fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Rizal M. Hariadi : Asisten Dosen Nobelis Fisika 2004
Dody Hidayat

Tak banyak yang tahu kalau ada alumnus TOFI yang pernah mengajar David Politzer, peraih Hadiah Nobel Bidang Fisika 2004, selama satu semester. Alumnus TOFI itu Rizal M. Hariadi yang kini menjadi asisten dosen dan kandidat doktor di California Technology University.

Selama semester winter lalu, ujar Rizal, ia menjadi asisten dosen untuk kelas Physics of Biological Structure and Function, dan kebetulan David mengambil kelas itu. "Yang memberi lecture adalah Rob Phillips, dan bukan saya," kata Rizal merendah.

"Saya salut dengan David. Meski telah meraih Nobel, David masih datang ke kelas untuk duduk kuliah bersama murid-murid di kelas saya. Bahkan ia masih sempat mengerjakan pekerjaan rumah dari Rob Phillips yang terkenal sangat panjang," kata Rizal.

Rizal adalah alumnus TOFI 1997 dari SMA Islam Al-Azhar I, Jakarta. Ia masuk TOFI untuk menghadapi Euro-Asia Physics Competition. Di kompetisi itu, ia mendapat satu emas untuk eksperimen, dan dua perak untuk teori dan overall.

Setamat SMA, ia melanjutkan kuliah di Washington State University, Jurusan Fisika dan Biochemistry. Mendapatkan gelar S1, Rizal melanjutkan ke Caltech untuk program pascasarjana dan doktor. Jurusannya Applied Physics dengan fokus penelitian DNA nanotechnology (Nanoteknologi berbasis DNA). "Target saya, mudah-mudahan program doktor saya selesai tiga tahun lagi" kata dia.

Di Caltech, Rizal memiliki banyak kesempatan berinteraksi dengan ilmuwan top. "Interaksi secara personal tidak terlalu sering. Semua bergantung pada daerah penelitian," katanya.

Umumnya, ungkap Rizal, salah satu keunggulan fakultas yang ada di Caltech adalah di daerah penelitiannya. Karena itu, bukan sesuatu yang aneh jika di kampusnya banyak ditemui peraih Nobel. Dan menariknya, penghargaan Nobel itu tak lebih prestisius ketimbang meraih beasiswa dari McArthur (McArthur fellow). Sebagai ilustrasi betapa prestisiusnya McArthur fellow di Caltech, ia menyebut bahwa di kampusnya hanya empat orang yang mendapatkannya.

Keseharian Rizal umumnya lebih banyak di habiskan di kampus, terutama di laboratorium. "Kalau tidak di laboratorium, saya menghabiskan waktu dengan keluarga," kata Rizal yang tinggal di sebuah apartemen di Los Angeles. Istrinya yang ikut bersamanya di Amerika sedang mengambil sertifikasi dokter spesialis. "Sekali dalam seminggu kami hadir di pengajian di KJRI atau rumah WNI di LA," katanya.

Rizal yang dihubungi via e-mail ini mengaku minggu ini lumayan sibuk. Ngebut karena ada rencana pulang ke Indonesia pertengahan bulan depan. Selain itu, ia juga tengah sibuk membuat "single-molecule microscope" sendiri, ujarnya.

Rizal sedang berkonsentrasi pada pendidikannya. Kalau telah selesai nanti, ia belum tahu apa yang akan dilakukannya. "Meski tinggal di luar negeri, bukan berarti kita tidak bisa ikut membantu pembangunan di Indonesia. Di sini, banyak profesor non-Amerika yang sangat aktif membantu negaranya, misalnya dengan memberi research fellowship di laboratorium mereka bagi lulusan negara asalnya," ujar Rizal.

Pemikiran Rizal ini sama dengan yang sedang dirintis para alumni TOFI, seperti Oki Gunawan, Hendra Jhony Kwee, dan Yudistira Virgus dengan "TOFI Junior Research Program". Semoga saja ini dapat terwujud.

Sumber : Koran Tempo (7 Juli 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 3 Desember 2005

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI