fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Selasa, 16 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Olimpiade Fisika : Indonesia Patut Diperhitungkan...
Ester Lince Napitupulu

Pelajar Indonesia terbukti mampu bersaing dengan negara-negara maju yang unggul dalam bidang sains. Paling tidak itu terlihat dari keberhasilan Indonesia membawa pulang medali emas, perak, perunggu, atau penghargaan khusus ketika mengikuti kompetisi sains di luar negeri beberapa tahun belakangan.

Pada akhir April lalu, pelajar Indonesia yang tergabung dalam Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) mampu meraih dua medali emas, empat perak, dan empat perunggu dari Olimpiade Fisika Asia VIII di Shanghai, China.

Pada saat hampir bersamaan, seorang pelajar Indonesia lainnya berhasil mempersembahkan medali perak dalam kompetisi International Conference for Young Scientist (ICYS) di bidang ekologi di St Petersburg, Rusia.

Medali emas di bidang fisika dipersembahkan M Firmansyah Kasim (SMA Athirah Makassar) dan Rudy Handoko Tanin (SMA 1 Sutomo Medan). Kedua pelajar yang memang diunggulkan ini sebelumnya juga pernah diikutkan dalam kompetisi fisika sebagai persiapan untuk masuk dalam tim nasional.

Adapun Maria R Ekindriaty (SMA Santa Laurensia Tangerang) berhasil mendapat medali perak setelah mempresentasikan penelitian dengan judul Development of Fiber Reinforced Composite Material Using Natural Fiber from Plants. Kompetisi penelitian bidang fisika, matematika, ilmu komputer, dan ekologi ini diikuti sekitar 150 peserta yang berasal dari 14 negara.

Untuk fisika, meskipun harus mengakui keunggulan tim nasional "Naga" China dalam olimpiade yang berlangsung 21-29 April di Shanghai, selisih nilai tertinggi ujian teori dan fisika level pascasarjana yang diraih pelajar Indonesia cuma beda 0,1 poin dari pelajar China yang meraih total nilai tertinggi, atau peraih penghargaan bergengsi The Absolute Winner. Bahkan, hasil ujian eksperimen Indonesia lebih unggul daripada China.

Apalagi tahun lalu Indonesia bisa meraih gear The Absolute Winner dalam Olimpiade Fisika Internasional di Singapura, mengalahkan pelajar China yang memang sering merajai peraihan medali emas dalam kompetisi fisika. Di negaranya sendiri, China bisa meraih tujuh medali emas untuk tim nasional dan empat medali emas lagi dipersembahkan tim tamu.

Pemanasan

Olimpiade yang digelar setiap tahun sebagai pemanasan menuju Olimpiade Fisika Internasional itu diikuti lebih dari 150 siswa dari 24 kontingen (22 negara ditambah Hongkong dan Makau). Peserta mengerjakan ujian teori dan eksperimen, masing-masing lima jam. Negara lain yang mendapatkan emas hanya Taiwan dan Singapura.

Soal-soal fisika bertaraf S-2 dibuat oleh tim tuan rumah. Kemudian, soal itu dialihbahasakan setiap pimpinan tim ke bahasa masing-masing. "Kompetisi ini kan bukan soal bahasa. Jadi jangan sampai kendala bahasa menghambat peserta untuk bisa maksimal dalam mengerjakan ujian," kata Rachmat Widodo Adi, dosen Universitas Indonesia, yang menjadi salah satu pimpinan tim Indonesia.

Pimpinan tim juga berusaha mengerjakan soal-soal sehingga mereka bisa memperkirakan kekuatan pelajar masing-masing. Karena itu, pimpinan dan peserta tinggal di tempat yang terpisah dan tidak boleh berkomunikasi sehingga tidak terjadi pembocoran soal.

Usai ujian, pimpinan tim dan juri dari tuan rumah mengadakan moderasi soal penilaian terhadap hasil ujian peserta. Kesempatan ini bisa dipakai pimpinan tim untuk memperjuangkan nilai yang lebih baik jika memang cara-cara pengerjaan soal yang dilakukan siswa layak untuk diberi poin.

Dukungan pengusaha

Yohanes mengutarakan, sebenarnya kemampuan anak-anak Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan negara-negara maju. Namun, karena minimnya fasilitas dan pembinaan terhadap potensi mereka sehingga membuat keunggulan itu tidak muncul.

Padahal, untuk bisa berprestasi, pembinaan harus all out. Itu artinya butuh dana besar. Sedangkan anggaran yang dialokasikan pemerintah umumnya tidak mencukupi.

Prestasi pelajar Indonesia di Shanghai pada akhirnya menggugah pengusaha-pengusaha Indonesia yang tergabung dalam Masyarakat Pengusaha Indonesia di Shanghai untuk membantu penyelesaian TOFI Center di Serpong. Tempat ini akan dijadikan pusat pembinaan fisika bagi siswa dan guru di Tanah Air.

Duta Besar Indonesia untuk China, Sudrajat, juga hadir dalam jamuan makan malam yang digagas Eka Tjipta Foundation untuk merayakan prestasi anak bangsa. Peluang untuk memberikan beasiswa dan dukungan belajar di perguruan tinggi ternama di luar negeri, seperti China dan Jerman, juga disampaikan kepada pelajar Indonesia yang ikut serta dalam Olimpiade Fisika.

Tawaran itu terutama diupayakan untuk sembilan pelajar yang saat ini duduk di kelas III dan bersiap-siap untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sejumlah alumnus TOFI yang saat ini belajar dan bekerja di luar negeri juga hadir untuk memberi dukungan bahwa prestasi pelajar Indonesia memang diakui di dunia internasional.

"Saya cukup puas atas prestasi TOFI di China karena kita tetap bisa mendapat medali emas. Di saat negara lain tidak mampu mengalahkan China, pelajar Indonesia tetap bisa berprestasi. Sebenarnya pelajar kita memiliki kemampuan yang tidak kalah daripada China atau negara lainnya. Cuma perlu dibekali lagi supaya mereka tidak blunder saat ujian. Saya berharap Indonesia bisa jadi juara umum dalam Olimpiade Fisika Internasional di Iran, Juli nanti," papar Yohanes.

Suyanto, Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, mengemukakan bahwa anak-anak Indonesia yang memiliki potensi dalam berbagai bidang harus diberi kesempatan untuk mengembangkan diri dan maju tanpa halangan dalam pendidikan mereka. Ini mengingat, di tengah kondisi bangsa dan negara yang masih dililit berbagai persoalan, prestasi pelajar Indonesia yang mengharumkan nama bangsa dengan berprestasi di bidang pendidikan akan memberi harapan bahwa masa depan bangsa ini masih ada.

"Kita harus berbangga bahwa prestasi pelajar Indonesia dalam kompetisi internasional tidak kalah dibandingkan dengan negara lain. Prestasi ini merupakan salah satu pencapaian prestasi pendidikan nasional," ungkap Suyanto saat menyambut rombongan TOFI di ruang VIP Bandara Soekarno-Hatta.

Sekarang tinggal bagaimana pemerintah dan masyarakat menghargai mereka yang berprestasi dalam pendidikan. Ada kekhawatiran, minimnya penghargaan terhadap siswa berpotensi ini membuat mereka bisa berpaling untuk "berkarya" di negara lain.

Apalagi ilmu pengetahuan sering kali masih belum mendapat tempat yang layak di negara ini. Bidang sains misalnya, masih belum dikembangkan, padahal Presiden RI pada tahun 2005 mencanangkannya sebagai Tahun Iptek.

Keprihatinan terhadap masa depan bangsa jika sains tidak mendapat tempat dalam kehidupan generasi muda mendorong Komisi Nasional UNESCO untuk Indonesia, Depdiknas, serta Kementerian Negara Riset dan Teknologi belum lama ini mencanangkan program "Science for All". Program yang mengajak ilmuwan mengajar sains kepada anak-anak SD ini bertujuan untuk memopulerkan ilmu pengetahuan yang asyik, mudah, dan menyenangkan.

Ketika ilmu pengetahuan, terutama sains, tidak lagi dianggap "menakutkan", bisa jadi akan semakin banyak pelajar Indonesia yang berprestasi dalam bidang ini. Ini mengingat, potensi pelajar Indonesia dalam bidang sains belakangan ini cukup diperhitungkan baik di kancah Asia maupun internasional.

Sumber : Kompas (16 Mei 2007)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 17 Mei 2007

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI