fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Menyuntik Semangat Riset Ilmuwan
Tjandra

"Bangun gairah meneliti ilmu dasar."

Gengsinya mungkin belum sekelas hadiah Nobel tapi paling tidak bisa menumbuhkan semangat meneliti. Begitulah tujuan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memberikan penghargaan Indonesia Scientific Award mulai 2006. Kepala LIPI Umar Anggara Jenie menyatakan, penghargaan itu akan diberikan kepada ilmuwan yang dinilai menghasilkan penelitian ilmiah terbaik.

"Ini berbeda dengan pemilihan peneliti muda Indonesia terbaik, karena penghargaan ini lebih ditekankan pada karya penelitian ilmiahnya," kata Umar di sela-sela Pertemuan Ilmuwan Indonesia Abad Ke-21 di Widya Graha, Jakarta.

Penghargaan yang akan diberikan pada pertengahan tahun depan itu akan menandai Tahun Indonesia untuk Ilmu Pengetahuan. Tak cukup sampai di situ, setelah mendatangkan pemenang Hadiah Nobel Bidang Fisika Douglas Dean Osheroff untuk memperingati 100 tahun Teori Einstein, tahun depan lembaga itu berencana mendatangkan pemenang Hadiah Nobel Bidang Kimia.

Menurut Umar, penelitian di bidang ilmu dasar sangat penting, baik di bidang ilmu pengetahuan alam maupun sosial. Hal itu juga tertuang dalam Forum Ilmu Pengetahuan Dunia Ke-2 di Hungaria pada pertengahan November lalu. "Tidak akan ada ilmu terapan tanpa ilmu dasar untuk diaplikasikan," katanya.

Padahal para ilmuwan Indonesia cenderung melakukan penelitian yang cepat menghasilkan atau teknologi terapan. Bila terus berlangsung, menurut Umar, Indonesia hanya akan mengulangi teknologi berdasarkan penelitian yang sudah ada. "Sehingga penelitian dasar kita lemah dan tidak berkembang," ujarnya.

Saat ini baru Cina, India, Brasil, dan Korea Selatan yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dasar serta aplikasi industrialnya. Negara berkembang lain yang akan menyusul adalah Pakistan, Nigeria, dan Afrika Selatan.

Umar menunjukkan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah Pakistan untuk mendukung kemajuan dunia ilmu pengetahuan bukan sekadar omong kosong. Agar peneliti unggul Pakistan yang berada di luar negeri pulang, Menteri Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Pakistan Attaur Rahman meminta insentif empat kali gaji menteri bagi mereka.

"Rahman mengatakan kepada Presiden Musharraf, 'Jika Anda benar-benar serius dengan ilmu pengetahuan, Anda harus mengikuti kebijakan saya,' dan itu diterima oleh Presiden," kata Umar.

Umar berharap pencanangan 2005-2006 sebagai Tahun Indonesia untuk Ilmu Pengetahuan juga bisa mendongkrak alokasi dana untuk penelitian dasar. Bila dana yang ada hanya untuk pengembangan teknologi, Indonesia akan tertinggal terus karena menjadi bangsa pengimpor ilmu dasar. "Kalau penelitian dasar kuat, inovasi ilmuwan kuat, otomatis teknologi akan maju," katanya.

Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman belum bisa mengungkapkan apakah alokasi dana untuk penelitian dasar meningkat untuk anggaran 2006. Dia hanya menyatakan telah mengusulkan kenaikan 30 persen dari anggaran sebelumnya.

"Tapi kami akan mengubah insentif riset dari 32 macam menjadi lima jenis sehingga lebih besar," katanya. "Dan itu tidak lagi ditawarkan terbuka tapi kami berkeliling ke lembaga penelitian dan perguruan tinggi untuk mencari penelitian yang bagus dan kami biayai."


Saintis dan Peraih Nobel

Tidak semua saintis atau ilmuwan bisa menjadi peraih Nobel. Tapi tak berarti peraih Nobel lebih cerdas dan tahu segalanya ketimbang ilmuwan yang tidak mendapatkan penghargaan itu. Berulang kali dan beberapa kesempatan Douglas Dean Osheroff, peraih Hadiah Nobel Bidang Fisika pada 1996, menegaskan pendapatnya itu. Oseroff datang ke Indonesia pada akhir pekan lalu untuk memenuhi undangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dalam menyambut pencanangan Tahun Indonesia untuk Ilmu Pengetahuan 2005-2006. Pada Pertemuan Ilmuwan Indonesia Abad Ke-21, yang berlangsung pada 18-19 November 2005, itu, isu mengenai haruskah peneliti memperoleh Hadiah Nobel mencuat jadi perbincangan. Sebagian besar kalangan ilmuwan dalam pertemuan itu mengatakan bahwa penghargaan (seperti Hadiah Nobel) bukan tujuan utama seorang ilmuwan dalam karier penelitiannya. Profesor Pantur Silaban, PhD, dari Laboratorium Fisika Teoritis Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, yang menjadi pembicara khusus pada pertemuan itu, adalah salah satu yang tegas menentangnya. Ia malah mengatakan, orang yang mengejar penghargaan untuk kepopuleran diri termasuk "satanic people". "Lakukan penelitian dengan baik, penghargaan akan datang dengan sendirinya," kata Pantur. Visi Indonesia meraih Hadiah Nobel pada 2020 pernah dilontarkan Profesor Yohanes Surya, PhD, yang kini guru besar fisika di Universitas Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Sekitar 2002, Yohanes memunculkan ide ini dengan cara mengirim pelajar Indonesia yang berprestasi ke universitas terkenal di dunia untuk langsung dididik oleh profesor di universitas itu--yang merupakan peraih Nobel--maka pada 2020 akan ada orang Indonesia yang menjadi co-winner Nobel Prize. Osheroff ternyata pernah mengajar salah satu mahasiswa strata satu Indonesia di Stanford University. Mahasiswa itu, Evelyn Mintarno, merupakan anggota Tim Olimpiade Fisika Indonesia yang dibimbing oleh Yohanes Surya sehingga meraih medali perunggu di Olimpiade Fisika Internasional ke-22 pada 2002 di Denpasar, Bali. "Ia anak yang pintar. Tak ada alasan yang menghalangi dia untuk mendapatkan Nobel suatu saat nanti," tutur Osheroff ketika ditanyai pendapatnya tentang Evelyn. Namun, Osheroff agak terkejut dengan target waktu yang ditetapkan Yohanes, yang berarti 15 tahun sejak hari ini. "Dalam sejarah Hadiah Nobel, paling cepat 17 tahun bagi seorang ilmuwan dapat diakui hasil penelitiannya oleh panitia Hadiah Nobel. Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman dalam sambutan pembukaan pertemuan itu mengatakan bahwa ada tiga hal yang dapat disumbangkan seorang peneliti. "Bagus kalau bisa melakukan ketiga-tiganya. Tapi, jika hanya bisa satu saja, jadilah yang terbaik," kata Kusmayanto.

Sumber : Koran Tempo (21 November 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 28 November 2005

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI