fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Selasa, 16 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Yudistira Virgus : Tidak Tergiur Beasiswa ke Luar Negeri
Redaksi Republika

Kesempatan memperoleh beasiswa belajar di perguruan tinggi terkemuka di mana pun di dunia, tidak membuat Yudistira Virgus tergiur. Dia lebih memilih menimba ilmu di dalam negeri, belajar di Institut Teknologi Bandung (ITB), perguruan tinggi yang sudah menjadi pilihannya. "Saya yakin, inilah jalannya. Saya tidak akan menerima beasiswa lain," dia memberi alasan. Peluang beasiswa ke luar negeri terbuka setelah lelaki muda berkaca mata ini meraih medali emas pada olimpiade fisika internasional di Pohang, Korea Selatan yang berlangsung pada 17 - 23 Juli 2004. Peluang itu dijanjikan oleh Sampoerna Foundation.

Organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan ini bersedia menanggung seluruh biaya selama maksimal 4 tahun bagi dua siswa peraih medali emas olimpiade sains internasional. Kesempatan ini diambil Yudis karena sudah lebih dulu diterima di ITB setelah melalui proses seleksi. Sebagai siswa peraih medali emas pada olimpiade fisika tingkat Asia tahun 2003 dan meraih medali perunggu pada olimpiade fisika internasional tahun yang sama, dia diberikan keringanan beban biaya tahun pertama di perguruan tinggi ini. Itu, antara lain, yang membuat ia enggan berpaling.

Dia bilang, "Kalau saya hianati ITB, bukan tidak mungkin suatu saat bisa juga saya menghianati Sampoerna Foundation." Sejak 2003, lelaki kelahiran Palembang, 28 Agustus 1985 yang akrab dipanggil Yudis ini memang sudah menjadi Tim Olimpiade Fisika Indonesia untuk mengikuti olimpiade fisika internasional. Kala itu, siswa SMA Xaverius Palembang ini meraih medali emas pada Asian Physics Olimpiad (APhO) di Thailand dan medali perunggu pada International Physics Olimpiad (IPhO) di Taiwan. Kemampuannya pada pelajaran fisika kembali ditunjukkan dengan mempersembahkan medali emas pada IPhO 2004 di Korea Selatan.

Tidak tanggung-tanggung, dalam olimpiade yang diikuti 332 siswa dari 73 negara tersebut, Yudis memperoleh nilai 44,8, hanya terpaut 2,9 dari Alexander Mikhalyce dari Belarusia yang memperoleh nilai tertinggi dari seluruh peserta. Yudis menempati peringkat keenam berdasarkan nilai tertinggi yang diraih peserta, di atas peserta dari Jerman, Amerika, Rusia, atau Polandia. Bagi anak kedua pasangan Edyanto dan Elvy Novianto ini, pelajaran fisika adalah suatu yang mengasyikkan dan menantang. Itu karena fisika, disebutnya, merupakan salah satu ilmu dasar paling penting dari seluruh cabang ilmu. "Saya merasa tertantang untuk belajar fisika," tuturnya, pada sebuah kesempatan. "Saya juga pernah belajar filsafat yang menjelaskan bahwa fisika itu juga mempelajari ilmu alam.

Alam itu dikenal indah dan saya ingin menikmati alam yang indah ini lewat fisika." Yudis mengaku mulai mencintai pelajaran fisika sejak duduk di bangku kelas I SMA. Saat itu dia belajar Mekanika Hukum Newton. Waktu itu, Hukum Newton hanya mengeluarkan tiga rumus, tapi aplikasinya bermacam-macam sampai seluruh soal. Hanya dengan berpatokan pada satu hal, bisa mengerjakan banyak hal. "Pokoknya asyik banget," ujarnya. Pelajaran yang mengasyikan itu membuat ia makin tekun mendalami fisika. Menempati peringkat pertama pelajaran fisika di sekolahnya, saat masih duduk di kelas 1 dia sudah mewakili SMA Xaverius 1 Palembang untuk mengikuti lomba fisika antarsiswa di kota itu. Gagal lolos di ajang yang sama tingkat provinsi, justru memacunya untuk makin mendalami fisika.

Dia, misalnya, kerap belajar sendiri di rumah. Hanya berpandu pada satu diktat mekanika, Yudis latihan sendiri sehingga semua soal benar-benar dia pahami. Kali berikut, dia sudah menempati peringkat pertama dalam kompetisi antarsiswa se-kota Palembang dan antarsiswa se-provinsi Sumatra Selatan. Ini yang mengantarnya menjadi salah seorang siswa yang dipersiapkan menjadi Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Setelah mendapat pembinaan di pemusatan latihan, kemampuannya makin terasah. Yudis menyadari, lingkungan keluarga juga menjadi faktor pendorong sehingga ia bisa berprestasi. Dia merasakan, kedua orang tuanya selalu memberi dukungan dan tidak pernah memaksakan kehendak.

Sikap ini dirasakan memberi motivasi yang kuat dan mengantarkan dirinya menjadi pribadi yang matang. Pada sekali tempo, Yudis mengungkapkan, "Orang tua saya selalu bilang, kalah menang adalah hal yang pasti terjadi. Kalau menang disyukuri, kalau kalah diterima, dikoreksi untuk tahun berikutnya sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama." Itu benar-benar dia buktikan. Gagal meraih medali emas olimpiade fisika internasional 2003, menjadi pemicu dan bahan pelajaran untuk mengikuti ajang serupa tahun berikutnya. Hasilnya, itu tadi, Yudistira meraih medali emas pada olimpiade fisika internasional 2004. Keberhasilan ini, sesungguhnya, membuka peluang baginya untuk menimba ilmu di perguruan tinggi terkemuka di dunia melalui Sampoerna Foundation tapi tawaran itu tidak ia terima. Yudis lebih memilih kuliah di ITB, perguruan tinggi yang sudah menerimanya lebih dulu. burhanuddin bella .

Sumber : Republika (30 Juli 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 4 Agustus 2004

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI