fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Chaos dalam Pegas Horizontal
Dody Hidayat

Siswi SMA 1 Serui, Papua, menang lomba karya ilmiah bidang fisika internasional karena menemukan model baru menjelaskan perilaku chaos.

Anike Nelce Bowaire, 17 tahun, siswi kelas tiga SMA Negeri 1 di Pulau Serui, Papua, meraih medali emas First Step to Nobel Prize in Physics (FS) ke-13 di Warsawa, Polandia. Ia dianggap juri kompetisi dari 23 negara peserta itu menghasilkan makalah orisinal yang menemukan model baru untuk menjelaskan perilaku chaos dalam sistem kompleks.

Dalam fisika, istilah chaos dimaksudkan sebagai suatu keteraturan dalam ketidakteraturan. Di kehidupan sehari-hari, chaos ditemukan dalam cuaca misalnya. "Cuaca itu kan tidak teratur, kadang panas kadang hujan. Tapi dalam ketidakteraturan itu sebenarnya ada keteraturan sehingga kita bisa membuat ramalan cuaca," kata Anike, menjelaskan.

Fenomena chaos pertama diamati pada 1961 oleh Edward Norton Lorentz (1917-kini), ahli meteorologi Amerika yang meneliti masalah-masalah dalam prakiraan cuaca. Ia menemukan adanya urutan yang berbeda dari pola yang asli.

Banyak model dikembangkan para fisikawan untuk menjelaskan perilaku chaos. Yang paling populer selama ini adalah model pegas yang diayun secara vertikal atau spring pendulum. Sistem mekanis yang sangat sederhana ini memiliki kombinasi dengan gerakan kompleks dan nonlinier.

Bagaimana dengan pegas yang diputar horizontal? Itulah yang muncul di benak Anike. Apakah juga dapat menjadi model untuk menjelaskan perilaku chaos?

Sebenarnya, ini soal eksperimen dari Olimpiade Fisika Internasional ke-35 di Seoul, Korea, pada 2004 silam. Tapi waktu itu tak disebutkan apakah ada chaos atau tidak. Eksperimen itu menggunakan kotak hitam mekanis atau mechanical black box (MBB).

MBB berupa tabung besi yang di dalamnya ada bola besi diapit dua pegas berbeda jenis. Tabung dikaitkan dengan tali yang diberi massa. Ketika massa dijatuhkan dari ketinggian tertentu, menarik tabung hingga berputar dipercepatan.

Anike pun membuat makalah An Accelerated Rotating Horizontal Spring. "Bolanya itu yang dikatakan sebagai chaos," katanya. Karena bola tak terlihat, pengamatan pergerakan memakai detektor photo gate timer. Detektor mencatat data waktu sehingga Anike dapat membuat kurva fungsi kecepatan dari berbagai ketinggian massa dijatuhkan.

Awal Anike tak tertarik ikut undangan seleksi nasional dari Kementerian Riset dan Teknologi. "Waktu itu saya konsentrasi di TOFI. Saya masuk 30 besar dan ikut Olimpiade Sains Nasional di Pekanbaru, Riau, dan mendapatkan medali perunggu," ujarnya.

Kemudian Anike malah berbalik. Ia tak ikut seleksi TOFI untuk ajang Olimpiade Asia tapi ingin fokus di kompetisi FS. Ia lalu mengirim makalahnya yang pernah dikirim ke "Lomba Karya Ilmiah Remaja" yang diadakan Universitas Pelita Harapan.

Makalah berjudul Mengukur Ketebalan Rambut Menggunakan Difraksi Franhofer ternyata lolos masuk lima besar. Dalam seleksi selanjutnya, Anike membuat makalah tentang chaos yang juga dinyatakan bermutu dan orisinal sehingga pantas mewakili Indonesia. Selain Anike, wakil Indonesia untuk kompetisi FS ini adalah Dhina Pramita Susanti dari SMA Negeri 3 Semarang dan Kridha Handaya dari SMA Taruna Nusantara Magelang yang meneliti gong Jawa.

Makalah chaos ini juga diikutkan dalam International Conference of Young Scientists 2005 in Physics, Mathematics, Computer Science, and Ecology. Di ajang ini, Anike dan Diatra Zulaika dari SMA Islam Al Izhar Pondok Labu, Jakarta, mempresentasikan makalah yang dibuat Anike. Mereka berhasil meraih penghargaan khusus.

Anike mengaku telah menerima kabar tentang kemungkinannya menang di FS dari pembinanya, Yohanes. "Saya masih di Serui karena baru selesai UAN. Selasa (8/6) pagi Pak Yohanes menelepon tapi ini belum final result," kata putri pasangan Yohanes Bowaire dan Yemima Woriori ini.

Anike ingin kuliah di bidang fisika murni. "Tadinya mau ambil di Universitas Satya Wacana, Salatiga. Kalau ada tawaran beasiswa dari UI atau ITB mengapa tidak," katanya.

Nantinya, Anike ingin menjadi pengajar. "Saya terilhami Pak Yohanes. Saya mau seperti dia mengajarkan fisika kepada orang-orang, jadi tidak disimpan sendiri," kata anak kedua dari empat bersaudara ini.

Sumber : Koran Tempo (14 Juni 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 3 Desember 2005

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI