fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Selasa, 16 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Ekonomi Umat ”Hamzah Haz” dan Pandangan Ekonofisika
Kebamoto (Fisika UI)

Membuat semua rakyat Indonesia menjadi sama makmurnya, sama sejahteranya dan sama tingkat ekonominya adalah tidak mungkin. Hambatannya sederhana. Tidak ada uang yang begitu banyak untuk waktu yang singkat. Karena itu pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang berjalan sesuai waktu. Cuma saja diperlukan suatu konsep pembangunan agar sesegera mungkin menyentuh kebutuhan rakyat banyak. Dalam ekonomi makro, seluruh parameter ekonomi dihitung secara total dari suatu negara. Misalnya GNP dan pendapatan perkapita. Karena itu peran orang per orang dalam pembangunan ekonomi diwakili dengan satu angka tunggal antara lain nilai rata-rata. Pandangan ekonofisika agak berbeda. Kajiannya dimulai dari sistem yang kecil-kecil saja lalu sifat dan perilaku sistem yang besar diperoleh dari gabungan (tanpa kecuali) dari sistem-sistem kecil ini. Karena itu konsep pembangunan umat yang dimulai dari masjid seperti yang dilontarkan Wakil Presiden Hamzah Haz mendapatkan analogi yang cukup bagus dalam fisika dan tinjauan ekonomi inilah yang disebut ekonofisika.

Ada dua konsep fisika yang hendak disampaikan di sini untuk menunjukkan keberpihakan ekonofisika kepada konsep pembangunan ekonomi umat di atas: hukum termodinamika dan rekayasa material. Fisika berkata bahwa membangun dan menjaga sistem yang besar adalah sangat sulit dan membutuhkan energi (biaya) yang sangat besar. Karena itu alam ini cenderung berubah dengan cara spontan (gratis, tanpa usaha) ke arah sistem yang kecil. Sebuah gelas akan sangat mudah (ketika jatuh) pecah berkeping-keping dari pada kepingan gelas tadi dengan sendirinya (secara spontan, gratis) bergabung kembali menjadi gelas yang utuh. Kalau kita paksakan untuk menggabung kembali pecahan gelas tadi maka diperlukan usaha (biaya) untuk mereparasinya ke tukang gelas. Inilah hukum termodinamika ke dua. Karena itu sistem yang kecil seperti masyarakat yang dibangun melalui unit-unit kecil seperti mesjid dan gereja sangat didukung oleh konsep alam yang kodrati ini.

Dalam teknologi rekayasa bahan atau material telah dipahami bahwa material monokristal sangat baik dan sempurna sifat-sifatnya. Kekerasan dan kekuatannya tinggi, tidak dapat berkarat, bagus dan lain-lain. Mengapa? Karena semua atom penyusunnya serba sama dan keadaannya atom di setiap titik juga serba sama. Bandingkan dengan rakyat Indonesia yang kemakmuran dan tingkat ekonominya sama. Tidak akan ada pengemis, perampok dan lain-lain. Namun membuat material monokristal seperti itu sangat sulit dan mahal. Karena itu dunia teknologi material dewasa ini bergeser dan gencar melakukan rekayasa material dalam skala nanometer (satu persejuta milimeter). Hasilnya, teknologi nanokristal (salah satunya nanokomposit) sudah sangat revolusioner.

Telah banyak bahan-bahan baru yang ditemukan seperti bahan magnet (untuk pembuatan CD), bahan katalis padat (untuk sensor dan pengecatan, aditif bahan bakar dan lain-lain) dan bahan super keras (untuk alat potong baja dan permesinan). Keuntungannya adalah bahwa produk-produk yang dihasilkan memiliki sifat keseluruhan yang mendekati bahan monokristal. Tetapi teknik dan biaya pembuatannya sangat mudah dan murah. Lihatlah berapa harga sebuah CD di pasaran sekarang ini.

Bahan super keras dalam bentuk nanokomposit memiliki keistimewaan dan merajai pasar alat potong baja dewasa ini. Bahan ini terdiri dari butir-butir kristal yang ukurannya dalam orde nanometer yang diselubungi oleh bahan amorf. Karena sangat kecilnya butir kristal bahan ini, maka sifatnya di setiap butir sama dengan sifat monokristal. Bayangkan butir-butir kristal ini sebagai pulau-pulau kecil yang diselubungi oleh bahan amorf yaitu laut (3 dimensi). Mengapa bahan ini sangat keras dan tangguh? Pertama nanokristal memiliki sifat yang sama dengan monokristal sehingga sulit untuk terdeformasi dengan gaya geser (shear). Kedua, apabila ada retakan yang menjalar dari batas butir, retakan ini tidak mampu masuk dalam nanokristal. Akibatnya retakan tertumpulkan pada permukaan dan penjalarannya diperpendek. Ketiga, adanya bahan amorf sebagai selubung ini melindungi nanokristal ini dari aliran atom-atom pengotor dan pengganggu dari sekitarnya. Akibatnya bahan ini sangat tangguh terhadap oksidasi dan temperatur tinggi.

Kuat dan Tangguh

Jika kita ambil analogi konsep pembangunan ekonomi (ekonofisika) dari sistem nanokomposit ini, maka masjid atau gereja dan umatnya tadilah yang dianalogikan dengan nanokristal. Artinya, kalau kita dapat menyejahterakan masyarakat masjid atau gereja dan umatnya, maka secara keseluruhan akan menyejahterakan seluruh masyarakat yang lain. Masyarakat-masyarakat yang lain akan ikut terbawa dalam sistem ini (tanpa membedakan agama) sehingga ikut terbangun. Untungnya adalah bahwa efek yang jelek dari luar sistem akan sulit masuk ke dalam sistem masjid atau gereja karena masyarakat di dalamnya sudah sangat kuat dan tangguh.

Melihat analogi ini dan berdasarkan hukum fisika serta kemajuan teknologi rekayasa material maka dapatlah dikatakan bahwa sistem pembangunan ekonomi yang dimulai dari masyarakat skala kecil lebih mudah dan menguntungkan ketimbang pembangunan menyeluruh yang kemudian baru diratakan ke lapisan masyarakat bawah. Di samping itu krisis sosial seperti keamanan dan kejahatan akan teredam dan tereduksi jika masyarakat dalam skala kecil ini sudah tangguh dan mapan. Masyarakat demikian akan sangat mudah digerakkan kearah hal-hal positif seperti siskamling, kebersihan selokan dan lain-lain. Juga akan berkembang suasana persaudaraan yang sejati bila masyarakat dieratkan dengan usaha bersama atas titik berangkat yang sama: kelompok rumah ibadah. Juga tidak terkira manfaat-manfaat sosial lainnya seperti dalam hal terjadinya banjir, kebakaran dan kematian.

Apa peran pemerintah? Tentu saja pemerintah diharapkan akan terus mengurusi hal-hal yang bersifat makro dan menyeluruh seperti pemberantasan KKN, pembangunan ekonomi makro serta infrastruktur yang menampung hasil produksi yang bangkit dari sistem tadi. Katakanlah bahwa pemerintah perlu membangun insdustri-industri pengolahan bahan makanan apabila banyak hasil usaha-usaha pertanian yang dihasilkan dari pembangunan ekonomi berpusat mesjid atau gereja tadi. Dan yang menarik, apabila konsep ini diperlebar sehingga bebas emosi agama, maka kerjasama dan kerukunan antara umat beragama akan cepat terbangun kembali.

Sumber : Sinar Harapan (13 November 2002)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 2 Februari 2007

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI