton akan diarahkan secara berlawanan di terowongan LHC pada kecepatan mendekati laju cahaya dan menyelesaikan 11 ribu putaran per detik.

Untuk menembakkan berkas partikel itu ke sekeliling terowongan, diperlukan ribuan magnet bertenaga besar, yang didinginkan sampai suhu minus 271 derajat celcius. Beberapa minggu lagi, kedua berkas akan bertabrakan di beberapa titik di sepanjang terowongan. Tabrakan ini akan menghasilkan suhu yang jauh lebih panas dari matahari, dan terkonsentrasi di sebuah tempat yang sangat kecil, sekian kali lipat lebih kecil daripada debu.

Partikel-partikel subatomik yang terbentuk, kemudian akan dipelajari secara teliti oleh ilmuwan dari seluruh dunia. Mereka berharap data yang dihasilkan akan membuka misteri alam semesta.

Satu berkas partikel subatom lain akan dikirim dari arah berlawanan, dan menabrakkan partikel-partikel itu dengan kekuatan yang sangat dashyat. Sejumlah pengkritik menyatakan ketakutannya bahwa tabrakan proton bisa menimbulkan lubang hitam yang akan menyebabkan kiamat. Namun, kekhawatiran itu ditolak oleh para pakar fisika. Fisikawan asal Cern, Ulrich Straumann menegaskan, ''Risiko seperti itu tidak ada.''

Sayangnya, Cern belum mengumumkan kapan tumbukan pertama akan terjadi, tapi diperkirakan hal itu terjadi sebelum mesin itu dimatikan selama musim dingin. Meski demikian, para teknisi dan ilmuwan tetap meluapkan perasaan sukacita saat partikel-partikel proton menyelesaikan putaran pertama cincin bawah tanah yang menampung kompleks riset fisika LHC di bawah Gunung Alpen Eropa itu.

Sumber : Republika (13 September 2008)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 13 September 2008

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2019 LIPI