fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Februari Puncak Hujan, Banjir Menjelang
merry magdalena

Februari mendatang diprediksi sebagai puncak curah hujan, sementara itu akhir Januari ini warga DKI Jakarta harus mewaspadai akan terjadinya banjir besar walau tidak sebesar 2002 silam. Kalaupun terjadi banjir, Jakarta hanya tergenang satu-dua hari.

Itulah hasil prediksi berdasar sistem Adaptive Neuro Fuzzy Interference System (ANFIS) yang dilakukan Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang rutin dilakukan setiap tahun.

“Tapi bagaimanapun juga kita tidak bisa memastikan dengan curah hujan di bawah rata-rata, Jakarta tidak akan banjir. Ada faktor di luar curah hujan yang menyebabkan banjir, misalnya sampah,” ungkap Dr Asep Karsidi, MS, Direktur Unit Pelaksanaan Teknis Hujan Buatan BPPT kepada pers di Jakarta, Rabu (17/1).

Yang dapat dilakukan oleh Asep beserta timnya adalah melakukan penyemaian terhadap awan untuk diturunkan secara bertahap sehingga tidak terjadi penumpukan air hujan.

Teknologi Metodologi Cuaca (TMC) ini sempat dipraktikan pada banjir bandang yang melanda Jakarta 2002 silam bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Pemda DKI. Namun untuk tahun ini belum ada rencana ke arah itu. Menurut Asep, yang bisa dilakukan adalah mengikuti jejak awan dan jika memang awan itu menuju ke laut dapat dijatuhkan ke sana sehingga tidak mengakibatkan banjir. “Metode ANFIS adalah prediksi yang dibuat berdasarkan pola data yang ada pada masa lalu. Dari sini bisa diketahui tren yang paling mirip dengan sekarang. Jika datanya cukup, maka prediksinya semakin bagus,” jelas Prof. The Houw Liong dari Departemen Fisika ITB.

La Nina

Tahun 2007 ini semestinya adalah saatnya La Nina, fenomena iklim dingin yang biasanya diikuti curah hujan tinggi. The berpendapat bahwa pola La Nina sendiri ada dua macam, yakni seperti yang terjadi pada 2002, dimana terjadi curah hujan lebat di seluruh Indonesia.

Pola kedua adalah seperti yang terjadi pada 1996, dimana hujan lebat tidak terjadi merata. Pada 2007 ini justru curah hujan berada di bawah normal. Ini disebabkan daerah Pasifik memanas tapi kolam panasnya menjauh dari Indonesia. Beberapa tahun belakangan ini pola musim di Indonesia dan berbagai belahan dunia lain memang mengalami perubahan. Asep menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan.

Pertama adalah pergeseran kemiringan rotasi bumi, dimana area yang tadinya mendapat sinar matahari cukup panjang, kini justru sebaliknya. Ada lagi faktor rumah kaca yang banyak disebutkan oleh para pemerhati lingkungan, dimana penggunaan bahan bakar fosil menjadi pemicunya. Faktor lain adalah pergeseran lempeng. Faktor terakhir adalah aktivitas matahari yang memang meningkat.

Sumber : Sinar Harapan (19 Januari 2007)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 2 Februari 2007

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI