fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Fluiditas Seorang Osheroff : Profil peraih Nobel yang dicintai mahasiswanya
Wuragil

Ingat sekuel film Terminator ketika Arnold Schwarzenegger harus menghadapi makhluk likuid? Musuhnya itu likuid tapi mampu bergerak merayap, melayang, dan menanjak. Pokoknya ke mana-mana dengan bebas.

Film itu ternyata tidak sepenuhnya fiksi karena ada fenomena likuid seperti itu, disebut superlikuiditas atau supercair. Sebuah fenomena termodinamika kuantum yang tidak dapat diterangkan dengan teori-teori fisika klasik.

Bayangkan suatu cairan yang memiliki pola molekuler sangat rapi dan teratur dalam setiap alirannya. Cairan itu mampu mengalir tanpa kehilangan energi sedikit pun akibat friksi. Ia bahkan mengabaikan pengaruh gravitasi sehingga bibir gelas dapat dipanjat dan air mengalir keluar dengan sendirinya.

Itulah fase superfluiditas yang ditemukan Douglas Dean Osheroff dialami oleh helium-3 cair pada suhu 0,002 di atas nol mutlak dan berbuah Hadiah Nobel Fisika sembilan tahun lalu baginya. Profesor fisika dan fisika terapan di Stanford University, yang hari ini hingga besok hadir sebagai tamu istimewa dalam Pertemuan Peneliti Indonesia Abad Ke-21 di Jakarta, itu memang tidak sendiri dalam penemuan itu. Ada koleganya, tepatnya pembimbingnya, David M. Lee dan Robert C. Richardson, keduanya dari Cornell University, Ithaca, Amerika Serikat.

Osheroff, 60 tahun, berasal dari sebuah keluarga dokter, mulai kakek, paman, tante, sampai saudara-saudaranya. Kalau tidak menjadi dokter, ya menikah dengan seorang dokter. Tapi Osheroff justru tertarik pada ilmu alam. Dia juga gemar "mbengkel". Dimulai pada usia enam tahun dengan membongkar mobil mainannya untuk mencomot motor elektriknya, Osheroff cilik selalu mengelilingi dirinya dengan peralatan listrik, mekanik, dan kimia. Puncaknya adalah mesin sinar-X 100 kiloelectron Volt yang dikonstruksinya ketika duduk di sekolah tingkat menengah.

Banyak yang dia alami karena hobinya itu, di antaranya senapan rakitannya yang meletus hingga melubangi langit-langit rumah hingga percobaan lampu acetylene-nya yang meledak dan melukai wajahnya serta hampir merenggut penglihatan mata kanannya. "Kalau sekarang mungkin saya harus sering berurusan dengan FBI karena hobi saya itu," katanya.

Osheroff hijrah dari California Institute of Technology ke Cornell University untuk menggapai gelar doktornya. Awalnya karena menghindari kabut asap (smog) di Pasadena, sekolahnya yang lama, tapi siapa sangka ternyata pilihannya itu sangat tepat. Sebab, di Cornell dia bertemu dengan dua orang yang sangat penting dalam hidupnya: Phyllis Liu, wanita matematikawan asal Taiwan yang menjadi istrinya, dan David Lee, Kepala Laboratorium Suhu-Rendah Cornell University sekaligus profesor yang dibantunya sebagai asisten dosen.

Sontak, penelitian suhu-rendah menjadi jauh lebih menyenangkan baginya ketimbang di Caltech. "Dan kami menemukan peralihan fase yang misterius itu di dalam sel Pomeranchuk saya pada November 1971," katanya menunjuk superfluiditas helium-3.

Setahun kemudian Osheroff memutuskan bergabung dengan perusahaan telekomunikasi AT&T Bell Laboratories. Ia memutuskan menerima tawaran mengajar dan menekuni studi helium-3 padat di Stanford setelah 15 tahun bekerja di perusahaan telekomunikasi itu.

Bukan bosan penyebab kepindahannya, melainkan rujuk dari istrinya yang memang ingin pindah dari New Jersey dan mencari pekerjaan lain. Liu mengatakan kepadanya, "Saya bisa melihat seorang guru siap dilahirkan dari dalam dirimu."

Lagi-lagi bukan pilihan keliru karena Osheroff sangat menikmati kesibukannya mengajar. Kepastian dirinya menjadi peraih Nobel pun sampai di telinganya ketika dia sedang asyik mengajar mahasiswanya tentang fisika dalam fotografi.

Osheroff adalah pribadi yang menyenangkan. Setidaknya itu dituturkan Evelyn Mintarno, mahasiswa tingkat empat di Stanford University asal Indonesia yang pernah dibimbing langsung oleh Osheroff. Evelyn pernah membantunya meneliti penyebab meledaknya pesawat ulang-alik Columbia dua tahun lalu.

"Profesor Osheroff mungkin adalah guru fisika terbaik yang pernah saya kenal," kata remaja 20 tahun itu kepada Tempo lewat surat elektroniknya. "Dia tahu bagaimana masuk ke dalam pikiran mahasiswanya."

Evelyn juga mengagumi Osheroff sebagai seorang eksperimentalis. Dengan kemampuan mengajarnya itu, Evelyn mengatakan, tidak sulit menangkap dan mencerna konsep-konsep yang coba diterangkan Osheroff dalam setiap kelasnya.

Osheroff memilih merendah. "Saya senang di sini karena memiliki mahasiswa-mahasiswa yang cerdas," katanya memberikan alasan. Tapi rasanya Walter J. Gores Award yang diberikan Stanford kepadanya sudah cukup membuktikan penuturan Evelyn itu.

Sumber : Koran Tempo (18 November 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 28 November 2005

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI