fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Selasa, 16 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Keajaiban itu bernama Einstein
Wuragil

Seratus tahun sudah usia teori-teori Einstein. Indonesia mencoba menggeliat.

Bagaimana Anda mengenang seorang Albert Einstein (1879-1955)? Seperti Yohanes Surya-kah, profesor dan guru besar fisika di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah, yang mengaguminya karena selalu mampu membuat sesuatu yang sulit menjadi sederhana? Sebuah filosofi yang senantiasa memberi inspirasi dalam kesibukannya sebagai Presiden Olimpiade Fisika Asia dan, terutama, Indonesia.

Atau Anda membersitkannya sebagai seorang teoretis terhebat seperti kata Widagdo Setiawan, mahasiswa Indonesia yang sedang mendalami teori fisika kuantum tingkat lanjut di Massachusetts Institute of Technology di Amerika Serikat.

Peraih medali emas lomba First Step to Nobel Prize in Physics 2004, Septinus George Saa, lain lagi. Remaja Papua yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan kuliah jurusan aerospace engineering di Florida Technology Institute sambil belajar berselancar di Negeri Abang Sam itu mengistilahkan Einstein sebagai A Man with Full of Dream. "Dia memberikan saya mimpi," tulis Oge dalam surat elektroniknya.

Ataukah seperti adik kelas Oge, peraih emas First Step to Nobel Prize in Physics 2005, Anike Bowaire, dan Andika Putra--siswa kelas III SMA Sutomo I, Medan, yang juga peraih medali emas Olimpiade Fisika Internasional 2005--yang cukup mengatakan, "Orang yang jenius... hebat."

Nyatanya semua itu memang ada pada diri Einstein. Dilahirkan di Ulm, Baden-Wurttemberg, Jerman, sekitar 100 kilometer sebelah timur Stuttgart, pada 14 Maret 1879, Einstein kecil sebenarnya tumbuh sebagai siswa yang agak lambat menerima pelajaran. Ada kemungkinan karena diyslexia (kesulitan memahami bahasa) dan malu yang berlebih atau bahkan ada yang menyebut karena struktur otaknya yang lain daripada yang lain.

Tapi Einstein santai saja. Anak penjual kasur yang beralih membuka bengkel elektrokimia itu menganggap bahwa teori relativitas yang dirumuskannya justru berkat kelambatan daya tangkapnya itu. Einstein mengatakan, "Dengan memiliki ruang dan waktu yang lebih lama daripada kebanyakan anak-anak lainnya, saya jadi mampu menerapkan kecerdasan yang lebih berkembang."

Itulah Einstein, yang dianugerahi Hadiah Nobel Fisika pada 1921 karena penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan "pengabdiannya" untuk fisika teoretis. "Seorang yang bukan anak jenius tapi karena keseriusannya mempelajari banyak penemuan menempa dirinya menjadi seorang pemenang Nobel Fisika yang dikagumi sepanjang masa," Presiden Himpunan Fisika Indonesia Masno Ginting memuji.

Berbagai penghargaan prestisius memang disandangnya, di antaranya Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan tahun ini sebagai Tahun Fisika Internasional. UNESCO mengajak masyarakat dunia merayakan usia 100 tahun annus mirabilis papers (annus mirabilis diambil dari bahasa Latin yang artinya tahun keajaiban, 1905), makalah milik Einstein.

Ya, 100 tahun yang lalu Einsten mempublikasikan lima makalahnya yang, menurut Oki Gunawan--mahasiswa strata tiga asal Indonesia di almamater Einstein, yakni Princeton University, New Jersey--berisi tiga topik mahakarya bidang fisika: (1) teori gerak acak partikel yang disebut Gerak Brown. (2) teori tentang fotolistrik, bahwa cahaya adalah sekumpulan partikel yang disebut foton. (3) teori relativistik khusus dan teori relativistik umum.

Sebut saja contoh teknologi paling mutakhir saat ini, mulai televisi, lampu neon, komputer, sinar laser, sampai bom atom. Juga CD/DVD penghasil suara dan gambar tajam, kamera digital yang tidak perlu cuci cetak lagi, dan global positioning system.

Lirik pula teknologi akselerator partikel berkecepatan tinggi yang menguak banyak fenomena, termasuk tentang DNA. Belum lagi model-model kosmologi, seperti teori mengembangnya jagat raya.

Boleh dibilang semua itu berkembang karena teori-teori yang dirumuskan Einstein. Atau dalam bahasa Evelyn Mintarno, mahasiswi tingkat empat di Stanford University yang menimba ilmu langsung kepada Douglas Dean Osheroff, "Pada seluruh kemajuan teknologi itu terdapat sidik jari Einstein."

Tidak salah juga kalau setahun lalu majalah Time menobatkannya sebagai tokoh abad ke-20. Di Tanah Air, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memilih mengaitkan perayaan 100 tahun teori-teori Einstein itu dengan penetapan Tahun Ilmu Pengetahuan Indonesia 2005-2006. Sebuah pertemuan akbar para ilmuwan digagas dan tema pun diangkat: Menuju Indonesia yang Cerdas dan Cemerlang.

Tidak tanggung-tanggung, seorang peraih Nobel diundang dan dijadikan daya pikat bagi para peneliti muda lokal. Dari sana, kerja sama riset diharapkan menjadi berbuah lebat, dan cita-cita Einstein asli Indonesia bisa digantungkan. Bukan tidak mungkin.

Einstein Menurut Mereka

Novi, karyawati akunting di Jakarta. Novi tidak tahu harus berkomentar apa mendengar nama Einstein ditujukan kepadanya. Novi hanya membayangkannya identik dengan materi fisika yang sangat berat dan susah. "Hiii...," ucapnya, Novvipun pasti tidak sendiri.

Segelintir dari - sebenarnya - banyak tokoh dan mahasiswa Indonesia yang boleh dibilang sangat familiar dengan dunia fisika dapat membantu mengenal lebih dekat Einstein dan teori-teorinya itu.

Yohanes Surya, 42 tahun

Profesor dan guru besar fisika di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah, yang juga Presiden Olimpiade Fisika Asia atau Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Dia mendorong sebanyak mungkin siswa Indonesia belajar di berbagai universitas top di dunia dan belajar langsung dari para peraih hadiah Nobel. "Peraih Nobel melahirkan perih Nobel," begitu impiannya.

"Teori relativitas sangat populer karena dapat dibuktikan melalui berbagai eksperimen. Sebelumnya sangat kontroversial. Bom atom di Jepang pada tahun 1945 itu adalah bukti kepada khalayak ramai bahwa teori Einstein memang valid," kata Yohanes.

Dalam proses bom atom itu, "terjadi reaksi berantai pembelahan atom uranium. Unutuk tiap reaksi, ada massa yang hilang yang berubah menjadi energi yang dapat dihitung dengan rumus E = m c2," dia menambahkan. "Energi ini besar sekali karena kecepatan cahaya c = 300 juta meter perdetik. Bisa dibayangkan berapa besarnya jika nilai ini dikuadratkan sehingga mampu memorakporandakan kota, seperti Hiroshima dan Nagasaki," ujarnya.

Masno Ginting, 49 tahun

Anggota Majelis Ahli Peneliti Utama LIPI sekaligus Presiden Himpunan Fisika Indonesia. Dalam perayaan Tahun Fisika Dunia 2005, Masno berperan sebagai anggota Komite Pengarah Internasional. Dia pula yang mencetuskan ide mendatangkan peraih hadiah Nobel ke Indonesia.

"Teori relativitas memberikan perubahan yang luar biasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan, bukan saja fisika. Inti pemikirannya sederhana : semua kehidupan ini relatif, bergantung pada waktu dan tempatnya. Saya belum melihat ada yang dapat mematahkan teori Einstein. Tapi kebenarannya banyak dibuktikan para ilmuwan lain."

Rizky Fajar Hartadi, 26 tahun

Mahasiswa strata tiga yang sedang gandrung dengan sepeda roda satu yang baru dibelinya ini, adalah asisten dosen untuk kelas physiscs of biological structure and function di California Institute of Technology (Caltech). H. David Politzer, peraih hadiah Nobel Fisika 2004 karena teori interaksi kuat yang dikembangkannya, terutama dalam menemukan asymptotic freedom, adalah salah satu mahasiswa di kelas itu.

"Banyak kontribusi Einstein yang sangat orisinal. Salah satu aplikasi yang sangat dekat di hati saya adalah penggunaan radiactive element untuk menghangatkan Mars Rover ketika musim dingin di Mars."

Widagdo Setiawan, 21 tahun

Mahasiswa tingkat III di Massachusetts Institute of Technology dan masih bekerja di bawah bimbingan Profesor Wolfgang Katterle, peraih hadiah Nobel Fisika pada 2001, penemu bose Einstein condensate (BEC). Secara kasarnya BEC adalah wujud kelima benda (selain padat, cair, gas dan plasma). BEC diprediksi Eisntein secara teori pada 1900-an, tapi baru direalisasi secara eksperimen pada 1955 karena diperlukan temperatur yang sangat rendah untuk mencapainya.

"Yang unik dari Einstein adalah, berbeda dengan fisikawan lain, dia menurunkan semua teorinya tanpa data dari eksperimen, tapi sangat akurat. Teori terhebatnya bukan relativitas khusus, tetapi relativitas umum, yang dia temukan pada 1915, sepuluh tahun setelah relativitas khusus. Relativitas umum ini menjelaskan efek gravitasi, dan membuktikan teori gravitasi Newton tidak akurat untuk benda-benda yang dekat dengan matahari atau black hole," ujarnya.

Dia menambahkan, "Para fisikawan memprediksi, relativitas khusus cukup mutlak dan merupakan dasar dari teori-teori kuantum yang ditemukan kemudian. Jadi kecil kemungkinan teori ini akan tergantikan."

Evelyn Mintarno, 20 tahun

Mahasiswa tingkat empat di Stanford University, yang menimba ilmu langsung kepada Douglas Dean Osheroff, pakar cryogenic - teknik pembekuan pada suhu ekstrem dingin di bawah absolut - juga peraih Nobel Fisika pada 1996. Evelyn diantaranya membantu Osheroff menyelidiki kegagalan fungsi busa pelapis pada tangki eksternal wahana luar angkasa Columbia yang meledak ketika kembali ke bumi dua tahun lalu.

"Einstein adalah seorang jenius diantara jenius yang berhasil menemukan melalui pemikirannya bahwa jagat raya tidaklah seperti yang tampak. Segala sesuatunya relatif, kecepatan, massam ruang dan waktu seluruhnya subyektif. Begitu juga dengan umur, gerak dan pengembaraan planet-planet, yang hanya dapat dianalisis menurut masing-masing pengamatnya," ungkapnya.

Evelyn menuturkan, "Cahaya memiliki berat dan ruang meiliki lengkungnya. Apabila terlilit di dalam satu pon saja suatu bahan - bahan apapun - menjadi sebuah daya ledak setara dengan 14 juta ton TNT. Kita tahu semua itu karena Albert Einstein."

Sumber : Koran Tempo (16 November 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 28 November 2005

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI