fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Selasa, 16 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Asisten Pelatih Yudistira Virgus
Dody Hidayat

Menjadi asisten pelatih bagi Yudistira Virgus merupakan pengalaman baru yang menarik. "Saya diminta oleh Pak Yohanes Surya untuk membantu," kata Yudis ketika ditanya tentang awalnya ia melatih Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) 2005.

Kebetulan saat ini, Yudis--begitu ia kerap disapa--masih libur semester dua dari Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung. Libur tiga bulan itu dimanfaatkannya melatih adik-adiknya, TOFI 2005, untuk menghadapi Olimpiade Fisika Internasional (OFI) di Salamanca, Spanyol, 3-12 Juli, ini.

Yudis merupakan alumni TOFI 2004. Di Pohang, Korea Selatan, tahun lalu, dalam OFI ke-35, Yudis mempersembahkan satu-satunya medali emas bagi Indonesia. Sebelumnya, pada Olimpiade Fisika Asia (OFA) ke-5 di Bangkok, Thailand, Yudis yang berasal dari SMA Xaverius 1 Palembang, Sumatera Selatan, ini juga meraih emas.

Bagi Yudis, ikut dalam ajang kompetisi pelajaran fisika internasional ini adalah ketiga kalinya. Pada 2003, ia bergabung dalam TOFI untuk mempersiapkan diri di ajang OFI ke-33 di Taiwan. Hasilnya, ia memperoleh medali perunggu. Kali ini, di OFI ke-36, Yudis juga ikut tapi bukan sebagai peserta melainkan asisten pelatih.

Berprestasi di tingkat internasional membuatnya banyak mendapatkan tawaran beasiswa. Namun, Yudis tak mengambilnya. Kebetulan waktu itu ia sudah "memegang" ITB karena lolos dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru. Tawaran beasiswa dari Sampoerna Foundation juga tidak diambilnya, padahal ia bisa mengecap pendidikan di Amerika atau Australia.

"Alasannya karena tidak cocok dengan syarat yang mereka berikan," kata lelaki kelahiran Palembang 28 Agustus 1985 ini. "Ada banyak, yang utamanya karena saya tidak boleh ambil fisika dan setelah pendidikan nanti saya harus kembali ke Indonesia dulu selama lima tahun," kata dia.

Yudis memang sudah kepincut berat dengan fisika sejak kelas satu SMA. Ia sangat mengidolakan Isaac Newton. Betapa tidak, Newton hanya memiliki tiga rumus tapi aplikasinya sangat beragam. Dari situ ia mulai asyik mempelajari fisika. Tak jarang ia harus berlatih sendiri untuk memahami soal-soal. Tapi hasilnya tak mengecewakan, Yudis menjuarai kompetisi antarsiswa ke-Palembang dan se-Sumatera Selatan. Inilah yang mengantarkannya bergabung dengan TOFI.

Yudis bercita-cita melanjutkan pendidikannya jika telah menamatkan sarjana di ITB. "Saat ini belum tahu mau ke mana. Nanti kalau sudah penjurusan baru tahu," ujar anak kedua dari pasangan Edyanto dan Elvy Novianto ini. Namun, Yudis sangat berminat dengan bidang material computing. "Menarik juga meneliti bahan-bahan untuk nantinya dapat diterapkan pada teknologi," dia menjelaskan.

Sumber : Koran Tempo (4 Juli 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 3 Desember 2005

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI