fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Selasa, 16 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Maurice Hugh Frederick Wilkins : Pemenang Nobel karena Menemukan DNA
slg

Ia lahir di Pongaroa, Selandia Baru, pada tanggal 15 December 1916. Kedua orang tuanya berasal dari Irlandia. Ayahnya Edgar Henry Wilkins adalah seorang doktor di sebuah sekolah pelayanan medis dan sangat tertarik pada bidang penelitian, namun sayangnya hanya memiliki sedikit kesempatan untuk melakukan hal tersebut.

Di usia enam tahun, Wilkin pindah ke Inggris dan melanjutkan studi di Sekolah King Edward, Birmingham. Ia kemudian melanjutkan menekuni bidang fisika di St. John College, di Cambridge, dan mendapatkan ijazahnya pada tahun 1983. Kemudian ia menuju Universitas Birmingham, tempat ia akhirnya menjadi asisten peneliti Dr. J.T. Randall di Departemen Fisika. Mereka banyak menekuni kajian pancaran sinar pada benda padat. Ia kemudian meraih gelar Ph.D. pada tahun 1940, dengan tesisnya yang membahas mengenai kajian stabilitas thermal dari elektron.

Pada tahun 1945, saat Perang Dunia II telah usai, Wilkins kemudian mulai mengajar fisika di Universitas St. Andrew, Skotlandia. Di tempat ini juga ia bertemu kembali dengan Prof. J.T. Randall yang pada saat itu memimpin studi mengenai Biofisik. Pada saat itu juga ia mulai memperlihatkan perhatian pada efek genetik dari pemakaian sinar ultrasonik. Dua tahun setelahnya, ia mulai mengubah penelitiannya untuk mengembangkan refleksi mikroskopis genetik dengan sinar ultraviolet. Dengan pendalaman pada teori ini, ia mulai melakukan penelitian dengan menggunakan sinar X-ray untuk mengekstraksi sperma.

Penemuan dari hasil ekstraksi inilah yang kemudian mengantarkannya menjabarkan teori struktur DNA. Kemudian hasil penelitiannya yang dimuat dalam majalah Nature pada tahun 1964, membuatnya meraih penghargaan Albert Lasker dari Asosiasi Kesehatan Masyarakat pada tahun 1960. Puncak kariernya terjadi saat ia kemudian meraih penghargaan Nobel bidang kesehatan bersama Francis Crick dan James Watson, empat tahun setelahnya. Pada 6 Oktober lalu Maurice Wilkins dinyatakan meninggal pada usia 88 tahun.

Sumber : Sinar Harapan (11 November 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 2 Februari 2007

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI