fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

John Tyndall : Surveyor Peneliti Optis, Pernah Jadi Penerjemah
Dede Nurrosyid (Fisika UPI)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah mengalami berada dalam suatu ruangan yang gelap dan banyak debu. Kemudian dalam ruangan itu ada seberkas cahaya yang masuk melalui suatu celah dari atap. Kita bisa melihat dengan jelas berkas cahaya itu.

Hal serupa juga mungkin pernah kita alami saat berada di tengah hutan yang lebat dengan pepohonan pada pagi hari dan suasana berkabut. Pada saat itu, kita bisa melihat cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela pepohonan. Dengan jelas kita bisa melihat berkas cahaya tersebut

Apa sebenarnya yang terjadi sehingga bisa melihat berkas cahaya itu? Pada saat berada dalam ruangan yang gelap dan berdebu, kita bisa melihat berkas cahaya dari suatu celah karena partikel-partikel debu dalam ruangan yang berukuran koloid menghamburkan cahaya tersebut.

Lantas pada saat berada dalam hutan yang lebat pepohonan dengan suasana berkabut, kita bisa melihat berkas cahaya dari matahari yang masuk melalui pepohonan karena cahaya tersebut dihamburkan partikel-partikel kabut yang merupakan sistem koloid.

Istilah koloid berasal dari bahasa Yunani (kolla = lem, oidos = seperti) yang berarti seperti lem, yang pertama kali diusulkan Thomas Graham (1805-1869). Penamaan itu merupakan hasil penelitiannya terhadap zat-zat yang berdifusi lambat dan tidak mampu menembus membran tertentu. Zat tersebut misalnya kanji, gelatin, dan getah.

Peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid seperti pada kedua peristiwa di atas disebut dengan efek tyndall, karena hal ini mula-mula diterangkan John Tyndall, seorang ilmuwan fisika dari Irlandia.

John Tyndall lahir pada tanggal 2 Agustus 1820. Lahir dikeluarga kurang berada, tetapi orang tuanya memandang penting terhadap ilmu dan pendidikan, walaupun tak mudah bagi ayahnya untuk menanggung biaya sekolah swasta saat itu. Dari guru yang terkenal sepelosok desa, ia belajar matematika.

Seabad sebelum Alexander Flemming menemukan penisilin, Tyndall sudah menjelaskan kerja jamur yang menghasilkan antibiotik menghambat tumbuhnya bakteri. Pada saat itu berkenaan dengan tyndallisasi yang merupakan proses membunuh bakteri dalam susu yang kemudian lebih dikenal dengan Pasteurisasi. Sebenarnya Tyndall-lah yang pertama memikirkan hal itu seabad sebelum A. Flemming menemukan penisilin, dan proses Tyndallisasi di Prancis lebih terkenal.

**

Profesi pertama Tyndall adalah sebagai surveyor. Profesi yang sedang naik pamor pada saat itu yang tugasnya adalah mengukur, mendata tanah dan rawa, membuat denah dan peta. Semua itu merupakan cikal bakal keterampilannya kelak dalam penelitian yang dilakukannya.

Memasuki era Revolusi Industri di Inggris pada abad ke-19, saat itu ia sudah tamat sekolah. Kemudian ia menjadi pegawai negeri Irish Ordnance Survey. Di sana ia mengasah diri. Seiring dengan perubahan dan perkembangan teknologi, ia menghias Inggris dengan rantai besi, rel kereta api yang merupakan urat nadi industri saat itu.

Pada tahun 1847 setelah selesai dengan pembuatan kereta secara besar-besaran, ia beralih profesi menjadi guru laboratorium praktik ilmiah pertama di Inggris bersama kimiawan Edward Frankland. Kemudian ia meninggalkan Inggris dan melanjutkan perjalanan menimba ilmunya di Marbury University, Jerman. Di sana ia memulai penelitian diamagnetis juga kristal dengan sifatnya yang optikal magnetis. Hasil-hasil penelitiannya mulai dikenal para ilmuwan di Jerman saat itu.

Setelah selesai studinya di Jerman, Tyndall kembali lagi ke Inggris pada tahun 1851. Untuk menambah uang sakunya yang hampir habis, ia beralih profesi menjadi penerjemah dan mengulas literatur ilmiah asing. Meskipun imbalannya sedikit, tetapi dengan profesinya itu ia dapat kesempatan berhubungan dengan dengan para ilmuwan, salah seorang ilmuwan itu adalah Michael Faraday.

**

Pada usianya yang ke-39, Tyndall mulai meneliti radiasi panas uap air yang membentuk awan, ozon, hidrokarbon, dan gas CO2. Dengan spectrophotometer rakitannya, ia mengukur daya serap gas-gas di udara. ozon, hidrokarbon, dan karbondioksida menyerap panas lebih banyak dibandingkan gas lainnya. Namun yang terbesar dari semuanya itu adalah uap air yang menyelimuti bumi. Hal ini ditulis dalam catatannya yaitu:

Betapa kita berhutang budi :

Uap air adalah selimut yang begitu penting bagi kehidupan tanaman di tanah Inggris, lebih penting dari baju seorang gentleman.

Tanpa uap air yang menyelubungi seluruh pelosok negeri ini, semua tumbuhan akan mati beku. Hangatnya tanah dan kebun kita akan tercurah ke angkasa tanpa pernah kembali lagi, dan matahari akan terbit di sebuah pulau yang berada dalam cengkeraman es...

Dari catatan tersebut kalau ditelaah lebih dalam sebenarnya terdapat berbagai pengetahuan sebagai hasil karya John Tyndall. Salah satu peristiwa yang berkaitan dengan hasil penelitian Tyndall adalah yang kemudian dikenal dengan nama efek tyndall. Pada peristiwa efek rumah kaca dan pada fenomena langit berwarna juga dapat ditelaah penyebabnya dari efek tyndall tersebut.

Kita sering mendengar tentang efek rumah kaca. Efek rumah kaca yang menyebabkan bumi makin lama makin panas. Itu merupakan suatu hal yang mengerikan buat kita yang hidup di bumi. Tetapi di satu sisi sebenarnya efek rumah kaca ini yang membuat kita terus hidup. Kenapa demikian? Karena menurut hasil pengukuran spectrophotometer Tyndall, gas-gas yang berada di atmosfer memiliki kemampuan berbeda dalam menyerap panas. Gas-gas yang memiliki daya serap panas yang tinggi disebut gas-gas rumah kaca, karena menyelubungi kita, menyimpan dan menyegel panas sehingga kita tetap hangat pada malam hari.

Efek Tyndall juga dapat menerangkan mengapa langit pada siang hari berwarna biru, sedangkan ketika matahari terbenam di ufuk barat berwarna jingga atau merah. Hal tersebut dikarenakan penghamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel koloid di angkasa, dan tidak semua frekuensi sinar matahari dihamburkan dengan intensitas yang sama.

Oleh karena intensitas cahaya berbanding lurus dengan frekuensi, maka ketika matahari melintas di atas kita, frekuensi paling tinggilah yang banyak sampai ke mata kita, sehingga kita melihat langit biru. Ketika matahari hampir terbenam, hamburan cahaya yang frekuensinya rendahlah yang lebih banyak sampai ke kita, sehingga kita menyaksikan langit berwarna jingga atau merah.

Kita ingat untaian cahaya tampak dalam spektrum cahaya, merah-jingga-kuning-hijau-biru-ungu. Dari urutan merah sampai ungu, frekuensinya semakin tinggi. Jadi warna-warna yang mendekati merah memiliki frekuensi cahaya tinggi, dan warna-warna yang mendekati ungu memiliki frekuensi cahaya rendah.***

Sumber : Pikiran Rakyat (21 Juli 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 26 Mei 2007

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI