fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Johny Setiawan: Planetarium Lebih Gampang dari Mal
-

PAKAR asal Indonesia, Johny Setiawan, dengan teleskop 2,2 meter di La Silla, Cile, berhasil menemukan planet baru: HD 11977 B. Planet ini berjarak 200 tahun cahaya dari bumi (setahun cahaya setara 9.500 milyar kilometer). Planet berukuran 6,5 kali Jupiter ini mengitari bintang raksasa HD 11977A. Sebelum merilis temuannya, Mei lalu, Setiawan memelototi bintang itu sejak 1999.

Sebelumnya, pemuda kelahiran Jakarta, 16 Agustus 1974, ini juga menemukan dua bintang raksasa baru, HD 47536B dan HD 122430B, pada 2003. Post-doctoral scientist di Max-Planck Institut fur Astronomie, Heidelberg, Jerman, ini melakukannya ketika memimpin tim astronom Eropa dan Brasil. Setiawan, yang tetap menjadi warga negara Indonesia, adalah alumnus SMA Fons Vitae I, Jakarta, pada 1992.

Gelar sarjana astronomi ia sabet pada 1999 di Albert-Ludwig-Universitat Freiburg. Lalu PhD ia raih April 2003 di Kiepenheuer-Institut fur Sonnenphysik. Juli lalu, ia hadir di Pertemuan Astronomi Asia-Pasifik di Nusa Dua, Bali. Juga menemui orangtuanya di Jakarta, Setiawan pun ke Aceh, menyerahkan bantuan. Usai ia berceramah di LIPI, 10 Agustus lalu, Astari Yanuarti dari Gatra berbincang dengannya:

Apa arti penting temuan HD 11977B?

Ia memberi gambaran evolusi bintang sejak lahir sampai mati. Umur bintang itu sekitar 10 milyar tahun. Sebelum bintang mengembang menjadi Red Giant, terjadi evolusi. Bila bintang sudah tidak punya planet, berarti habis sumber hidrogennya. Matahari kita punya waktu 5 milyar tahun sebelum menjadi Red Giant, ketika garis tengahnya membesar sehingga bumi tercaplok. Kapan itu terjadi, masih teka-teki. HD 11977A sudah lebih tua dari matahari. Ia sudah berevolusi lebih lanjut, dan massanya dua kali matahari. Ini yang membuat kontroversial.

Penelitian apa lagi yang Anda lakukan?

Astrometri, yaitu melihat posisi bintang di langit dengan dua dimensi. Penelitian model ini bisa menghasilkan temuan yang tepat tentang posisi dan pergerakannya.

Targetnya?

Menemukan tata surya lain yang mirip tata surya kita.

Jadi, ada kehidupan di luar sana?

Mudah-mudahan. Hanya Tuhan yang tahu.

Anda mau kembali ke Indonesia?

Ya, tapi mungkin setelah 2015.

Mengapa?

Proyek penelitian astrometri tak bisa instan. Instrumentasi baru dimulai tahun ini. Pengamatan dilakukan pada 2007. Sedangkan menganalisis data butuh lima tahun. Dan publikasi satu-dua tahun. Jadi, paling baru 2015 selesai, dan kebetulan saya juga punya mahasiswa.

Bagaimana riset astronomi di Indonesia?

Saya yakin, 10 tahun lagi sudah banyak kemajuan. Insya Allah, setelah berbagai pertemuan astronomi, minat generasi muda meningkat. Kalau kita bisa bangun banyak mal dalam setahun, pasti juga sanggup bangun alat instrumentasi astronomi.

Bukankah membuat planetarium mahal?

Alat untuk planetarium itu mudah sekali. Kurang dari Rp 100 juta sudah bisa jadi, tinggal membuat kubah dan beli alatnya. Tapi memang harus dibudayakan.

Sumber : Gatra (22 Agustus 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 17 Februari 2007

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI