fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Selasa, 16 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Astronomi ITB, Bertahan di Tengah Desakan
Wis

DI KAMPUS Institut Teknologi Bandung yang megah dan luas di Jalan Ganesha, Bandung, Departemen Astronomi menyendiri di lantai empat Laboratorium Teknik III ITB. Jumlah mahasiswanya tidak lebih dari 94 orang. Tahun ini jumlah mahasiswa baru Astronomi baru mencapai 23 orang, jauh di bawah jumlah minimal mahasiswa di satu kelas di ITB.

Astronomi hampir mustahil dapat menjadi tambang emas penyokong keuangan sebuah universitas. Namun, Departemen Astronomi justru menjadi salah satu penopang utama nama harum Institut Teknologi Bandung (ITB). Tak diragukan lagi, Departemen Astronomi ITB merupakan salah satu pusat unggulan yang patut diandalkan. Tidak hanya karena ia mewarisi fasilitas Observatorium Bosscha yang berkelas dunia, tetapi juga karena kinerja staf pengajar yang cukup meyakinkan. Dari kualifikasi akademik tenaga pengajarnya, Departemen Astronomi di atas rata-rata departemen lainnya di lingkungan ITB. Sekitar 75 persen tenaga pengajarnya bergelar doktor serta sebagian besar dosennya aktif melakukan riset dan menulis di jurnal-jurnal internasional.

Ketua Departemen Astronomi ITB Dr Dhani Herdiwijaya mengakui bahwa departemen yang dipimpinnya tak bisa menghasilkan uang, tetapi bisa mengangkat nama dan citra ITB. Departemen Astronomi ITB menghasilkan banyak riset dan sering menyumbang publikasi internasional. Karena itu, menurut dia, dalam status baru ITB sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN), sewajarnya bila subsidi silang diberlakukan.

"Gagasan menggabungkan Departemen Astronomi dan Fisika sangat tergesa-gesa karena dua ilmu itu mempunyai ujung yang berbeda," kata Dhani.

Wakil Rektor ITB Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Adang Surahman menegaskan, saat ini tak ada pemikiran untuk meniadakan Departemen Astronomi. Dalam logika BHMN, kata Adang, berlaku kriteria profit dan benefit. Sejauh ada salah satu unsur di dalamnya, departemen itu bisa jalan terus. "Kredibilitas keilmuan Astronomi ITB luar biasa. Itu yang membuat ITB bangga. Secara tidak langsung ini juga memberikan profit pada ITB," kata Adang.

Hampir-hampir tak ada yang bisa "diobyekkan" di Departemen Astronomi. Di tengah langkanya dana riset untuk ilmu-ilmu murni, mencari dana riset pun tak mudah. Kerja sama riset dengan lembaga- lembaga internasional paling banter hanya menutupi biaya operasional. Situasi itu mengharuskan Departemen Astronomi membuka kunjungan masyarakat umum ke Observatorium Bosscha meskipun tempat itu sebenarnya lebih diperlukan untuk kepentingan riset. Dalam enam bulan terakhir, Bosscha telah menerima kunjungan lebih dari 60.000 orang dengan harga tiket masuk Rp 3.000 per orang. Pemasukan itu sebagian besar habis dialokasikan untuk pemeliharaan aset Bosscha.

Beruntung reputasi Astronomi ITB dengan Observatorium Bosscha-nya, Departemen Astronomi sering memperoleh hibah buku-buku dan langganan jurnal secara gratis dari lembaga-lembaga ataupun perorangan dari luar negeri. Dari sekitar 11 jurnal utama dalam bidang ilmu alam dan sains, Astronomi ITB bisa melanggan delapan di antaranya. Astronomi ITB menjalin kerja sama dengan Observatorium Gumma di Jepang untuk menggabungkan dan menggunakan teleskop Bosscha dan Gumma secara bersama-sama melalui koneksi internet. Saat ini Departemen Astronomi ITB mengembangkan prototipe teleskop robotik yang diperkirakan selesai dalam tiga tahun.

"Bila proyek itu selesai, kami bisa menggerakkan teropong di Observatorium Gumma dari sini dan mereka bisa menggerakkan teropong Bosscha dari sana," ujar Dhani.

Departemen Astronomi ITB juga menyediakan komputer dengan koneksi internet secara memadai untuk dosen maupun mahasiswanya. Satu komputer untuk tiap dosen, sedangkan untuk mahasiswa antara satu berbanding delapan. Sejumlah dosen memang tidak kebagian ruang kerja tersendiri sehingga harus berbagi dengan dosen lainnya.

Astronomi ITB tidak menjanjikan penghasilan serba berkecukupan bagi staf pengajarnya. Saat ini gaji doktor baru masih di bawah Rp 2 juta per bulan. Sebagai gantinya, Departemen Astronomi berusaha menumbuhkan transparansi dan keakraban di antara dosen dan karyawannya. Upaya itu ditempuh antara lain dengan santap siang bersama pada hari kerja. Dari kesederhanaan Departemen Astronomi itu, reputasi ITB dipertaruhkan.

Sumber : Kompas (21 September 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 22 September 2004

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI