fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Alfred Nobel, Sang Penemu Dinamit
Hendro Sujatmoko

Ayah, jangan lupa. Febri dibeliin play station ya! seru bocah 5 tahun pada ayahnya. Iya, doain ayah ya, nak, sahut sang ayah yang hendak pergi bekerja ke sebuah kantor di kawasan Kuningan, Jakarta. Suryadi nama sang ayah yang berprofesi sebagai tukang kebun di Gedung Kedubes Australia. Nahas nasib Suryadi, setelah sebuah mobil boks meledak tepat di depan gedung tempat ia bekerja. Permintaan sang anak pun yang tengah menunggu di rumah tak akan terpenuhi sang ayah setelah ditemukannya mayat Suryadi.

Tak hanya keluarga Suryadi yang mengalami musibah tersebut, kebanyakan korban peledakan merupakan warga pribumi. Peristiwa ini mendapatkan banyak kecaman dari berbagai pihak yang ditujukan kepada para teroris. Berdasarkan temuan tim Puslabfor ditemukan fakta, bahan yang digunakan para teroris tersebut untuk peledakan adalah campuran TNT dan belerang.

Beberapa waktu lalu pun kita mendengar berita mengenai ledakan yang terjadi di berbagai daerah termasuk di Jln. Banceuy dan Jln. Braga, Bandung. Anda juga tentu tidak lupa dengan tragedi bom bunuh diri yang sering terjadi akhir-akhir ini seperti tragedi hotel JW. Marriot. Bahan peledak yang dipergunakan memang lebih canggih dan memiliki daya ledak yang lebih besar daripada dinamit yang pertama kali ditemukan Alfred Nobel, namun memiliki prinsip kerja serupa.

Sang penemu tentu tidak menyangka, hasil karyanya tersebut akan disalahgunakan menjadi alat untuk merusak dan menghancurkan kehidupan manusia seperti pada saat ini. Sebenarnya siapakah Alfred Nobel tersebut?

Nama lengkapnya Alfred Bernhard Nobel, seorang ilmuwan terkenal, penemu, pengusaha sukses dan pendiri dari Penghargaan Nobel (Nobel Prize). Ia dilahirkan dari pasangan suami istri berkebangsaan Swedia di Stockholm, Swedia. Ayahnya bernama Immanuel Nobel dan ibunya bernama Andriette Ahlsell Nobel. Ayahnya seorang ahli teknik dan penemu, kemampuan ayahnya inilah yang kelak akan diwariskan pada Alfred.

Pada tahun yang sama dengan kelahiran Alfred, usaha ayahnya mengalami kemunduran dan akhirnya dinyatakan bangkrut. Pada tahun 1837, ayahnya mencoba untuk membuka usaha baru di Rusia dengan meninggalkan keluarganya di Stockholm. Alfred dan kedua kakaknya, Robert yang dilahirkan tahun 1829 dan Ludvig tahun 1831 harus hidup sederhana dengan hanya mengandalkan usaha ibunya yang membuka toko grosir.

Beberapa tahun kemudian, usaha ayahnya dalam bidang workshop mekanik yang menyediakan peralatan tentara Rusia di St. Petersburg, Rusia, mengalami kemajuan dan akhirnya seluruh keluarga pindah ke Rusia, tahun 1842. Setahun kemudian adik Alfred lahir dengan nama Emil. Keempat bersaudara ini mendapat pendidikan yang baik meliputi ilmu pengetahuan alam, bahasa dan literatur. Di usia 17 tahun, Alfred muda dapat menguasai bahasa Swedia, Rusia, Prancis, Inggris, dan Jerman.

Alfred sangat tertarik dengan ilmu literatur, kimia dan fisika. Ayahnya sangat mengharapkan agar Alfred dapat mengikuti jejak langkahnya, sehingga ia mengirim Alfred muda ke luar negeri untuk menjadi seorang ahli teknik kimia.

Di Paris, Alfred bekerja di laboratorium pribadi seorang ilmuwan terkenal pada saat itu, T. J. Pelouze. Di sana ia bertemu dengan ahli kimia dari Italia, Ascanio Sobreno yang telah menemukan suatu cairan yang sangat mudah meledak yang terkenal dengan nama nitrogliserin. Sobreno menyadari, temuannya ini sangat berbahaya untuk diaplikasikan. Namun, Alfred muda sangat tertarik dan ingin mempergunakannya di bidang konstruksi. Ketika Alfred pulang ke Rusia, ia bekerja sama dengan ayahnya untuk mengembangkan nitrogliserin untuk dikomersialisasikan dan digunakan untuk sesuatu yang berguna, misal membantu pekerja untuk menghancurkan batu.

Kembali ke Swedia

Setelah peperangan antara Rusia dan Turki berakhir, tahun 1863, maka usaha ayahnya kembali mengalami kemunduran, sehingga keluarga Alfred memutuskan untuk kembali ke Swedia, kecuali kedua kakaknya yang tinggal dan meneruskan sisa-sisa usaha ayahnya. Di Swedia, Alfred terus mengembangkan nitrogliserin sebagai bahan peledak. Namun, Alfred harus kehilangan adiknya dan beberapa orang pada saat eksperimen ledakan dari nitrogliserin hasil penelitiannya. Karena ledakan ini pemerintah setempat melarang penelitian tersebut.

Alfred tidak begitu saja menyerah, ia terus melakukan penelitian mengenai nitrogliserin di atas perahu di Danau Malaren. Pada tahun 1864, ia mampu memproduksi nitrogliserin dalam jumlah besar, namun ia juga tidak berhenti untuk terus meneliti nitrogliserin dengan cara menggabungkannya dengan bahan-bahan lain hingga diperoleh produk yang lebih aman.

Akhirnya dengan kerja keras, pada tahun 1866 Alfred dapat menemukan, tanah kieselguhr dapat mengubah wujud cair nitrogliserin menjadi pasta yang dapat dibentuk menjadi batangan. Batangan ini dapat dilubangi dan diberi sumbu. Alfred memperoleh hak paten dan kepemilikan atas bahan-bahan tersebut satu tahun kemudian. Penemuannya tersebut dinamakan dinamit. Ia juga telah menemukan detonatornya. Penemuannya ini dimanfaatkan dapat mengurangi biaya dalam pekerjaan konstruksi seperti pembuatan terowongan atau saluran, menghancurkan bebatuan, membangun jembatan, dan lain-lain.

Permintaan akan dinamit dan detonatornya terus meningkat dalam bidang industri konstruksi. Oleh Karena itu, Alfred membangun pabrik dinamit di 90 tempat berbeda di 20 negara. Alfred tinggal di Paris dan menjadi pengusaha sukses. Ia terus bekerja secara intensif di Stockholm dan Karlskoga (Swedia), Hamburg (Jerman), Ardeer (Skotlandia), Paris dan Sevran (Prancis) dan Sam Remo (Italia). Ia pun meneliti mengenai pembuatan karet dan kulit sintetik dan kulit buatan.

Alfred wafat di Sam Remo, Italia pada tanggal 10 Desember 1896. Pada keinginan terakhir dan surat wasiatnya, ia menulis, beberapa bagian hartanya dihadiahkan kepada orang yang telah berjuang untuk kebaikan umat manusia dalam bidang fisika, kimia, fisiologi atau obat-obatan, literatur dan perdamaian. Keinginannya terkabul pada tahun 1901. Hadiah Nobel pertama diberikan dalam bidang fisika, kimia, fisiologi atau obat-obatan, dan literatur di Stockholm, Swedia dan di bidang perdamaian di Oslo, Norwegia. Ia wafat pada tahun 1896 dengan mematenkan 355 produk hasil penelitiannya.

Pesan dari sang penemu adalah untuk menggunakan temuannya demi kebaikan umat manusia, bukan sebaliknya. Semoga kita semakin arif dan bijaksana dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan.***

Sumber : Pikiran Rakyat (7 Oktober 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 17 Maret 2005

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI