fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Sabtu, 17 November 2018  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Bersama Dr.Ir. Khoirul Huda : Seputar Penggunaan Nuklir di Indonesia
isa

Doktor lulusan Kyoto University ini bercerita seputar penggunaan nuklir di Indonesia dan PLTN di Chernobyle, Rusia yang dampak radiasinya masih terasa sampai sekarang.

Doktor lulusan Departemen Teknik Nuklir Kyoto ini mengatakan bahwa peristiwa ledakan yang terjadi di pipa reaktor PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir) Rusia ada beberapa faktor. Salah satu yang terpenting saat itu reaktor selain untuk tenaga listrik juga dipakai untuk penelitian. Dan karena penelitiannya berhubungan dengan pompa (sementara sinyal pompa akan otomatis berjalan bila terjadi suatu apa-apa).Sinyal dimatikan, ketika penelitian berjalan. Dan ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, sinyal tidak berfungsi. Sementara reaktor nuklirnya pun tidak diberi kungkungan (atap yang menutupi) semisal di Amerika dan Jepang, akibatnya dampak nuklir lari ke mana-mana. Dan pada masa itu juga belum ada Badan Pengawas Nuklir seperti yang ada di Indonesia ini.

Di Indonesia sendiri sebenarnya Bapeten bergabung dengan BATAN, namun supaya bisa lebih indepnden dan cepat mengatasi keadaan, maka dibentuklah Bapeten yang bertugas di bidang sistem keselamatan bagi pengguna tenaga nuklir.

Sedang di Indonesia kita mungkin tidak terlalu khawatir dengan adanya reaktor nuklir karena sangat berbeda sekali dengan yang di Rusia, Kalau reaktor Atom untuk penelitian yang berbentuk seperti kolam ini cukup mempunyai suhu air 49 derajat celcius, maka untuk PLTN bisa sekitar 150-250 derajat celcisus.

Lulusan Teknik nuklir UGM yang kini bekerja di Bapaten (Badan Pegawas Tenaga Nuklir) yang berlokasi di Jl. M.H. Thamrin ini mengatakan saat ini penggunaan tenaga nuklir di Indonesia baru di kalangan industri dan rumah sakit. Di Industri misalnya : untuk mengukur ketebalan pelat baja (gauging) dan untuk pengawetan dalam industri bahan makanan, terutama yang mengandung air. Sedang di rumah sakit untuk terapi kedokteran, seperti : rontgen.

Menurutnya saat ini ada tiga lokasi reaktor nuklir di Indonesia, yaitu di Serpong, bandung dan Yogyakarta. Ketiganya adalah reaktor untuk penelitian. Meski begitu, selain untuk penelitian (pengembangan ilmu itu sendiri khususnya fisika inti), juga untuk aplikasi pembuatan radioaktif, uji material, dan lain-lain.

Nuklir yang asalnya dari Inti Uranium, khususnya untuk di Indonesia yang dipakai adalah U235 yang dibeli dari Amerika dan Jerman. Sebetulnya di Indonesia sendiri tambang Uranium ada, namun masih dalam proses penelitian. Bahkan ada investor yang sempat tertarik untuk membuat reaktor baru mengingat kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat untuk penggunaan di rumah-rumah sakit, namun sayang terjadi krisis dan sampai sekarang belum berlanjut.

Sumber : Berita IPTEK (20 Desember 2000)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 1 Januari 2005

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI