fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Sumbat Lumpur dengan Masukkan Batu Hitam
nen/jpnn

Satu lagi ide untuk menyumbat semburan lumpur Lapindo. Yakni, menggunakan insersi ascending size atau menaikkan skala bongkahan batuan beku.

Ide yang mirip insersi bola beton itu dikemukakan tim Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang.

Tim yang beranggota tujuh dosen tersebut membeberkan idenya di Gedung Rektorat Unibraw kemarin. Salah satu anggota tim, Dr M. Nurhuda, menjelaskan, ide tersebut terilhami kurang suksesnya -atau kegagalan- metode insersi untaian bola beton. Selain itu, dipicu sinyal bakal diterimanya proposal counter weight dari Takashi Okumura, direktur Katahira Engineering, Jepang.

Dalam proposal Takashi itu disebutkan, setidaknya pemerintah membutuhkan dana Rp 600 miliar. "Kalau masih ada yang murah, kenapa tidak dicoba? Ide ini misalnya, bahan baku batuan beku, selain mudah didapat, harganya murah," katanya.

Batuan beku atau yang selama ini lebih dikenal sebagai batu hitam tersebut merupakan batuan yang terbentuk dari lava membeku.

Batuan itu, jelas Nurhuda, punya pori-pori sangat rapat, bersifat keras tapi elastis, dan tahan terhadap zat-zat korosif. Dengan begitu, sangat mungkin batuan tersebut tidak meleleh atau hancur ketika dimasukkan dalam lubang semburan. "Batuan beku itu bisa dijumpai di sepanjang kawasan Mojokerto. Di sana, selain sangat banyak penambang sirtu (pasir dan batu, Red), potensi alamnya padat dengan batuan beku," jelas peneliti dan dosen fisika FMIPA tersebut.

Hanya, tidak sembarang batuan bisa digunakan menyumbat lumpur. Tapi, harus dipilih bongkahan atau pecahan yang berbentuk geometris. Bentuk itu akan memberikan efek turbulensi dan gesekan lebih besar terhadap aliran lumpur.

Sementara itu, massa batuan yang besar memastikan bahwa batuan tersebut akan tetap tenggelam, meski mendapat tekanan besar dari lumpur. Selain itu, batuan beku lebih mudah tersangkut dinding lubang semburan daripada bola beton. "Itu lebih efektif dibandingkan menggelindingkan bola beton. Bahkan, eksekusi dengan metode tersebut bisa segera dilakukan karena bahannya mudah didapatkan dan murah," ujarnya.

Bagaimana dengan kemungkinan terjadinya blow out? Menurut Nurhuda, penyumbatan dengan batuan beku sembarang bentuk itu akan menyisakan ruang yang memungkinkan lumpur masih mengalir. "Nah, dengan adanya celah-celah itu, sangat kecil kemungkinan terjadinya blow out," tegasnya.

Problem utama metode tersebut adalah tidak adanya informasi luas lubang semburan. Akibatnya, sangat sulit menentukan berapa seharusnya ukuran batuan yang dimasukkan.

Namun, tidak berarti hal itu tak bisa diatasi. Tim mitigasi Unibraw telah merancang teknis insersi.

Ahli geofisis (sifat-sifat bumi) Adi Sisilop PhD yang juga bergabung dalam tim tersebut menyatakan, teknis insersi batuan beku itu akan dilakukan menggunakan metode ascending size atau skala menaik.

Insersi awal bisa dilakukan dengan bongkahan berukuran 40 cm. Pilihan itu didasarkan pada fakta bahwa bola beton dengan diameter yang sama, ketika dimasukkan dalam pusat semburan, meluncur terus ke bawah tanpa hambatan. "Jika benar, luas lubang semburan setidaknya berdiameter lebih besar dari 40 cm," katanya.

Secara perlahan, ukuran bongkahan dinaikkan sambil tetap mengamati apakah terjadi penurunan debit semburan atau tidak. Jika tidak terjadi penurunan, berarti batuan yang dimasukkan hilang dan masuk ke bawah lumpur.

Tapi, jika terjadi penurunan, berarti bongkahan batuan tersangkut dalam lubang semburan. "Ketika tahap awal selesai, bisa dilakukan insersi tahap kedua dengan ukuran diameter 50 cm, tahap ketiga berdiameter 60 cm, dan seterusnya. Kemungkinan ukuran bongkahan batuan tersebut bisa mencapai satu meter," jelas Kaprodi Fisika FMIPA Unibraw itu. (nen/jpnn)

Sumber : Jawa Pos (24 Mei 2007)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 6 Juni 2007

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI