fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Selasa, 16 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Profesor Yohanes Surya, Pembangkit Gairah Fisikawan Muda Indonesia
August Susanto

Danai Tim Olimpiade Fisika dari Royalti Buku

Kini, kerja "sunyi" Profesor Yohanes Surya PhD mulai diakui publik. Dari sentuhannya, bobot fisikawan muda Indonesia kini mulai diperhitungkan di arena Olimpiade Fisika Internasional. Dengan ketelatenan yang panjang, dia mengubah wajah fisika yang galak menjadi menyenangkan.

MENDAMPINGI dan mengasah otak-otak berbakat para fisikawan muda memang bukan aktivitas yang penuh sorak-sorai dukungan seperti AFI, Kontes Dangdut Indonesia, atau Indonesian Idol. Ketika berhasil pun, tak akan ada banjir penghargaan materi atau kontrak melimpah seperti juara kontes panggung para cantik dan ganteng itu.

Termasuk, ketika anak-anak muda Indonesia sukses mengikuti Olimpiade Fisika Internasional Ke-35 di Pohang, Juli lalu, sambutan publik tak gegap gempita. Pemerintah pun baru Jumat lalu menghargai prestasi internasional tersebut.

Padahal, Indonesia berhasil menempati peringkat ke-5 di antara 73 negara peserta. Dalam olimpiade fisika kali ini, Indonesia berhasil menyabet satu emas, satu perak, dan dua perunggu serta satu honorable mentioned (predikat terhormat). Itu jelas merupakan prestasi otak yang cukup membanggakan bagi Indonesia, negara berkembang yang masih bergulat dalam aneka problem dasariah manusia.

Prestasi terhormat tersebut tak lepas dari buah ketelatenan Profesor Yohanes Surya PhD. Dia adalah ketua pelaksana Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Guru besar fisikawan muda kelahiran Jakarta 41 tahun silam tersebut mampu memadukan ketelatenan mendampingi anak-anak muda berbakat besar dengan manajemen menuju prestasi.

Tak hanya 55 siswa dari kota besar yang didampinginya sejak 1993. Siswa jenius dari Papua sana, Septinus George Saa, siswa SMA Negeri 3 Waena, Jayapura, berhasil didorongnya mencapai prestasi menakjubkan. Putra Papua tersebut berhasil menjuarai The First Step to Nobel Prize in Physics pada tahun ini. Dia kemudian juga mendapatkan beasiswa dari Achmad Bakrie Award hingga lulus PhD.

Yohanes pun menemukan kegembiraan bersama anak-anak muda berotak istimewa tersebut. "Bagi saya, membina para calon peserta itu lebih banyak sukanya daripada dukanya," ungkap penerima CEBAF (Continuous Electron Beam Accelerator Facility) Award dari Lembaga Pusat Fisika Nuklir Amerika tersebut.

Saat koran ini menemuinya setelah dia mengajar di Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, lulusan FMIPA UI 1986 tersebut senang hati menceritakan pengalamannya selama 10 tahun terakhir yang selalu aktif mempersiapkan kontingen Indonesia dalam Olimpiade Fisika Internasional. Sebuah pekerjaan yang memang memerlukan dorongan kegembiraan. Sebab, bagi yang tidak telaten, hal itu bisa membosankan.

Yohanes mengaku, dirinya sangat menikmati pembinaan para calon peserta olimpiade tersebut. Menurut dia, setiap membina TOFI, dirinya selalu merasa bangga. "Bagaimana tidak bangga, saya berada di tengah-tengah anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan istimewa," ujar fisikawan nuklir yang didaulat memimpin The Mochtar Riady Center for Nanotechnology and Bioengineering di Karawaci, Tangerang, tersebut.

Padahal, tidak selalu mudah bergaul dan berkomunikasi dengan para remaja. Khususnya para calon peserta yang akan mengikuti olimpiade fisika internasional. Mereka pasti punya karakter berbeda-beda.

Karena itulah, Yohanes kadang-kadang berperan sebagai bapak yang sabar, sekaligus kawan berdebat bagi anggota TOFI. Dengan cara begitu, semangat para peserta TOFI yang menjalani pembinaan dalam karantina di asrama selama enam bulan bisa terus dinyalakan.

Yohanes tidak hanya memberikan nasihat dalam bidang fisika. Tidak jarang pula dia memberikan nasihat soal kehidupan kepada anak-anak anggota TOFI. Dia harus siap ketika ada yang curhat, misalnya.

Ada keluhan yang rutin disampaikan anak-anak asuhnya dalam karantina. Selama membina TOFI, Yohanes selalu mendapatkan omelan para siswanya. "Dari tahun ke tahun saya selalu dikomplain anak-anak karena selalu memberikan banyak tugas," katanya, menahan geli. Dia pun berusaha menjelaskannya dengan sabar.

Tidak hanya menyiapkan fisikawan muda beradu cemerlang, Yohanes juga tercatat sebagai salah satu donatur tetap program pembinaan olimpiade fisika internasional. Dia merelakan royalti buku yang ditulisnya untuk disumbangkan pada program pembinaan olimpiade fisika itu. Yohanes memang menulis banyak buku fisika dengan gaya ringan, ramah, dan jenaka. "Ini hanya melengkapi dana operasional yang berasal dari Depdiknas," ungkap dekan fakultas sains dan matematika UPH itu.

Kegairahan Yohanes di bidang pembinaan fisika itu ternyata berjejak panjang. Saat berkuliah di AS dulu, dia aktif menghimpun dana bagi para pelajar SMA yang ingin berlomba. "Dulu, saya juga aktif mengimpun dana dari teman-teman Indonesia yang berkuliah di AS (Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS, Permias)," jelas lulusan PhD dengan predikat summa cum laude dari College of William and Mary, Virginia, itu.

Demikian pula ketika dirinya kembali ke Indonesia pada 1995. Selain tercatat sebagai pembina, Yohanes juga aktif mengusahakan sponsor bagi TOFI. "Saya dulu bahkan harus keluar masuk kantor perusahaan swasta untuk mendapatkan sponsor," kisahnya sambil menerawang.

Lantas, apa sebenarnya obsesi Yohanes di balik jerih payahnya membina TOFI? Sambil melepas kacamatanya, dia mengungkapkan bahwa sejak dulu, dirinya memimpikan anak-anak Indonesia memiliki kemampuan tinggi dalam bidang fisika. Dengan begitu, ungkapnya, pelajar Indonesia diperhitungkan pada tingkat internasional.

Yohanes juga mengungkapkan, dalam sistem pendidikan saat ini, obsesinya itu sangat sulit diwujudkan. Padahal, kata dia, dua persen pelajar Indonesia memiliki bakat sebagai ilmuwan jenius. "Sayang sekali. Padahal, kita memiliki potensi yang besar," ungkap guru besar yang dikukuhkan Maret lalu itu.

Selanjutnya, dia mengkritik konsep pengajaran fisika di Indonesia. "Seharusnya, guru-guru lebih menekankan pada logika dan penalaran bidang fisika. Jangan hanya menjejali murid dengan rumus-rumus saja," jelas suami dari Christina, ibu dari tiga putrinya itu.

Akibatnya, kata dia, saat ini murid-murid Indonesia hanya hafal soal berbagai rumus fisika tanpa mengetahui penerapannya. Inilah, kata Yohanes, yang mengakibatkan ilmu fisika kerap dianggap momok yang menakutkan bagi pelajar Indonesia, yang termasuk merepotkan Yohanes untuk mengubah citra seram itu.

Setelah citra seram itu berubah manis, dia punya mimpi panjang: akan ada pemenang Nobel Fisika dari Indonesia pada 2020.

Sumber : Jawa Pos (17 Agustus 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 30 Agustus 2004

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI