fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Jumat, 19 Agustus 2022  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Mereka Menjadi Bintang Tanpa Fantasi
Nasrullah Nara

BEROTAK encer, berwawasan luas, punya banyak kawan gaul dari dalam dan luar negeri, dan akhirnya tersohor di kolong jagat adalah impian setiap anak. Lebih-lebih bagi anak yang tengah menanjak remaja.

Maka, sungguh tepat pemilihan kata "fantasi" untuk penyebutan nama program acara sebuah stasiun televisi swasta yang belakangan ini sedang populer di kalangan remaja. "Akademi Fantasi" itu benar-benar telah menebar mimpi. Setidaknya, makin banyak remaja yang bermimpi jadi orang terkenal lewat layar kaca.

Hanya saja, tidak begitu banyak yang tahu bahwa selain "kompetisi" (benarkah di sana ada kompetisi?) mencari bintang-bintang tarik suara lewat layar kaca, sesungguhnya ada kompetisi yang sesungguhnya. Kompetisi tersebut adalah olimpiade sains yang belakangan ini makin gencar dilaksanakan, mulai dari provinsi, nasional hingga internasional. Selain ajang adu nalar dan kecerdasan, olimpiade ini sudah pasti pula menjadi ajang gaul bagi para siswa SMP-SMA yang sedang tumbuh dan mekar sebagai remaja.

Ujung dari olimpiade sains adalah terpilihnya siswa potensial untuk dibina menjadi tim olimpiade tingkat internasional. Yang terbaik dari olimpiade nasional berpeluang mewakili bangsa di kancah internasional.

Belum berangkat ke kancah internasional saja, diri remaja tersebut sudah tercitrakan sebagai "bintang sains" di negeri ini. Apalagi kalau nantinya sempat mempersembahkan medali untuk Ibu Pertiwi. Pastilah pujian, sanjungan, dan hadiah tak ternilai harganya mengalir kepada sang bintang. Fasilitas tanpa tes dan bebas uang kuliah di perguruan tinggi terkemuka bagi sang bintang sains, mungkin jauh lebih tinggi nilainya dibanding hadiah sponsorship buat sang bintang layar kaca.

Fasilitas semacam itu tentulah bukan diperoleh dengan instan. Itu harus ditebus dengan kerja keras, mulai dari tahapan seleksi tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Sebanyak 30 pelajar terbaik untuk satu bidang, diseleksi hingga menciut menjadi lima orang. Lima orang itulah yang berhak dikirim ke olimpiade internasional.

PRESTASI yang diukir para remaja Indonesia dalam olimpiade sains internasional patut dibanggakan. Contohnya, para siswa SMA yang dalam bulan Juli ini mewakili Indonesia dalam olimpiade bidang ilmu Fisika di Pohang (Korea); bidang Biologi di Brisbane (Australia); bidang Matematika di Athena (Yunani); dan bidang Kimia di Kiel (Jerman).

Tim Olimpiade Fisika membawa pulang satu medali emas atas nama Yudistira Virgus (SMA Xaverius 1 Palembang), satu perak buat Edbert Jarvis Sie (SMA Kristen I BPK Penabur Jakarta), dua perunggu atas nama Ardiansyah (SMA Plus Pekanbaru Riau), dan Andika Putra SMA Sutomo I Medan). Honourable mention (HM, setingkat di bawah perunggu) diraih Ali Sucipto (SMA Xaverius 1 Palembang).

Tim Olimpiade Biologi di Australia meraih tiga perunggu. Mereka adalah Budi Christanto (SMA Negeri 2 Kediri), Mulyono (SMA Negeri 2 Pare, Kediri), dan Komang Darmi Astini (SMA Negeri 1 Singaraja, Bali).

Tim Olimpiade Matematika di Athena, Yunani, juga berprestasi dengan meraih satu perunggu dan tiga HM. Perunggu diraih Hendra Suratno (SMAK Karunia Jakarta), sedangkan HM diraih oleh Ignatius Ivan Janatra, Wahyu Perdana Yudistiawan (SMA Kristen I BPK Penabur Jakarta) dan Andre Yohanes Wibisono (SMAK St Louis I Surabaya).

Terakhir, pelajar yang dikirim ke Olimpiade Kimia Internasional di Jerman juga tidak berjuang sia-sia. Tiga dari mereka berhasil meraih medali perunggu, yakni Albert (SMA Negeri 1 Bogor), Jenice Alethea Deceline (SMAK Karunia Jakarta), dan Lisendra M (SMA Negeri 3 Yogyakarta).

Para remaja tersebut dengan sendirinya telah mengharumkan nama bangsa dan telah menunjukkan potensi dirinya untuk bersaing secara internasional. Bahwa mereka tidak semuanya sukses merebut medali emas, tetaplah ada kebanggaan. Ingat, mereka sudah bersaing ketat dengan pelajar dari negara maju dalam pengembangan sains, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Rusia, Polandia, dan Hongaria.

"Kita berharap kesuksesan tim terdahulu diikuti oleh tim yang segera dikirim ke Olimpiade Astronomi di Ukraina dan Olimpiade Informatika di Yunani, September nanti," ujar Suharlan, Koordinator Olimpiade Depdiknas.

Olimpiade sains mungkin layak disebut sebagai ajang alternatif untuk melejitkan bintang-bintang dan idola bagi kalangan remaja. Depdiknas sudah mengagendakannya secara sistematis.

Menurut Maria Widiani, staf Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 23-27 Agustus nanti, untuk kedua kalinya digelar Olimpiade Sains di Pekanbaru, Riau. Seperti Olimpiade Sains 2003 di Balikpapan, kali ini pesertanya pun lebih dari 1.000 siswa SMP dan SMA dari seluruh provinsi. Sebagai ajang kompetisi tingkat nasional, tentu saja olimpiade tersebut bermisi mencari calon-calon bintang yang akan dibina untuk memperkuat Indonesia pada olimpiade tingkat Asia dan internasional tahun 2005.

Menggapai bintang tak harus lewat fantasi. Melalui proses belajar dan kerja keras, malah lebih membanggakan....

Sumber : Kompas (31 Juli 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 4 Agustus 2004

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI